news, Open Source

GNOME 3.1.2 Released

Hey, folks!

This morning there’s a good announcement for you, GNOME developers –and fans. Yep, GNOME 3.1.2 development released.

GNOME 3.1.2 Development Release
===============================

Fourth update to GNOME 3.0, first update of the development release
available at last (as it was delayed).

To compile GNOME 3.1.2, use jhbuild [1] and the modulesets and
.jhbuildrc file used on this release [2].

[1] http://library.gnome.org/devel/jhbuild/
[2] http://download.gnome.org/teams/releng/3.1.2

If you want to know what is new on this release, you can check the
release notes of those modules:

  core - http://download.gnome.org/core/3.1/3.1.2/NEWS
  apps - http://download.gnome.org/apps/3.1/3.1.2/NEWS

And if you want the code, you can find the release here:

core sources - http://download.gnome.org/core/3.1/3.1.2
apps sources - http://download.gnome.org/apps/3.1/3.1.2

Details here.

GNOME 3.0

Oh, in case you didn’t know about GNOME 3.0, check this out: http://www.gnome.org/gnome-3/!

Belajar, linux, Open Source, Tips, Tutorial

Apple iPad: A Linux Administrator’s New Assistant

Lucky you, Linux administrators, if you have the iPad. Why? Because iPad is more than just an expensive tablet to read books. It’s possible to work with and manage Linux systems on its fingerprint-prone surface. How to do it? Ken Hess from Linux-Mag told us here.

Apple iPad: A Linux Administrator’s New Assistant

The article describes how to work and manage Linux systems with the iPad using SSH and VNC. You need to log in to read the article, by the way. Enjoy!

Image credit: software.tuttogratis.it

linux, Tips, Tutorial

Penggunaan sudo Linux/Unix Dalam Sehari-hari

Bagi para pengguna Linux/Unix, mengakses file-file tertentu tidaklah mudah jika kapasitas dirinya adalah sebagai pengguna standar. File-file atau folder tertentu, seperti folder /etc/, hanya dapat diakses jika pengguna memiliki akses sebagai administrator. Tapi dengan sebuah perintah sudo maka seorang pengguna standar dapat membuat dirinya berstatus administrator untuk sementara.

sudo open it for me!

Dalam manual Linux/Unix, sudo didefinisikan sebagai allows a permitted user to execute a command as the superuser or another user, as specified in the sudoers file. Dan adapun cara menggunakan berikut options adalah seperti di bawah:

sudo -V | -h | -l | -L | -v | -k | -K | -s | [ -H ] [-P ] [-S ] [ -b ] | [ -p prompt ] [ -c class|- ] [ -a auth_type ] [ -u username|#uidcommand

-V untuk mencetak versi sudo -l mencetak daftar perintah yang diperbolehkan (dan yang dilarang) bagi pengguna dengan sudo -L mencetak daftar parameter yang ada dalam Defaults dengan deskripsinya -h menampilkan help page untuk sudo -v update timestamp untuk user dan prompt password jika diperlukan -k menjadikan timestamp user tidak valid -K menghapus timestamp -b menjalankan perintah sudo dalam background -p akan menampilkan prompt untuk mengganti password default -c menjalankan perintah tertentu dengan resources terbatas seperti dalam login class -a eksekusi sudo dengan tipe otentikasi spesifik saat validasi user -u menjalankan sudo sebagai user lain dan bukan root -s menjalankan sudo dalam environment lain seperti yang ditentukan dalam SHELL environment -H memindahkan variabel HOME kepada user target -S meminta sudo untuk membaca password dari input standar — meminta sudo menghentikan proses

Biasanya saya jarang menggunakan options di atas karena penggunaan sudo sangat mudah. Untuk mencetak daftar file dan folder dalam /usr/local/protected misalnya, maka perintah yang dijalankan adalah

$ sudo ls /usr/local/protected

Intinya adalah dengan sudo Linux/Unix pengguna biasa mampu membuat dirinya berkuasa seperti superuser. Bagaimana cara menggunakan sudo Linux/Unix yang tepat untuk sehari-hari? Simak berikut ini:

Jono: Juminten, jadi pacarku ya?
Juminten: Apa? Jadi pacarmu? Ogah! Kamu nggak se-level sama aku. :P
Jono: sudo jadi pacarku ya.
Juminten: Okay!

linux, Tips

Mencoba Linux Tanpa Mengubah Windows? Why Not

Penggunaan Linux desktop untuk berbagai kebutuhan, termasuk bisnis, dengan segala kelebihannya tidak lagi diragukan. Ada banyak keuntungan yang bisa didapat, terutama oleh orang awam, jika menginginkan sistem operasi dan aplikasi dengan gratis atau harga yang relatif lebih murah.

Bagi beberapa orang berpindah ke Linux adalah sebuah keputusan besar dan merupakan komitmen. Mulai dari yang memikirkan bagaimana nasib software dan file-file dari sistem sebelumnya, hingga yang berhubungan dengan bagaimana ke depannya.

