life, Tips, viewpoint

Thank You for Smoking, With Respect!

Setiap hari di hampir setiap jam, di setiap pojok jalan, rumah, kantor, pasar dan tempat lain dapat ditemui orang-orang memegang rokok menyala. Tidak hanya itu, di mal-mal dengan kafe mewah pun sama. Iya, mereka sedang merokok. Di pinggir-pinggir jalan, mereka merokok bergerombol begitu pula di pasar-pasar dan tempat lain.

Melarang orang merokok adalah hal terberat yang harus dilakukan. Sebagai negara merdeka, toleransi untuk saling menghormati juga menjadi asas yang harus dipegang. Masing-masing warga negara punya hak dan salah satu hak mereka adalah merokok. Ketika ada orang yang merokok di dekat saya, saya akan berusaha memberikan toleransi. Namun, jika saya tidak kuat lagi dengan semburan asap maka saya akan protes. Itu cukup.

Thank You for Smoking, with Respect!

Tapi persoalannya semakin kompleks ketika kemudian ditemukan anak-anak merokok. Mereka adalah anak-anak yang berumur kurang dari sepuluh tahun. Miris. Hal ini terjadi tentu karena anak-anak tersebut terbiasa melihat lingkungan sekitar dimana orang-orang bebas merokok. Anak-anak adalah peniru, selalu ingin tahu dan perayu yang handal. Mereka bisa merengek untuk mencoba apalagi tidak diimbangi pendidikan yang baik.

Saya tidak akan melarang merokok dan saya juga tidak antipati terhadap rokok. Karena perusahaan-perusahaan rokok itulah acara-acara digelar dengan meriah dan masih banyak lagi yang mereka berikan sebagai bentuk CSR. Silakan merokok jika memang anda seorang perokok, tapi tolong merokok-lah dengan sopan. Caranya? Ada banyak sekali, tapi saya hanya mau mengkritisi satu saja. Tidak merokok di depan anak-anak di bawah umur 18 tahun. Tapi bagaimana caranya? Banyak. Misalnya, jangan merokok di tempat umum atau kendaraan umum.

Kasihan anak-anak itu jika harus menghirup asap rokok sejak masih kecil. Udara yang dihirupnya menjadi tidak sehat. Dia pun menjadi terbiasa dan berkeinginan mencoba. Budaya merokok di negara Indonesia ini sudah menjadi sorotan dunia. Mereka mengatakan bahwa budaya merokok di negara ini terlalu bebas. Mengharapkan usaha dari pemerintah juga tidak ada gunanya.

Jadi, untuk para perokok, sebagai hadiah ulang tahun bagi kemerdekaan Indonesia yang ke-65 tolong untuk tidak merokok di depan anak-anak. Saya akan sangat menghargai itu dan saya ucapkan ‘Thank you for smoking, with respect‘! Saya rasa yang tidak merokok seperti saya juga seiya-sekata, seikat-sebakul. Lagipula, para wanita mengatakan: pria tidak merokok itu #seksi. Plus, satu lagi, buang puntung rokok di tempatnya. Mari budayakan hidup bersih. (tpos/sm/vi)

Hikmah, Untuk Kita

Ketulusan vs Kepura-puraan

Ketulusan dan Trick ~ Ahmad Saiful MuhajirSeorang teman yang bisa dikatakan seorang ‘socialite’, kalau diamati lebih teliti, banyak menggunakan pujian bila bertemu dengan teman temannya.  Karena pujiannya itu terlalu monoton yaitu selalu mengatakan bahwa lawan bicaranya terlihat ‘lebih langsing’, teman kita ini langsung terlihat ketidak tulusannya. Bahkan bila menemuinya, saya teringat kata kata penyair Irlandia,  Oscar Wilde: “How clever you are, my dear! You never mean a single word you say”. Teman saya, yang  lebih ekstrim lagi, pasti akan berkomentar: “muna….” ( baca: munafik).

Kita begitu banyak menyaksikan transasksi sosial yang terasa tidak diwarnai dengan hati, saling cium pipi bukan sekedar antara ibu ibu tetapi juga  bapak bapak, kepura-puraan beramal, spiritual, bijak, bermoral, yang sering membuat kita gundah, dan mencari-cari, siapa di lingkungan sosial kita ini yang bisa dipegang, janji, kata-kata maupun nasehat-nasehatnya. Pertanyaan juga: apakah  kesan yang kita dapat itu, disadari oleh individunya sendiri? Apakah ia sadar bahwa kata kata ungkapannya serta ekspresinya penuh kepura-puraan?

