Android, Reviews

[Preview] Samsung Galaxy Ace 3: Sebuah Pilihan

Saya hampir selalu bingung jika ditanya rekomendasi smartphone Android untuk kebutuhan biasa. Bukan lantaran tidak tahu, tetapi lebih kepada bingung dengan sekian banyak pilihan ditambah informasi yang tidak spesifik. Hal ini terus terjadi, hingga detik ini. Hingga hadirnya Samsung Galaxy Ace 3.

Belakangan ini spesifikasi teknis yang tinggi ternyata mempengaruhi ukuran layar. Seolah-olah ukuran layar memang memiliki kaitan dengan spesifikasi seperti memory atau processor. Jika memory dan processor tinggi, maka ukuran layar pun ikut membesar dan menghadirkan kebingungan mana yang telepon genggam, mana yang tablet.

Samsung Galaxy Ace 3

Ace 3 ternyata tidak demikian. Dengan spesifikasi teknis yang cukup mumpuni, Samsung berhasil mempertahankan ukuran layar sebesar 4 inchi. Sebuah ukuran yang harus diakui sangat ideal untuk tangan orang Indonesia. Menggenggam handphone lebih dari 4 inchi memang bukanlah perkara sulit jika sudah terbiasa. Tapi harus saya akui bahwa 4inchi adalah ukuran yang pas dan sesuai. Terlebih jika saya harus menggunakan tangan kiri untuk menggunakannya.

Pas di tangan

Sebenarnya, ketika ditanya penggunaan handphone sebagian besar mengakui bahwa kebutuhan primernya adalah bersosial ria, bermain game dan penggunaan sebagian kecil tools standar seperti kompas dan GPS. Sayangnya, sebagian apps akhir-akhir ini memiliki ukuran yang cukup besar dan juga membutuhkan banyak memori karena faktor desain dan rendering layout atau semacamnya.

Akibatnya, handphone mid-range pun harus menyesuaikan diri dan bersedia memenuhi kebutuhan ini. Menyadari hal ini Samsung membekali Ace 3 dengan processor level cukup tinggi yaitu ARM Cortex-A9 dengan dual-core, 1200MHz. Karena smartphone harus mampu melakukan banyak hal sekali waktu, Samsung pun tak lupa membenamkan memory sebesar 1GB.

Dengan daleman di atas, aktivitas apapun yang saya lakukan menggunakan Ace 3 ini berjalan mulus tanpa kendala. Sebenarnya, bukan hanya mulus, tetapi cepat. Apa saja yang saya lakukan? Well, saya bukan gamer yang terbiasa menggunakan handphone. Saya terbiasa memainkan game kelas berat di PC. So, there’s that.

Tapi, saya berani bertaruh bahwa Ace 3 mampu menjalankan game semacam Candy Crush, Angry Birds, atau Where’s My Water dengan baik sekali.

Jaman sekarang ini, memiliki kamera adalah sebuah kewajiban. Kewajiban bagi semua smartphone pula untuk memiliki kamera dengan fitur yang lebih baik dari yang lain. Meskipun sebenarnya ukuran pixel kamera Ace 3 bukan kelas atas, tetapi fitur yang dimilikinya ternyata hampir sama dengan Samsung Galaxy S4.

Kameranya bagus, jadi kelihatan jeleknya laptop

Betul, kameranya memang hanya 5MP, yang menurut saya rendah. Tetapi fitur aplikasi kameranya bukan kelas rendahan. Dari continuous shot, best photo, hingga sound & shot dimana sebuah foto bisa memiliki suara. Hal lain yang bisa saya banggakan dari Ace 3 adalah kualitas video. Meski, kembali lagi soal pixel, besar kamera hanya 5MP tetapi ia mampu mengambil video dengan ukuran 720p. Sebuah kualitas video yang cukup untuk kebutuhan upload ke sosial media atau kebutuhan pribadi seperti acara keluarga atau berwisata. Oya, meski saya tidak menemukan informasi seputar stabilizer, tetapi dari hasil percobaan kamera Ace 3 berhasil mengambil video dengan cukup baik meski perekaman dilakukan dengan bergerak.

Dengan kamera yang demikian ini, bercerita terasa jadi lebih seru. Meski saya masih awam sekali soal video, tapi saya berharap dengan video di Ace 3 ini nanti bisa tenar juga di Vine. #uhuk

Ada banyak lagi yang bisa saya banggakan dari hape mungil ini. Ada S-Translator, S-Voice, S-Travel dan banyak lagi. Kalau kata anak-anak, kecil-kecil cabe rawit. Meski kecil, fitur dan kemampuannya tidak bisa diremehkan. Untuk lebih lengkap dan detailnya, silakan ke sini deh: http://bit.ly/1as7zH2

Eh, iya. Yang paling saya suka adalah fitur S-Voice. Kenapa? Karena saya bisa unlock hape ini cukup dengan bilang, buka. Atau unlock. Atau apa saja. Terserah saya. :D

Sekarang, jika ada yang bertanya ke saya smartphone Android yang enak digunakan sehari-hari seharga 2jutaan saya sudah punya jawabannya: Samsung Galaxy Ace 3. Akhirnya saya tidak pusing lagi. Whew.