Linux with Cube (Compiz)

Nah, sebenarnya ada beberapa cara, empat cara tepatnya, untuk mencoba Linux tanpa harus mengubah Windows. Langkah ini dimaksudkan agar pengguna bisa mencicipi Linux sebelum memutuskan berpindah secara penuh. Berikut adalah keempat cara untuk mencoba Linux tanpa mengubah sistem yang dimiliki saat ini (Windows):

  1. Live CD
  2. Ini adalah cara paling umum yang bisa dicoba. Yang perlu dilakukan dengan LiveCD adalah pengguna boot komputer melalui CD. Secara otomatis CD yang berisi Linux tersebut akan berjalan sebagai sistem tanpa mengubah apapun. Jika pengguna merasa cocok, maka bisa dilanjutkan ke langkah instalasi dengan CD tersebut. Jika tidak sesuai, shutdown/restart komputer, CD akan keluar dan pengguna pun kembali ke sistem yang telah terinstal.

    Sebagian besar distro Linux saat ini telah menyediakan versi Live CD. Live CD bisa didapat melalui download file .iso dan burn sendiri, atau pesan CD dari pengembang. Ada juga beberapa situs jual-beli yang menyediakan CD tersebut seperti DistroWatch.

    Live CDs

    Live CD ini tentu saja memiliki kelemahan, yaitu: lambat dan tidak bisa ditambahi aplikasi lain. Live CD akan lambat karena memang load diambil dari CD tersebut.

  3. Live USB
  4. Selain Live CD pengguna juga bisa mencicipi Linux tanpa install dengan Live USB. Konsep penggunaan Live USB ini sama dengan Live CD, hanya berbeda media saja. Salah satu distro Linux yang biasa menyediakan Live USB adalah Mandriva.

    Live USB bisa dibeli (beserta USB FD) dari beberapa tempat selain juga bisa dibuat sendiri. Cara membuatnya pun hampir sama dengan membuat Live CD. Sediakan .iso file dan USB FlashDrive berukuran kurang lebih 1GB dan software Unetbootin atau Universal USB Installer untuk menyimpan .iso ke dalam FlashDrive tersebut.

    Unetbootin on Windows

    Untuk mencoba, boot saja komputer dari USB Drive. Live USB ini cenderung lebih cepat prosesnya dibandingkan Live CD. Kecepatan load hampir sama dengan sistem yang telah diinstal ke dalam komputer.

  5. Virtual Machine
  6. Pilihan virtual machine ini selain bisa digunakan untuk Linux juga bisa digunakan untuk sistem lain seperti Windows. Mesin virtual adalah sebuah software yang berfungsi untuk membuat komputer (virtual) dalam komputer (nyata). Nantinya, sistem yang dijalankan dengan virtual machine akan berada dalam sistem yang menjalankan virtual machine tersebut.

    Untuk menggunakan media virtual machine, maka yang dibutuhkan adalah virtual machine itu sendiri dan .iso file. Virtual machine gratis yang bisa digunakan adalah VirtualBox.

    VirtualBox on OSX

    Karena seperti komputer dalam komputer, maka kelebihan dari ini adalah pengguna dapat menambahkan aplikasi-aplikasi lainnya. Sayangnya, virtual machine biasanya menguras memory yang dimiliki komputer fisik karena memory yang ada harus dibagi.

  7. Wubi (Windows-based Ubuntu Installer)
  8. Ini adalah cara khusus yang sampai sekarang hanya berjalan untuk Ubuntu, sesuai namanya. Dengan Wubi ini, pengguna melakukan instalasi Ubuntu dalam Windows. Ubuntu akan berjalan layaknya sebuah aplikasi biasa. Pengguna juga tidak perlu melakukan partitioning atau semacamnya.

    Wubi Installer

    Untuk mencoba, yang dilakukan cukup klik install dari menu dalam Wubi. Namun, Wubi akan melakukan instalasi secara langsung dari internet. Dengan demikian, Ubuntu akan terinstall hanya jika ada koneksi internet pada komputer.

    Dalam rilis-rilis terakhir, biasanya Ubuntu menyediakan Wubi dalam CD maupun .iso file.

Kelebihan dari Linux yang sering disebut adalah Linux lebih aman dibanding Windows. Kelebihan lainnya adalah Linux dapat berjalan dengan spesifikasi hardware paling minim sekalipun dan tentu saja sebagian besar gratis.

Jadi, mengapa tidak mencoba Linux dari sekarang?

Note: idea taken from PCWorld.com

linux, Reviews, Technology

10 Alasan Menggunakan KDE 4.5 Sebagai Desktop Environment

Para pengguna Linux, saat ini umumnya menggunakan desktop GNOME. Alasan yang paling mudah mereka menggunakan GNOME adalah karena tampilannya yang cantik. Memang, jika dibandingkan dengan KDE, GNOME cenderung nampak lebih menarik sehingga wajar jika pengguna (terutama pengguna awam) lebih memilih desktop GNOME daripada KDE.