Almarhum ayah saya selalu mengingatkan: “orang pada dasarnya selalu berniat baik, kalau dia berbuat tidak baik dimata kita, mungkin ia tidak menyadarinya”. C.G.Jung, psikiater Swiss, juga  berpendapat :” the hypocrisy is based on being   not aware of the dark or shadow-side of their nature”. Membentuk  ‘image’, berbasa basi, berusaha agar terlihat ‘baik’ adalah revolusi individu untuk mengembangkan, bahkan memperbaharui dan mempertahankan eksistensinya di lingkungan sosial.

Pertanyaannya bisakah hal ini kita lakukan dengan ‘self-knowledge’ yang lebih tinggi agar supaya kadar ketulusannya juga bisa kita kembangkan? Bukankah dengan kesadaran diri yang lebih tinggi, rasa kemanusiaan yang ‘genuine’ akan lebih dirasakan individu sehingga hal ini bisa mengurangi ‘rasa keterasingan’ dan rasa percaya pada sesama manusia?

Dalam sebuah pertemuan antara direktur pemasaran dan para kepala cabangnya di sebuah perusahaan raksasa, sang direktur menceriterakan betapa ketulusan bisa mengubah keluhan menjadi pengembangan bisnis. Tentunya dalam  situasi keluhan, mulut manis, senyum dan semua tata cara servis yang standar tidak selalu bisa berlaku lagi. Para pebisnis sangat paham dan bisa membedakan antara komitmen, permintaan maaf dan janji yang dikatakan dengan tulus dan basa basi apalagi kosong.  Kecocokan omongan dengan kenyataan di masyarakat sebenarnya  hanya memberlakukan ujian satu kali: ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Terkadang, tanpa perlu ujian, orang yang cukup matang sudah bisa merasakan tulus tidaknya seseorang dalam satu kali pertemuan.

Demikian pula di organisasi. Bisa saja seseorang karena pandainya, katakanlah  bermanis mulut, mendapatkan simpati dari atasannya. Tentunya arah penilaian yang obyektif terletak pada kapabilitasnya. Disinilah ujian individu sebenarnya, untuk kembali menelaah dirinya: ”kompetenkah saya?” Kondisi yang sering ‘mengangkat’ individu karena kekuatan ‘lobby’ nya ini, sering menyebabkan individu malas berintrospeksi dan terbawa pada situasi ‘semu’ yang penuh ketidak benaran. Bahkan, ia akan berusaha keras, agar ketidak benaran ini dipertahankan melalui manuver-manuver yang ‘tricky’ lagi. Sebenarnya individu yang mulai lepas dari ‘self knowledge’ begini, sudah kehilangan kesempatan emas untuk maju. Ia mempunyai pandangan yang semu mengenai dirinya. Dan mulai tergantung pada atribut, norma, manuver sosial palsu saja untuk mempertahankan posisinya.

Tanpa harus mengurangi rasa percaya diri, sebenarnya setiap individu perlu duduk dan bersandar, untuk menelaah dirinya. Apakah informasi, pengetahuan, kapabilitas, ketrampilan, serta praktik-praktik yang dilakukannya  masih sejalan dengan kaidah profesi, kejujuran dan ‘fairness’ di lingkungan sosial yang  general. Groucho Marx: “The secret to life is honesty and fair dealing. If you can fake that, you’ve got it made”.

Dengan contoh bahwa ketulusan bisa menguntungkan, bahkan di bidang bisnis, maka kita memang pantas mempertimbangkan untuk memperkuatnya dari hari ke hari. Kita bisa memulainya dengan lebih mendengarkan kata hati: apakah apa yang saya ucapkan ini benar datang dari lubuk hati yang paling dalam atau sekedar di bibir saja? Kitapun bisa meyakinkan diri, bahwa  ketidaktulusan bila diteruskan tidak akan berbuah manis. Bayangkan bila kita menjadi seorang pemimpin, bisakah kita membangkitkan ‘trust’ bila tidak tulus? Trust bila menjadi pelumas hubungan dan transaksi bisnis, sementara ketidaktulusan mau tidak mau akan menjadi penghambat.  Tanpa ketulusan, kebersamaan pun akan kering, tidak ber’nyawa’.