Eh, memangnya berapa harganya? IDR 2.199k. Affordable. Powerful. Smartphone beneran. :P

Android, Reviews

[Review] Oppo Find 5 – Berkualitas dan Mempesona

Saya yakin tak salah memilih tagline untuk gadget yang akan dikupas di bawah ini: berkualitas dan mempesona. Sebuah pendatang yang berasal dari China di tengah hiruk-pikuk pertarungan pasar gadget.

Mendengar kata China, tipikal kita akan memicingkan mata, mengerutkan dahi, sambil memiringkan kepala dan bertanya bagaimana kualitasnya. Seperti sudah ternanam dalam otak ini bahwa sesuatu yang datang dari China itu murah, berkualitas rendah dan perlu dipertanyakan banyak hal lainnya.

Apakah Oppo Find 5 akan memenuhi persyaratan produk China? Atau justru akan menjadi pemicu perubahan pola pikir kita selama ini?

Box
Sebelumnya saya tak pernah menulis apapun tentang box dalam review. Tapi kali ini saya akan menggambarkan sedikit banyak tentang box Find 5 ini. Alasan sederhananya adalah boxnya cakep. Warna dasar hitam menjadi daya tarik tersendiri dari box tersebut. Dengan desain nyaris polos dan angka 5 yang dibuat sedikit timbul serta tambahan warna aluminum di bagian atas membuatnya terlihat futuristik dan menarik.

Hal kecil juga tak dilupakan oleh Oppo sehingga pada dua sisi digoreskan angka 5 dengan berbagai bentuk baik romawi, arab dan banyak lagi. Tulisan tersebut tetap berwarna hitam namun dibuat sedikit timbul sehingga tetap menjadi daya tarik. Selain itu, garis magnet yang ada di bagian pinggir juga membuat box lebih elegan dan ‘wah.’

Desain
Dari sisi kualitas yang ada pada body saya bisa simpulkan bagus. Bagian pinggir yang sedikit tajam menghadirkan kesan maskulin dan tambahan plastik (warna putih untuk 16GB dan warna hitam untuk 32GB) di bagian bawah menjadi sentuhan apik.

Saya sempat tertipu karena semula mengira bahwa casing Find 5 bukan plastik. Nyatanya, casingnya terbuat dari bahan plastik. Tapi, jangan salah karena ini adalah build casing plastik terbaik yang pernah ada di dunia gadget. Meskipun plastik, gadget ini bisa nyaman untuk digenggam karena tidak licin. Selain itu, bahan plastiknya juga tidak mudah meninggalkan goresan pada body. Top markotop.

Entah karena ingin berbeda atau bagaimana, namun letak tombol power dan volume menjadi ‘terbalik.’ Tombol volume terletak di sisi kanan dan sebaliknya tombol power berada di sebelah kiri. Hal ini menjadikan saya membutuhkan sedikit waktu untuk menyesuaikan dan membiasakan diri dengan keterbalikan ini. Meski demikian, peletakan keduanya cukup pas untuk dapat disentuh walau device hanya digenggam dengan satu tangan.

Dengan ukuran layar 5 inchi dan tambahan soft button serta sentuhan di bagian bawah menjadikan ukuran Find 5 jauh lebih panjang dibandingkan kompetitor karena total panjang adalah 142mm.

Dalam genggaman sih sebenarnya tak terlalu bermasalah karena saya masih bisa menggerakkan tangan ke ujung yang lain. Begitu juga ketika dimasukkan ke dalam saku celana. Muat-muat saja. Namun, persoalan besar hadir saat saya memasukkannya ke dalam saku baju karena tidak muat dan jadi nongol. Sisi baiknya sih bikin orang penasaran memang. :D

Layar
Oppo Find 5 ini dibekali dengan layar IPS 1080p yang memiliki kedalaman 441 ppi sehingga dari sudut mana saja masih tetap menggoda mata. Warna yang dihasilkan tajam dan memainkan brightness juga nampak jelas sekali perubahannya. In fact, layarnya membuat saya dan banyak orang yang melihatnya terpesona. Rasanya tak ada celah yang bisa saya sebut untuk bagian layar ini. Perfect.

