Kita Nggak Butuh Itu yang Namanya Open Source!

Sep 14, 2010

Kita Nggak Butuh Itu yang Namanya Open Source! Ketika ditanyakan kepada banyak orang mengapa memilih Linux atau aplikasi berbasis Open Source, sebagian besar dengan kompak menjawab karena sifatnya yang Open. Kelompok kecil yang lain akan menyebut karena suka, dan sebagian kecil lainnya lagi akan mengatakan karena itu berarti mereka tidak perlu menggunakan bajakan. Well said!

Pertanyaannya kemudian, memangnya ada apa dengan aplikasi yang sifatnya open? Sebagian, akan menjawab: agar aku bisa memodifikasi sesuai keinginan dan jika ada lubang keamanan aku bisa memperbaikinya sendiri sesuai kebutuhanku. Sempurna! Apakah di dunia nyata begitu? Tidak!

2 hingga 3 tahun belakangan Open Source (terutama Linux) memang menjadi idola. Dan mayoritas pengguna adalah end-user karena misi menyebarkan virus Open Source belakangan ini adalah untuk end-user. Yang dibutuhkan oleh end-user sudah ada semua di sana. Namun, alasan penggunaan open source software (OSS) oleh end-user karena sifatnya yang open ini terasa tidak masuk akal. Faktanya, ketika digunakan OSS hanya digunakan dan tidak benar-benar dioptimalkan sesuai dengan sifatnya yang terbuka. Pengembangan OSS lebih lanjut hanya terjadi pada sebagian kecil komunitas dan perusahaan-perusahaan besar yang mau melakukannya.

Untungnya, pengembang OSS berbasis komputer, baik notebook maupun PC, tidak sejahat pengembang (dalam hal ini carriers) Android. OSS di komputer biasanya sudah cukup sempurna untuk end-user dan jarang membuat jengkel. Sifat terbuka pada OSS untuk komputer membuat momok akan OSS di kalangan masyarakat justru berkurang.

Kejahatan pada sifat terbuka OSS justru terjadi pada Android. Karena sifatnya yang terbuka, carriers bebas untuk melakukan modifikasi sesuai dengan keinginan mereka. Parahnya, mereka membuat Android menjadi sistem operasi smartphone yang cantik namun sekaligus membuat berang. Ada kasus apps yang tidak bisa diinstall. Ada kasus apps bawaan yang jelek dan nggak penting. Ada pula kasus fitur hebat Android yang dimatikan. Karena hal inilah sifat terbuka-nya Android akhirnya malah membuat berang banyak orang –sebagian memaki. Keterbukaan yang disediakan Google atas Android ini disalahgunakan oleh para carriers demi meraup untung tanpa memperhatikan konsumen.

Jadi, kalau anda seorang end-user sifat terbuka atau tidak rasanya nggak penting. Kalau anda seorang developer, sifat terbuka ini penting. Para end-user bisa jadi karena memang suka atau bisa jadi karena alasan nggak mau rugi. :)

Nah, jika ada diantara anda yang ingin memaki soal Android, memakilah pada pengembang lanjutan (carriers atau provider hardware). Besok, jika anda ingin memaki Ubuntu, memakilah pada wajahnya Canonical. Jika bermaksud memaki Fedora, memakilah pada wajah.. Red Hat? Linux maupun Google nggak salah soal Android maupun distro-distro itu. :) (tpos/sm/1009)