Masih segar dalam ingatan saya saat pertama kali mengenal Linux pada tahun 2005. Saat itu saya kuliah dan duduk di semester satu. Desktop standar dari Linux yang saya temui saat itu adalah KDE. Dan ketika saya tunjukkan kepada seorang kawan, kawan saya bilang: ‘Apaan ini? Linux? Jelek banget!’ I agree. Tapi waktu berubah, jaman berganti dan KDE pun berubah. KDE sekarang tak lagi seburuk KDE jaman dahulu kala. Mulai saat ini, KDE 4.5, pengembang terus membuat inovasi agar KDE bisa menjadi desktop environment yang user-friendly sekaligus well-designed.

Kali ini, saya akan menunjukkan sepuluh alasan mengapa desktop pengguna sebaiknya beralih dari GNOME ke KDE.

  1. Kecepatan. Jika KDE versi 3.5 kecepatan KDE sebagai desktop environment sangat buruk, maka sejak versi 4.5 ini kecepatan KDE jauh melebih GNOME. Jika dibandingkan, maka yang bisa mengalahkan kecepatan KDE 4.5 saat ini adalah Xfce atau Fluxbox.
  2. Stabilitas. Dalam proses perpindahan dari KDE 4.4 ke KDE 4.5 terdapat 16.022 bug yang dibenahi. Ukuran > 16.000 adalah angka yang fantastis sehingga stabilitas KDE 4.5 kali ini tidak diragukan lagi.
  3. Activities. Yang satu ini adalah fitur dari 1.723 fitur baru yang ada di KDE 4.5. Mungkin memang tidak banyak yang menggunakan fitur ini. Tetapi bagi mereka yang menggunakan, fitur ini sungguh membantu. Dengan Activities, pengguna dapat mengerjakan banyak aktivitas dalam satu workspace. Dengan fitur ini juga, pengguna juga dapat memilah dan memilih file apa yang akan dikerjakan oleh aplikasi apa. Ini adalah konsep desktop multidimensi yang sudah menjadi nyata. Hingga saat ini, KDE adalah satu-satunya desktop environment yang memilikinya.
  4. Desktop-effects. Siapa yang nggak suka mainan efek. Teman saya akan dengan bangga menunjukkan Compiz yang ada di GNOME saat memberikan demo Linux dalam pelatihan-pelatihan kepada pemula. Dan memang, semua pengguna awam akan terpesona dengan kehebatan Compiz. Sekarang, KDE 4.5 juga memiliki desktop-effects yang bisa disandingkan dengan GNOME.
  5. Window tiling. Meskipun fitur yang satu ini sudah lama ada baik dalam Windows 7 maupun di Linux, namun tidak ada inovasi yang menjadikan proses tiling menarik. KDE 4.5 menjadikan fitur ini lebih baik dan efektif sehingga pengaturan tiling windows akan jauh lebih mudah.
  6. Notifikasi. Notifikasi dalam KDE memang telah lama ada. Tapi dalam KDE 4.5 ini notifikasi jauh lebih baik dan lebih nyaman dilihat. Tampilan notifikasi nampak lebih sederhana, bersih dan cantik. Selain itu, icon dalam notifikasi memiliki warna yang hampir sama dengan monokrom sehingga lebih nyaman dipandang.
  7. Netbook. KDE 4.5 untuk netbook nampak lebih sederhana, cantik dan memiliki kecepatan yang bagus. Sekilas mungkin memang tidak nampak perbedaan yang berarti, namun kecepatannya akan terasa.
  8. Plasmoids. Fitur ini adalah merupakan sebutan untuk applet-applet yang ada. Applet tersebut kali ini bisa digunakan untuk monitoring web maupun social media. Bedanya, tentu saja lebih stabil dan berfungsi jauh lebih baik dari versi 4.4.
  9. Hari Libur Lokal. Fitur yang satu ini mungkin tidak besar, tapi menarik. Dengan pengaturan negara sesuai dengan lokasi pengguna, tanggal pada KDE 4.5 akan menampilkan hari libur nasional negara tersebut. Asik kan?
  10. Keseluruhan. KDE 4.5 adalah desktop environment yang pantas digunakan oleh pengguna awam maupun advanced. Dari urusan bisnis hingga urusan pribadi. Pantas digunakan oleh siapa saja.

Oya, KDE desktop sekarang disebut Plasma. Jadi, biasanya KDE untuk desktop akan disebut Plasma Desktop, dan KDE untuk netbook akan disebut Plasma Netbook.

Berikut adalah beberapa screenshot dari KDE 4.5:

Plasma Calendar ~ KDE 4.5
Plasma Calendar ~ KDE 4.5
Desktop grid ~ KDE 4.5
Desktop grid ~ KDE 4.5
Setting desktop ~ KDE 4.5
Setting desktop ~ KDE 4.5
Notifikasi proses copying ~ KDE 4.5
Notifikasi proses copying ~ KDE 4.5
Jobs yang berjalan ~ KDE 4.5
Jobs yang berjalan ~ KDE 4.5
Tampilan Plasma Netbook ~ KDE 4.5
Tampilan Plasma Netbook ~ KDE 4.5
Notifikasi ~ KDE 4.5
Notifikasi ~ KDE 4.5

Keterangan lebih lengkap dan cara download, silakan ke sini.

Sumber: ZDNetAsia.com, Wikipedia.org, KDE.org