Performa
Oppo Find 5 memiliki prosesor quad-core Qualcomm Snapdragon S4 Pro (APQ8064) system-on-chip dan Adreno 320 untuk graphical processing unit, alias GPU. Baik 16GB maupun 32GB, Find 5 sama-sama memiliki RAM sebesar 2GB.

Meskipun menurut Antutu ada perbedaan skor lumayan jauh antara Octa core dan S4 Pro ini, namun dalam dunia nyata tak ada perbedaan yang benar-benar terlihat.

Di launcher bawaan dari Oppo memang ada kesan bahwa proses nampak lambat. Namun sebenarnya ini bukan faktor prosesor melainkan karena animasi dari launcher yang lambat untuk memberikan kesan bisa dilihat dan menarik. Ketika saya ubah launcher menggunakan Nova Launcher, hasilnya pergerakan dari page, menu ataupun drawer ke home menjadi secepat kilat. Sementara aktivitas perpindahan dari satu app ke yang lain juga tak ada kendala ataupun kesan lambat sebagaimana juga dengan membuka app untuk pertama kali.

Intinya S4 Pro dan RAM yang ada sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan standar maupun gaming dan aplikasi berat lainnya. Sebagai informasi, menurut beberapa orang kinerja Oppo Find 5 ini jauh lebih baik lagi jika menggunakan custom firmware maupun kernel.

Kamera
Adalah Sony Exmor RS 13MP kamera yang ada di belakang Find 5 ini. Sedangkan kamera depan hanya diberikan 1.9MP saja, yang memang sudah cukup. Selain itu, kamera ini juga dilengkapi dual LED-flash dan lensa auto fokus f/2.2 dan tak ketinggalan filter blue glass untuk mempercantik hasilnya.

Oppo Find 5 - Kamera

Namun, kamera smartphone tentu saja bukan melulu soal hardware akan tetapi juga software. Untungnya, aplikasi kamera yang ada pada Find 5 menghilangkan rasa khawatir soal itu. Meskipun sederhana aplikasinya cukup memenuhi fungsi maupun keperluan dasar pengaturan kamera. Hanya saja, kesederhanaan aplikasi kamera ini menjadikan beberapa pilihan pengaturan advanced tidak ada yang antara lain adalah pengaturan ISO, white balance, exposure, stabilisasi atau yang lainnya. Mungkin ada di update firmware berikutnya.

Saya sendiri tak terlalu paham dengan dunia kamera sih. Namun sejauh mata saya melihat hasilnya memuaskan bahkan jika saya melakukan zoom pada obyek foto. Sisanya, silakan tengok [dan klik] gambar-gambar di bawah ini.

9123568836_e85de5ba1c 9123504726_6e23513cd4

Software
Apalah artinya spesifikasi hardware oke tapi softwarenya abal-abal? Tak perlu kuatir, karena selain hardware oke, software yang dibenamkan dalam Oppo Find 5 juga oke. Hal ini dapat dilihat dari versi Android 4.1.1 sejak device dikeluarkan dari box. Bagusnya lagi, Oppo cukup terbuka menerima feedback dari penggunanya sehingga update resmi cukup cepat. Baru 2 hari saya buka dari boxnya, saya sudah menerima update OTA untuk fixing bugs dan tambahan icon untuk mendukung theme bawaan.

Desain interface pada Find 5 ini menyerupai MIUI. Dengan launcher dan theme buatan sendiri Oppo menghadirkan icon-icon besar pada halaman utama berikut efek untuk icon, folder maupun widget baik seperti shadow maupun animasi yang menarik.

Sayangnya, Oppo menghilangkan kemampuan expandable notifications yang merupakan fitur bagus di Jelly Bean. Terus terang agak menyebalkan karena fitur tersebut berguna baik untuk sekedar preview maupun melakukan aksi jika diperlukan. Saya menduga sih tak lama lagi akan ada update yang mengakomodir permintaan saya dan juga banyak orang lainnya ini. :P

Sebenarnya ada banyak fitur lain yang menarik dalam firmware untuk Find 5 ini seperti blocking calls, pop-up messages, penjadwalan untuk mati dan hidup device serta banyak lagi. Namun, jika saya harus mengupasnya akan jadi sangat panjang. Hehe..

Hal yang juga menarik dari Oppo adalah keterbukaan mereka menerima feedback. Selain update yang cepat untuk terkait feedback dari pengguna Oppo juga mendukung pemakaian firmware aftermarket seperti CyanogenMod, ParanoidAndroid, AOSP, maupun PAC. Saya belum mencobanya sih. :D

Baterai
Baterai hampir selalu menjadi masalah di gadget belakangan ini. Oppo juga tak luput dari hal ini karena meski dibekali baterai sebesar 2500mAh, untuk bisa bertahan di penggunaan selama 24 jam masih sulit menjadi kenyataan. Sebenarnya ini cukup beralasan karena ukuran layar yang selebar 5 inchi dan resolusi cukup tinggi ditambah prosesor quad-core yang ada di dalamnya.