Beberapa teman yang tergabung dalam organisasi besar yang penuh dengan office politics, seperti menusuk dari belakang dan saling sikut menyikut, tetap bisa berjalan maju dengan tenang dan tidak  mengesankan terimbas oleh adanya pengaruh basa basi, cari muka, dan ketidak tulusan. Ketika saya tanyai salah seorang teman,  apa rahasianya, ia tenang tenang menjawab, “saya banyak melakukan komunikasi tertulis, di hampir semua komunikasi, formal dan tidak formal”. Dengan semua komunikasi tercatat begini, hampir tidak mungkin orang mengingkari apa yang pernah ia katakan. Selain itu, dengan menulis, kita bisa bermain kata-kata, mencari  ekspresi yang tepat, dan sekaligus bisa justru membudayakan transparansi, karena pembicaraan atau hasil pembicaraannya bisa kita ‘share’ dengan pihak yang perlu mengetahui dan terkait dengan urusan yang sedang dikerjakan. Kitapun dalam pemecahan masalah bisa menyebut kembali sasaran utama perusahaan sehingga dengan sendirinya motif pribadi akan tersingkir dan didominasi dengan motif untuk men-support sasaran dan nilai nilai perusahaan.

Menulis membuat kita lebih ‘aware’” ungkapnya. Bila terasa masih ada agenda agenda pribadi, kita tidak perlu segan segan memberantasnya, kepentingan lembaga yang sebetulnya adalah kepentingan umum, pasti tidak bisa kalah oleh kepentingan pribadi. Rasanya tetap lebih baik membuang kemunafikan dari perbendaharaan ekspresi kita, karena metode itu perlahan lahan akan membunuh pribadi kita sendiri.

[oleh Eileen Rachman & Sylvina Savitri via Experd]

comic, life, Tips, viewpoint

This is How I Stay Healthy

Health is expensive.Everyone wants stay healthy, even animals and trees I think. When we got sick, we went to the hospitals or our doctors. And we never forgot to pray to our GOD asked our health back as soon as possible. lol Some worked out and didn’t a part. GOD knew how to treat people, I guess.

While other people went to hospitals or doctors because they got sick, I didn’t. Never. I didn’t went to any doctor or hospital when I was sick for, about 2 or maybe 3 years. So, what did I do to get my health back? I stayed at the house and treat myself as well as I could. Eat what I need to eat and keeping myself in warm. I hate cold when I was sick, a lot. Some friends asked me to went to the hospital, but I refused their request, frankly.

I hate hospitals, a lot. It is not because of the injection or something. I hate hospitals and doctors because I hate to know that something was wrong with me. I know, some of you disagree with me. But, this is my choice. :)

Well, barely I got sick and thanks to Alloh who took care of me very well and kept me in health. Oh, today I found this cartoon from Glasbergen and I think this is how I am:

This is how I stay healthy.
Anyway, I am not going act like this forever. I have a plan for this ‘weird’ act. So, don’t you worry. I know myself and I know what’s best for me. (tpos/sm/li)

Hikmah, life, viewpoint

The Planetwalker; Listen More and You Will Understand More

John Francis, The PlanetwalkerThis guy (left) did not say a word within 17 years. His name is John Francis and nicknamed as planetwalker because he didn’t use any motorized vehicles for 22 years. 17 years in silent and 22 years in walk from one state to another! I cannot even imagine how was that went. The reason is, his community was arguing with him what to do when two tankers crashed near the Golden Gate bridge in 1971. Those tankers spilled 840,000 gallons of oil into the water near San Francisco.

His experience of not talking taught him the value of listening. By didn’t say a word, he also taught classes and got a Ph.D in Land Management. He also got two more college degrees. Unbelievable!

By staying silent, he found that environment has changed from being about trees and species into how people treat each other. In 1990, by Earth Day he decided to back talking and the following day he was struck by a truck in Washington, DC. He convinced the ambulance crew to allow him walk to the hospital.

In TED Talk, TED Conference 2008 he said, ‘We have to do something now. We have to change now.’ to raise environmental consciousness (video below).

He wrote a book Planetwalker: How to Change Your World One Step at a Time.

I am kind of silencer (from 3 Idiots film), which means I did not talk too much. I have been trying to be a talker, but I think I am not a talker. I am a listener. I love listening when someone’s talking.

I realized, I learned much with listening. Because with listening more, more I understand about something. Image credit: by George Williams (Flickr). (tpos/sm/le)