Menengok Masa Depan Apple Inc.

Jul 14, 2010

Apple Inc. sedang berjaya. Setidaknya itu nampak dari pendapatan tahun 2009 yang tercatat sebesar $42.91 milliar. Setelah merilis iPad, Juni kemarin mereka merilis iPhone 4. Walau belakangan banyak masalah terjadi pada iPhone 4, namun antusiasme masyarakat untuk memiliki barang tersebut tak padam. Selain iPhone 4, tentu saja iPad masih menjadi idola. iPhone dan iPad adalah penyokong terbesar penjualan produk-produk Apple.

Bagaimana nasib Apple tanpa Steve Jobs?

Jika diminta membayangkan kata Apple Inc. dalam pikiran, (si)apakah yang terlintas? Ya, Steve Jobs. Si bocah nakal ini tetap nakal hingga sekarang dan Jobs tetaplah seorang yang urakan dan ‘sadis’. Memaki karyawan baginya adalah hal biasa. Namun, siapa yang tidak merengek untuk memiliki produk yang dia jual? Semua orang ingin memiliki produk karya CEO yang sempat diberitakan mati oleh Bloomberg pada tahun 2008 ini.

Karena hasil pemikiran dan karya Jobs inilah Microsoft seolah terlempar dari pasar. Microsoft Kin akhirnya diputuskan ‘mati’ dan produk terbaru mereka, Windows 7, tak lagi menjadi idola. Jika Apple sedang berjaya, Microsoft seakan tenggelam.

Steve Jobs memang telah menjadi satu dengan Apple, dan begitu juga sebaliknya. Jiwa Steve Jobs adalah Apple dan ruh Apple adalah Steve Jobs. Namun pertanyaannya, sampai kapan? Bukankah Jobs juga bisa tua?!

Steve Jobs dilahirkan pada 24 Februari 1955. Di umurnya yang ke-55 ini dia masih bertahan sebagai CEO, orang pertama di Apple. Sebenarnya dia orang bernomor #0 di Apple karena nomor satu adalah Steve Wozniak (co-founder Apple), saat Steve masih di Apple. Meskipun di usianya yang sekarang Jobs masih terbilang sehat, tentu saja ini tidak bisa berlanjut. Mau tidak mau, Jobs harus menyerahkan kepemimpinannya pada orang lain agar dia bisa beristirahat. Pertanyannya, siapa pengganti Jobs?

Dalam catatan CEO Apple ada nama-nama seperti Timothy Cook, Michael Spindler, Gill Amelio dan John Sculley (mantan CEO PepsiCo). Sementara di jajaran eksekutif ada nama seperti Jonathan Ive, Philip W. Schiller, Scott Forstall dan tentu saja Timothy Cook.

Dari kiprah para eksekutif, hanya Cook yang tercatat dua kali pernah menggantikan Jobs sebagai CEO, yaitu saat recovery pasca operasi kanker pankreas dan yang kedua saat transplantasi hati. Selain Cook, adalah Philip W. Schiller yang beberapa kali menggantikan Jobs untuk memberikan presentasi, yaitu pada IDG’s Macworld 2009 dan WWDC 2009.

Orang ketiga dari jajaran eksekutif yang cukup bisa dijagokan adalah Jonatahan Ive, Senior VP untuk Industrial Design. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah iPod dan iPhone. Pada tahun 2006, penulis MacUser, Dan Moren, bahkan menyebut Ive adalah orang yang paling pantas menjadi CEO Apple jika Jobs lengser.

Selain ketiga orang tersebut, masih ada nama Bertrand Serlet dan Scott Forstall (membawahi development iOS). Namun, tidak ada yang pasti siapa yang bisa menggantikan Jobs jika dia lengser kelak. Model urakan dan cara berpikir Jobs lah yang menjadikan Apple terus membesar. Dan orang-orang yang disebut di atas tidak sepenuhnya bisa memimpin dengan model seperti Jobs.

Nasib Apple ke depan ada di tangan pengganti Jobs. Jika pengganti Jobs tidak bisa membuat gebrakan sehebat Jobs, maka bisa jadi Apple akan dilibas kembali oleh Microsoft.

Model kepemimpinan Bill Gates yang pensiun pada usia 62 tahun telah diserahkan dengan baik kepada orang yang tepat, Steve Ballmer. Catatan perjalanan karir Ballmer terbilang bagus dan gaya kepemimpinan Ballmer yang berani bisa membawa Microsoft kembali berjaya. (tpos/sm/op)