Berapa lama kah baterainya mampu bertahan? Dengan penggunaan normal seperti membuka email, bermain game dan aktifitas lain baterai dapat bertahan sekitar 12 jam. Sementara dengan penggunaan maps yang melibatkan GPS kemampuan baterai turun cukup drastis di kisaran 8 jam saja.

Psstt.. Kabarnya, dengan memanfaatkan custom kernel performa baterai menjadi jauh lebih baik lho.

Kesimpulan
Oppo Find 5 sebagai produk garapan China mampu membuktikan diri bahwa mereka memang murah namun berkualitas dan mampu mempesona. Sebagai pendatang yang benar-benar baru, kualitas yang ada pada Find 5 cukup bisa saya apresiasi dan sebut bagus. Layarnya yang mampu mempesona mata, desain body yang sempurna dan processor maupun RAM mumpuni jelas menjadi daya tarik tersendiri.

Dari sisi software saya mengakui adanya kekurangan. Namun, dengan keterbukaan dari Oppo untuk menerima masukan dan dukungan komunitas besar sekelas CM, PA, maupun PAC tentu saja ke depan saya berharap akan lebih baik.

Dengan banderol harga Rp. 5.499k untuk storage 16GB dan tambahan Rp. 500k untuk 32GB (dan warna hitam yang keren limited edition), Oppo Find 5 layak menjadi pilihan bagi mereka yang butuh device bagus dengan harga yang bersahabat dengan kantong.

Reviews

[Review] LG Optimus L7-II – Fiturnya Bejibun

Ketika produsen lain sibuk memamerkan dan tentu saja menjual produk kelas atasnya, ada produsen yang tak lupa bahwa pasar lain juga siap mencerna. Dan di sela-sela keramaian smartphone berbasis Android kelas atas tadi LG menghadirkan salah satu produk kelas menengahnya, LG Optimus L7 II.

01_Seamless-Layout

Sebagaimana bisa ditebak dari namanya, device ini adalah generasi kedua dari Optimus L7 yang dirilis tahun lalu dengan update pada beberapa hal.

Pas di Tangan Namun Tajam
Dengan layarnya yang masih di ukuran 4.3 inchi dan berbeda dengan model-model yang dibekali layar selebar 5 inchi misalnya, hape ini pas benar di tangan. Tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Menyentuh tombol power maupun volume up dan down juga tak menyulitkan meskipun tangan saya tidak termasuk besar. :D

Dengan bekal baterai yang termasuk di atas rata-rata di kelasnya, yaitu 2460mAh, L7-II ini tak masuk dalam kategori langsing. Namun saya bisa katakan pas karena memang juga tidak gendut juga.

Sayangnya saya harus katakan bahwa ukurannya yang pas ini tak didukung dengan kualitas body yang baik karena bagian belakangnya yang menggunakan bahan plastik.

Bahan plastik ini di sisi lain memberikan keuntungan pada sisi berat sehingga jika ditambah baterai hanya menjadi 118 gram. Namun, sebagaimana diketahui bahan plastik ini memberikan efek licin walau sebenarnya motif depan maupun belakang memberikan kesan mewah dan elegan.

Dengan bekal layar andalan milik LG yaitu True IPS bisa ditebak sendiri bahwa kualitas layarnya jelas bagus. Meskipun resolusinya hanya berupa WVGA 800×480 pixel namun hasilnya cukup jernih. Saya akui saya agak susah mencari pembandingnya mengingat keluaran terbaru sebagian besar memiliki pixel yang jauh lebih besar.

Ngacir dengan Banyak Fitur
Hadir dengan processor Snapdragon 1GHz Dual-core dan RAM yang cuma 768MB, sepanjang mencobanya saya tak menemukan macet atau lag. Aktivitas standar seperti berpindah dari satu app ke app lain atau kembali ke home berjalan dengan lancar dan smooth.

Adapun dua permainan yang menjadi saksi ‘kehandalan’ processor ini adalah Temple Run dan EPIC. Bagaimana dengan game sports seperti FIFA 12 atau sejenisnya? Saya harus akui saya tidak mencobanya mengingat ukuran RAM dan storage yang terbatas. Sedangkan aplikasi standar lain untuk bersosial seperti Twitter, Tumblr, Path, Pinterest, Facebook dan Google+ tidak ada kendala sama sekali. Everything is good.

Pengalaman berinteraksi. Kira-kira itu memang hal yang paling ditekankan oleh LG untuk device ini. Meskipun hadir untuk kelas menengah, namun pengalaman berinteraksi tidak dikesampingkan.

