Bike to Work: Jalur Cepat Saja!

Jan 27, 2012

Sejak akhir 2011 lalu saya mulai mengarungi jalanan menuju dan pulang kantor menggunakan sepeda. Ada beberapa pertimbangan mengapa akhirnya saya memutuskan membeli sepeda putih ini. Sepeda ini pada akhirnya saya gunakan untuk keperluan sehari-hari, ke kantor, hingga bersenang-senang di Car-free Day sepanjang Sudirman - Thamrin.

Bersepeda ke Kantor

Kemarin, 25 Januari 2012 lalu, ketika berangkat ke kantor saya melihat Jalan Rasuna Said macet sekali. Mobil bergerak pelan sekali dan ini di luar hari-hari biasa. Biasanya, saya selalu mengambil jalur lambat. Saya masih baru soal bersepeda di ibukota ini dan saya juga selalu bersepeda sendiri. Dengan kemacetan yang luar biasa sepanjang Rasuna Said, maka saya putuskan untuk mengambil jalur cepat. Hal ini juga dipicu oleh sekelebat seorang bapak-bapak pesepada yang mengambil jalur cepat.

Saya pun mengayuh dengan penuh semangat. Tas di pungung, topi menempel di kepala dan masker membungkam hidung dan mulut untuk menghalau udara kotor. Satu mobil terlewati. Dua. Tiga. Hingga tak terhitung lagi jumlah mobil yang saya lewati. Sementara mobil-mobil itu masih bergerak 2-5 meter, saya telah bergerak 100 meter. Hingga akhirnya saya kembali ke jalur lambat sebelum akhirnya tiba di kantor.

Dalam momen mengayuh dan melewati mobil-mobil itu, sekonyong-konyong saya merasa gembira dan senang. Entah karena apa. Tapi saya rasa ini karena jalur cepat memang jauh lebih bersahabat untuk pesepeda dari jalur lambat. Saya biasanya harus beradu dengan sepeda motor dan mobil yang tak karuan ruwetnya, tanpa lupa pada jalanan yang berantakan. Tapi di jalur cepat ini jalanan relatif tanpa lubang atau tambalan yang mengganggu. Di jalur cepat ini pula rival saya, sepeda motor, tidak ada. Selain itu, saya juga ‘memiliki’ wilayah sendiri yang sangat jarang sekali disentuh oleh mobil.

Jalur Cepat, Jakarta

Sejak itu, saya memutuskan untuk mengambil jalut cepat setiap bersepeda ke kantor ataupun pulangnya.

Ada kalanya, jika lalu-lintas cukup sepi, menggunakan jalur cepat juga membuat saya was-was. Was-was dengan mobil yang memang berjalan cepat di jalur yang benar. Jika sudah begini, maka saya akan berusaha untuk tetap di pinggir dan memperhatikan lebih seksama.

Bersepeda di jalur cepat mungkin bukan sesuatu yang efektif dan efisien, tapi hal ini berguna buat saya. Dan tentu saja saya merasa nyaman. Jadi, kalau mengeluhkan kondisi jalanan dan pesepeda motor yang tak tahu tata krama saat bersepeda, cobalah jalur cepat. :)

thumbnail: guardian.co.uk jalur cepat, jakarta: unep.org