Kita Semua adalah Dokter…

Aug 19, 2007

Siang itu Dinda baru saja pulang dari sekolah. Sesampainya di rumah ia menuju kamar dan berganti pakaian. Namun, ada yang aneh dengan rumahnya. Tak dilihatnya adik semata wayangnya yang biasanya menyambutnya di ruang tamu. Kemana dia? Akhirnya dia memutuskan untuk menuju kamar adiknya yang tepat berada di sebelah kamarnya. Barangkali dia tidur, pikirnya. Dibukanya pintu dengan perlahan. Dilihatnya Budi, adik semata wayangnya, tidur berselimut dengan mata terbuka.

“Kamu kenapa Bud? Sakit?” tanyanya.

Budi tak menjawab, namun jelas terlihat di matanya kalau dia sakit.

Dinda mencoba menyentuh dahi kening adiknya. Panas.

“Kamu demam? Aku kompres ya” bergegas dia menuju dapur untuk mengambil air dingin di lemari es.

Manusia diciptakan untuk merasakan kepedihan akan sakit yang harus ditanggung, entah penyakit mental atau penyakit fisik. Anda bisa setuju dan bisa saja tidak. Pernahkah anda berpikir bahwa setiap orang dilahirkan pasti akan merasakan sakit? Sakit fisik dan mental? Pernahkah anda berpikir bahwa setiap manusia (normal) yang lahir mempunyai sifat buruk? Saya tidak berharap anda membicarakan seorang nabi yang memang sudah terjamin akan setiap diri dan tingkah lakunya.

Begitulah. Anda tentunya tahu, bagaimana saat anda merasakan sakit kepala yang begitu amat menyakitkan ketika anda dihadapkan pada beberapa masalah. Anda juga masih ingat bukan, bagaimana ayah, ibu, istri (suami), anak, bibi, cucu atau siapapun kerabat anda berada di rumah sakit. Bagaimana si kerabat anda mengeluh apa yang dirasakannya. Sayapun yakin kalau anda masih mengingat bagaimana keadaan seorang cacat yang hanya memiliki satu kaki, atau mungkin hanya satu tangan, atau bahkan tidak sama sekali yang anda lihat di pinggir jalan, atau di layar televisi pada berita-berita pagi. Anda juga pasti masih ingat, bagaimana anda diputuskan oleh kekasih anda? Betapa hati anda merasa teriris-iris seperti daging dicincang. Anda merasa seolah-olah tidak ingin meneruskan hidup anda. Anda juga masih ingat bukan, saat anda ditolak oleh si dia. Padahal si dia adalah orang yang menurut anda akan pas dengan anda dan menjadi penyempurna hidup anda.

Saya yakin anda saat itu membutuhkan seorang dokter. Ya dokter. Kalau anda sedang sakit seperti demam dan sakit kepala mungkin dengan mudah anda akan menemukannnya di rumah sakit atau klinik. Anda tentunya bertanya ‘bagaimana mungkin saya membutuhkan dokter saat saya diputuskan oleh kekasih saya?’. Tahukah anda definisi seorang dokter?

Dokter secara umum adalah orang yang membantu orang lain untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Dari definisi tersebut, maka jelaslah bahwa dokter bukan saja seorang berjas putih hingga lutut dan membawa stetoskop. Memang, dokter bisa siapa saja. Bisa saya, anda, orang tua anda, kekasih anda, teman anda, adik anda, istri (suami) anda, bahkan mungkin orang yang baru anda kenal 1 menit yang lalu. Kita semua adalah dokter. Kita semua adalah pasien yang membutuhkan dokter saat kita merasakan sakit dan kita semua adalah dokter karena kita semua bisa membantu orang lain dengan membantunya untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Pernahkah anda mengompres adik anda saat dia demam seperti Dinda? Kalau jawaban anda adalah iya, maka anda telah membuktikan kalau anda adalah dokter. Pernahkah anda mendengarkan keluh kesah teman, atau sahabat anda yang baru saja ditimpa musibah, kemudian anda mencoba membuatnya tersenyum dengan sedikit humor? Saya yakin anda pernah melakukannya, walau mungkin hanya sekedar mendengarkan. Itu adalah salah satu bukti bahwa anda adalah seorang dokter. Dan masih banyak lagi cerita yang membuktikan kalau setiap kita adalah dokter.

Kita semua adalah dokter. Karena dokter bukan seorang berjas putih panjang dan dilehernya tergantung stetoskop. Dokter juga bukan seorang yang disambut ‘silakan duduk dr. Fadli’ atau ‘selamat datang dr. Hari’. Dokter adalah setiap orang yang membantu orang lain untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Di akhir tulisan saya, saya selalu mengingatkan pada anda untuk tidak mudah percaya pada apa yang saya tuliskan sebelum anda benar-benar membuktikannya. Kalau anda belum menemukan buktinya, simpanlah dan jadikanlah ini salah satu tambahan wawasan anda. The point is : jangan mudah percaya pada apa yang anda baca, apa yang anda dengar, dan pada apa yang anda lihat.

Thanks to : ‘Hunter Patch Adams’ – the great doctor I have ever known.