Buktinya adalah L7-II ini dari pabrik sudah menggunakan Android Jelly Bean 4.1.2. Sebuah prestasi tersendiri mengingat pengalaman ber-Android akan lebih enak dan menyenangkan dengan JB yang memiliki fitur-fitur yahud seperti Google Now.

Apakah hanya sisi sistem operasi saja? Nyatanya tidak.

Beberapa fitur yang biasanya ada di device kelas di atasnya ternyata juga ada di L7-II ini seperti Quick Translator dan Quick Memo. Tapi, ada lagi fitur lain yang tak kalah menarik dan bagus.

Multitasking dengan QSlide
Jika Samsung Galaxy S4 yang memiliki layar gede bisa membuat fitur multitasking dan multi-windows, LG jelas tak mau kalah. Dengan semangat bersaing, L7-II pun diberikan fitur yang lebih kurang sama yaitu berupa QSlide.

Dengan QSlide pengguna bisa melakukan dua hal sekaligus dalam satu layar yang cuma 4.3” ini seperti chatting dan nonton film. Mengingat layar yang pas-pasan LG memanfaatkan cara transparan pada aplikasi dan hasilnya adalah QSlide.

Quick Button
Bayangkan Anda sedang chatting ria dengan kawan, atau sedang sibuk menulis email panjang. Tiba-tiba datanglah sebuah adegan di depan mata yang menarik untuk diabadikan tapi harus cepat. Tanpa camera button, cara paling cepat adalah kembali ke Home dan memilih kamera untuk mengambil gambar. Akui deh, itu lama kalau momennya tahu-tahu selesai.

Nah, dengan quick button ini beralih ke aplikasi favorit seperti kamera, musik, Maps atau yang lainnya jadi semudah mengakses kamera dengan camera button tadi. Di manapun posisi Anda saat itu, tinggal pencet dan langsung ke aplikasi favorit tadi. Enaknya lagi, quick button ini bisa diatur fungsinya untuk membuka aplikasi sesuai keinginan. Ya, bisa dibilang camera button dengan fungsi lebih atau semacam itu. :P

LED Home Button
Beberapa produsen smartphone sudah mulai meninggalkan home button belakangan ini dan digantikan dengan soft button yang ada di layar. Jadi secara fisik button untuk Home, Back, atau Search sudah tidak ada.

04_Home-Button-LED

Tapi tidak demikian dengan LG. Mereka tetap mempertahankan Home button yang khas dengan bentuk agak panjang dan rounded yang diletakkan di tengah-tengah diapit dengan menu dan back. Setidaknya itu yang terlihat di L7-II ini.

Yang unik dari home button ini adalah adanya LED dengan tiga warna yaitu merah, hijau, dan biru. Adapun fungsi dari masing-masing warna ini berbeda. Warna merah misalnya berfungsi sebagai indikator saat charging. Adapun warna biru untuk notifikasi pesan dan warna hijau untuk notifikasi panggilan. Nah, semua warna tadi akan bergantian berkedip jika alarm sedang berbunyi atau device dinyalakan. Dengan warna-warna ini notifikasi apapun jadi lebih mudah dipahami. Betul?

Safety Care
Ini adalah fitur yang saya tidak temukan di LG Optimus L9 sebagaimana di review saya sebelumnya. Sebagaimana namanya fitur ini berguna untuk safety alias keamanan. Adapun fungsinya terdiri dari tiga hal penting: (1) emergency call forwarding, (2) phone non-usage notice, dan (3) my location notice.

Emergency call forwarding berguna untuk mengirimkan pesan darurat berikut lokasi dalam bentuk link peta posisi device berada kepada nomor yang telah ditentukan sebelumnya jika emergency number ditekan. Dengan demikian kondisi darurat yang terjadi dapat diketahui oleh orang lain dan dilaporkan ke pihak berwajib jika perlu.

Nah, fungsi my location notice ini cukup berguna untuk mereka yang sering kesasar dan terpisah dari rombongan. Dengan fitur ini device dapat mengirimkan lokasi keberadaan sehingga dapat dijemput kemudian. Rasanya, yang suka gak fokus arah bisa banget memanfaatkan fitur ini. Dan tentu saja bagus untuk orang tua. :D

Kamera Memadai
Urusan kamera saya bisa sebutkan memadai. Dengan harganya yang memang murah di kelasnya kamera belakang 8MP tentu saja sangat memadai. Foto yang dihasilkan sebagaimana dapat dilihat di bawah ini.

Outdoor Indoor

Network GSM / GPRS / EDGE 850/900/1800/1900
3G HSDPA 7.2 Mbit/s HSDPA 5.76 Mbit/s
SIM-card type Standard
Battery (mAh) 2460
Talk time (hours) 13.3 (3G)
Standby time (hours) 946.2 (3G)
Dimensions (mm) 121.5 x 66.6 x 9.7
Weight (g) 118
Display Size 4.3″
Resolution WVGA (800×480)
Display Type IPS
Operating system Android 4.1.2 (Jelly Bean)
Processor Dual-core processor, 1.0 GHz (Qualcomm MSM8225)
Memory 768 MB
Support for memory cards microSD up to 32 GB
Built-in drive 4 GB
WiFi 802.11 b/g/n
USB 2.0 HS
Bluetooth 3.0
Camera rear 8MP with autofocus
Camera front VGA
Additional features Quick Memo, Cheese Shutter, Quick button, QSlide, QTranslator, Compass, Accelerometer, Proximity sensor, A-GPS, DLNA, Wi-Fi Direct

Kesimpulan
Sebagaimana bisa ditebak sebelumnya sasaran konsumen dari LG Optimus L7-II ini adalah menengah. Maka sesuai dengan sasarannya, maka spesifikasi secara teknis pun sesuai dengan kelasnya. Namun saya harus akui bahwa meskipun spesifikasi teknisnya tidak wah fitur yang diberikan tidak mengecewakan. Hal ini dapat dilihat dari fitur yang sudah saya sebutkan di atas seperti Android versi 4.1.2 dan fitur ber-Android lainnya.

Meskipun demikian beberapa hal yang patut digaris bawahi adalah body (terutama back cover) berupa plastik sehingga cenderung licin saat digenggam. Hal lainnya adalah internal storage dan RAM yang relatif tidak terlalu besar. Namun storage sebenarnya sudah terselesaikan dengan adanya slot microSD hingga 32GB.

Oya, foto-foto device dan screenshot lengkap tentang fitur di atas dapat ditemukan di Flickr saya di sini: http://flic.kr/s/aHsjFtzcBB

Oh, satu lagi! LG merilis dua versi L7-II ini: (1) single SIM dan (2) dual SIM card. Yang saya review adalah versi single SIM card. Adapun versi dual SIM card hanya berbeda di desain body saja. :D

Demikian review kali ini dan semoga bermanfaat.

Android, blog, Reviews

[Review] Sebelum Nexus 4: LG Optimus L9 (P765)

Nama LG di dunia Android bukan sesuatu yang baru bagi saya. Ketika pertama kali melihat wajah keluarga Optimus, saya akui suka.

Memang bukan desain body atau cara LG memberikan upgrade firmware untuk pemilik device jadul. Tapi, saya suka bagaimana cara LG memberikan pengalaman kepada penggunanya. Saya bahkan menjadikan tema yang digunakan LG di keluarga Optimus untuk Nexus S yang saya oprek.

Setelah mencicipi Optimus L9 selama beberapa hari, saya dapat merasakan bahwa LG telah belajar banyak selama beberapa tahun terakhir soal Android. Ini bukan sekedar tampilan yang menarik atau tawaran layar gede atau processor dual-core. Tapi lebih daripada itu, sesuatu yang lebih penting, yaitu pengalaman pengguna alias user experience.

Desain
Dari sisi desain memang tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya, L7. Ketebalan yang cuma 9.1 mm menjadikan L9 nampak begitu ramping. Saya harus katakan bahwa L9 ini cukup ringan meskipun ukurannya terbilang besar. Selain ringan, memegangnya juga tergolong nyaman meskipun tangan saya relatif kecil. Dugaan lama saya bahwa menggenggam gadget berukuran besar akan menyulitkan seakan terbantahkan. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh bodi belakang yang bertekstur dan penempatan power button serta volume yang pas dengan jari-jari.

Dengan harganya yang cukup murah, sisi luar gadget ini sama sekali tak menggambarkan hal itu. Meskipun saya harus akui bahwa desain L series memang relatif ‘kaku,’ namun hal ini membuatnya tampil elegan.

Display
Belakangan saya mendengar bahwa LG unggul di kelas display. Dan apa yang saya dengar terbuktikan dengan layar IPS yang ada di L9 ini. Dengan resolusi 540×960 qHD, layar ini tampak sangat jernih dan memuaskan. Sejujurnya, ketika pertama kali melihat gadget segede ini yang membuat saya mau melanjutkan mencoba adalah kualitas layarnya. :D

Sebenarnya menggunakan mode brightness 100% memang menggiurkan. Namun, setelah saya coba naik dan turunkan akhirnya saya cukup puas di antara 40% hingga 50%. Dengan angka ini saja kualitas layar sangat jernih. Toh, selain lebih cepat menghabiskan baterai, brightness 100% juga tak perlu.

Baterai
Dalam dunia smartphone dengan sifatnya yang selalu terhubung dengan internet dan pemakaian segala jenis kegiatan, baterai adalah salah satu komponen penting yang harus diperhatikan. Dengan penggunaan yang luar biasa, memiliki baterai besar adalah sesuatu yang diinginkan banyak orang. Dan itulah yang dipenuhi oleh LG.

Baterai yang dibenamkan ke dalam bodi L9 ini memiliki kapasitas sebesar 2150 mAh. Dengan ukuran sebesar ini, memainkannya sehari penuh adalah godaan tersendiri. Sayangnya, saya belum sempat mencoba dengan benar penggunaan baterai ini menggunakan paket data 3G. [update] Dalam penggunaan standar seperti membaca email, browsing, tweeting, dll dengan fasilitas Wifi, saya hanya charge L9 ini 2 hari sekali.

Performa
Meskipun L9 hanya dibekali dengan processor dual core TI-OMAP 4430 dengan clock sebesar 1GHz, saya merasakan performa yang cukup baik. Berdasarkan tes memanfaatkan alat seperti AnTutu, PassMark, Linpack dan lain sebagainya hasilnya seperti yang diharapkan, yaitu mid-level gadget. Namun, dalam tes manual seperti membuka web berat via Chrome dan menjalankan Google Earth saya merasakan cukup smooth dan tak ada lag.

Perpindahan dari aplikasi satu ke aplikasi lain juga tak pernah ada rasa lambat. Tidak pernah pula saya menemukan lag ketika berpindah dari sebuah aplikasi ke Home atau sebaliknya. Selain itu, perpindahan halaman dalam daftar aplikasi maupun halaman home juga sangat lancer dan smooth. Lag hanya saya dapati beberapa kali –selama 5 hari pemakaian—ketika hendak kembali dari halaman Apps ke Home saja. Saya yakin ini pengaruh launcher LG UI 3.0 yang memang kurang oke. Mengganti dengan launcher lain adalah solusi.

Bagaimana dengan boot-up? Proses booting L9 saya bisa kategorikan cepat karena bisa sukses berada di kisaran 22 detik saja.

Software
Out of the box, Optimus L9 berjalan di atas Android 4.0.4 Ice Cream Sandwich. Agak mengecewakan memang karena toh JellyBean telah hadir di publik. Namun, kualitas ICS yang ada di L9 ini sendiri saya nilai bagus. Interface khas Optimus yang ada pun tak menjadikan penggunaan mengalami masalah. Semuanya berjalan dengan baik dan lancar.

Di sisi software inilah pengalaman pengguna menjadi amat penting. Dan berikut ini adalah aplikasi yang menjadikan penggunaan gadget ini menarik dan menggoda.

Tema. Diakui atau tidak sebagian besar pengguna Android merasa tak puas dengan tema default dan menggantinya dengan yang lain. Sepertinya LG bercermin dari hal ini dan kemudian membekali L9 dengan 3 tema lain selain Optimus. Mau berganti tema? Gampang.

Quick Translator. Ketika mendengar fitur Google Translate di Android untuk menerjemahkan tulisan via kamera, saya sungguh bahagia. Sayang, bahasa yang didukung masih sangat terbatas. Dalam Optimus L9 ini LG mengungguli Google dengan menghadirkan Quick Translator. Nggak ngerti bahasa China? Cukup arahkan aplikasi berkamera ini ke tulisan dan.. tada.. Problem solved. It works great. Dan.. aplikasi ini dapat digunakan baik online maupun offline.

Quick Translator dapat digunakan secara offline dengan download database yang ada di Play Store.

MyKeypad. Ada banyak jenis keypad di Android yang dapat dicoba. Namun, keypad buatan LG ini cukup memuaskan. Baik posisi portrait maupun landscape, typo sungguhlah dapat diminimalisir secara signifikan dengan model yang menghadirkan pad berukuran lebar. Apalagi, mode keypad yang bisa diubah sesuai kebutuhan seperti memecah keypad menjadi dua bagian dalam mode landscape untuk mengetik lebih asyik. :D

QuickMemo. Saya suka aplikasi ini. Saya bisa corat-coret di layar dan kemudian mengirimkan hasil coretan tersebut ke siapapun dengan mudah. Ambil contoh saya ingin menunjukkan cara membetulkan sesuatu di Android. Yang saya lakukan adalah membuka aplikasi tersebut, saya coret keterangan-keterangan yang diperlukan dan kirim. Ini jelas lebih mudah daripada harus mengetik. :D

RemoteCall Service. Saya memang belum mencoba aplikasi ini karena belum pernah service. Namun, jika aplikasi ini difungsikan dengan baik maka akan memudahkan pengguna dan service center dalam menerima maupun memberikan support. Buat apa datang ke support center kalau bisa dilakukan via remote? :D

Kamera
Dalam aplikasi kamera yang mereka masukkan ke Optimus L9 ini LG mencoba untuk menghadirkan sesuatu yang lucu. Dengan kamera ini pengguna tidak harus menyentuh apapun untuk menangkap gambar. Karena kita bisa melakukannya cukup dengan bilang ‘Cheese,’ ‘Smile,’ ‘Kimchi,’ atau ‘LG.’ Gampang kan? Yup.

Namun, saya harus mengakui bahwa kualitas aplikasi kamera ini tak cukup bagus. Autofocus yang tak berjalan dengan mulus dan juga kualitas gambar yang tak sebagus Nexus S milik saya yang sama-sama 5MP. Berikut adalah hasil jepretan (images resized):

Contoh video dapat dilihat di sini: https://plus.google.com/photos/106245402742387892457/albums/5815710201653962049/5815710200419874834.

Kesimpulan
Dengan banderol harga yang ada di pasar, saya harus katakan LG Optimus L9 cukup memuaskan. Desain yang elegan dan kemampuannya yang bagus membuat device ini sangat pas untuk dipakai sehari-hari. Terlebih dengan adanya aplikasi-aplikasi yang membuat pekerjaan menjadi lebih mudah.

Ini memang bukan gadget kelas atas yang dapat digunakan untuk bermain game sepuasnya. Bukan juga untuk pengguna Android seperti saya yang sehari-harinya bermain dengan superuser. Tapi bagi Anda yang baru di dunia Android atau butuh pengganti gadget lama, Optimus L9 mampu memenuhi kebutuhan dengan sangat baik.

Semoga bermanfaat dan nanti saya bisa memberikan review Nexus 4, yang juga datang dari pabriknya LG. :D

Featured, Reviews, Technology

[Review] Kingsoft Office, Microsoft Office No More

Dulu, jika ditanya apakah aplikasi pengolah dokumen paling bagus di seluruh dunia? Jawabannya adalah Microsoft Office. Mengolah dokumen tanpa produk Microsoft ini seakan mengolah sesuatu dan berakhir setengah matang. Sekarang? Tidak lagi.

Kingsoft Office

Adalah Kingsoft Office yang saya sandingkan dengan Microsoft Office dalam daftar aplikasi bagus pengolah dokumen. Bagaimana kemampuannya?

Sebanding dengan Microsoft Office.
OpenOffice.org? Lewat.
LibreOffice? Lewat.
Google Docs? Lewat. Umm.. sedikit.

Layaknya pengolah dokumen standar, Kingsoft Office menghadirkan tiga pengolah dokumen yang masing-masing berguna sesuai dengan namanya: Writer, Presentation, dan Spreadsheets.

Kingsoft PresentationKingsoft Spreadsheets

Fitur Kingsoft Office yang beda dari yang lain, sejauh yang saya tahu, adalah sebagai berikut:

  • Pengaturan paragraf yang sangat mudah. Indentasi maupun spasi dapat dilakukan cukup dengan drag and drop.
  • Tabulasi. Bekerja dengan banyak dokumen semakin mudah karena Kingsoft menampilkan dokumen dalam tab alih-alih window.Tabs in Kingsoft
  • Operasi tabel yang mudah. Sekarang, semuanya bisa nampak hebat bekerja dengan tabel.
  • Built-in PDF converter. Sebenarnya rival Kingsoft bisa melakukan ini dengan mudah. Tapi, tak apalah. :p
  • Small package. Dibandingkan dengan rivalnya, Microsoft Office, ukuran file installer maupun hasil instalasinya terpaut jauh.
  • Kompatibilitas dengan persentase 99% terhadap Microsoft Office.

Kingsoft Office menawarkan dua pilihan produk. Free version dan paid version yang terdiri dari dua kategori pilihan: Professional Edition yang dijual seharga £50 dan Standard Edition dengan harga £38. Apa perbedaan dari versi berbayar dan versi gratis? Tidak ada. Kecuali tampilan.

Jika versi berbayar tampilan dapat berganti ke mode klasik atau mode 2012 (mirip Microsoft Office 2007+). Versi gratis hanya menawarkan satu tampilan saja, yaitu klasik. Sedangkan dalam bidang kemampuan dua-duanya nyaris tidak berbeda.

Switch interfaceKingsoft Classic

Sayangnya hingga saat ini Kingsoft Office ini hanya tersedia untuk dua platform yaitu Microsoft Windows dan Android. Andai saja ada paket untuk platform Linux.

Untuk lebih lanjut dan mencobanya, silakan langsung ke KingsoftStore.co.uk