blog, Featured, Untuk Kita

[Cerita] Jalan-jalan Ke Amazing Karimunjawa

Indah dan damai. Itulah kesan dari Kepulauan Karimunjawa (Karimunjawa Islands) yang saya kunjungi Jumat hingga Sabtu lalu. Goncangan gelombang dari laut Jawa yang begitu hebat pun rasanya terbalas setelah menikmati keindahan yang disajikan.

Jakarta, 16 Mei 2012.
Setelah jam kantor berakhir saya bergegas ke terminal Lebak Bulus. Macetnya Jakarta jam pulang kantor sungguh luar biasa. Alhasil, perjalanan dari kawasan Kuningan ke Lebak Bulus saja memakan waktu hampir dua jam. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya saya bertemu juga dengan Putri. Tiket kami adalah untuk bus AC ekonomi jurusan Semarang. Liburan panjang membuat semua tiket ludes tak tersisa. Belakangan kami tahu bahwa kami kehabisan kursi dan terpaksa duduk di samping sopir. Panas oleh mesin di bawah dan bersandar pun tak bisa. Atas nama backpack, begitu kami menghibur diri.

Semarang, 17 Mei 2012.
Macetnya perjalanan dari Jakarta ke Semarang membuat perjalanan kami terlambat dari dugaan. Jika semestinya kami sampai pada pukul 4 pagi, kami baru menjejakkan kaki di Krapyak pukul 8. Setelah bergegas sarapan di sebuah warung di pinggir jalan kami melanjutkan perjalanan ke Jepara menggunakan bus kecil. Tak ada peta. Kami pun tak tahu harus turun di mana nantinya. Pukul 10.00.

Jepara, 17 Mei 2012.
Sebelum akhirnya turun dari bus kecil dari Semarang, kami menanyakan perihal lokasi pelabuhan dengan terminal. Untungnya, lokasinya tak jauh dan kenek bus dengan senang hati menunjukkan cara mencapai pelabuhan tersebut: becak. Saat itu sekitar pukul 2 siang dan matahari sungguhlah terik. Sesampainya di pelabuhan, yang jaraknya sekitar 1 km dari tempat kami turun dari bus, suasana sepi. Loket penjualan tiket pun tutup. Express Bahari maupun KMP Muria.

Oleh tukang becak, kami diberitahu bahwa tiket kapal ke Karimunjawa mungkin dapat diperoleh di rumah. Kami pun ke sana dan hal pertama yang terlihat adalah, tiket tanggal 18 dan 19 Mei telah habis. Hal ini diperkuat dengan uraian pegawai kapal akan ramainya pembeli tiket untuk dua hari tersebut. Lemas dan putus asa, ditambah panasnya matahari di pantai Jepara. Entah seperti apa wajah kami siang itu. :(

Kenapa tidak berangkat siang itu juga? Iya, kapal Bahari Express tidak beroperasi pada hari Kamis. Berharap ada yang membatalkan tiketnya, kami meninggalkan nomor handphone kepada penjual tiket agar dapat menghubungi kami esok hari.

Dengan gontai kami berjalan ke komplek Pantai Kartini. Dengan bantuan seorang tukang becak, akhirnya kami mendapatkan penginapan untuk nanti malam. Rencananya adalah: malam ini menginap, besok pagi ke pelabuhan untuk mengadu nasib. Sementara Putri tetap bersemangat, hari itu saya benar-benar putus asa dan hilang harapan. Tapi apa daya.

Setelah mandi dan beres-beres, kami berkeliling di Pantai Kartini ini. Tak banyak yang bisa dinikmati sebenarnya. Karena sebagian besar bentuknya adalah taman. Tak dinyana, ada sebuah pos yang bertuliskan wisata ke Pulau Panjang. Berniat menghibur diri, sore itu kami membeli tiket dan berangkat dengan kapal kecil bersama rombongan lain. Setelah 15 menit di perjalanan, tibalah kami di tujuan. Pulau Panjang.

Well.. Pulau ini ternyata bagus. Tak terlalu bersih, namun cukuplah untuk meredakan kekecewaan kami soal tiket kapal. Toh, masih bisa bermain-main air dan pasir pantai. Ketika akhirnya matahari tenggelam di ufuk barat, kami pun kembali ke Kartini dengan diliputi hati yang cerah. Lumayan. :D

Jepara, 18 Mei 2012.
Jadwal keberangkatan kapal adalah pukul 08.00. Namun, sebelum pukul 07.00 kami sudah di pelabuhan. Bersama dengan ratusan orang lainnya dilengkapi ransel dan koper masing-masing kami memenuhi pelabuhan. Tak ada kabar dari penjual tiket tentang pembatalan. Untungnya, beberapa menit sebelum kapal berangkat Putri berhasil mendapatkan dua tiket dari rombongan wisata yang pemiliknya secara kebetulan sakit. Antara bahagia dan tak enak hati. :D

Karimunjawa, 18 Mei 2012.
Seharusnya perjalanan memakan waktu 2 jam saja. Namun, karena gelombang perjalanan menjadi lebih lama yaitu 3 jam. Tiba di dermaga Karimunjawa yang pertama kami saksikan adalah gunung. Ternyata ada gunung juga di pulau ini. Melihat ukuran gunungnya, pulau Karimunjawa ini cukup besar juga.

Mengabaikan tawaran losmen dari koordinator rombongan wisata, kami pun menyusuri jalanan berniat mencari home stay untuk menginap. Mau cari yang murah dan bertualang, begitulah alasannya. Jalanan di pulau ini lumayan bagus. Aspal berlapis pasir dengan ornamen bolong-bolong tipis di sana-sini. Suasana sepi-sepi saja. Kendaraan lewat pun bisa dihitung dengan jari. Tapi, sekalinya lewat mereka berkecepatan 60km/jam. :|

Penginapan pun didapat. Dengan biaya Rp. 60,000 semalam kami mendapatkan kamar dengan kamar mandi di dalam, air minum serta gratis membuat teh atau kopi sendiri.

Karena besok harus kembali ke Jepara, maka waktu yang kami punya hanya siang hingga malam nanti saja. Dengan bantuan pemilik home stay kami berhasil mendapatkan kapal untuk berkeliling ke pulau-pulau tetangga. Tentu saja, tak lupa menyewa peralatan untuk snorkel yang mendapatkan bonus diantar sampai ke pelabuhan rakyat menggunakan motor secara gratis. :D

Kapal yang membawa berkeliling ini kecil dan muat paling banyak 10 orang. Ada kapal lain yang lebih bagus sebenarnya, namun tentu saja harganya mahal. Tujuan pertama adalah snorkel di Pulau Menjangan Kecil. Setelah dalam perjalanan selama kurang lebih setengah jam, kami pun tiba di lokasi snorkel. Pasang alat dan.. byurr.. Karena ini adalah pertama kalinya saya snorkel, plus nggak bisa berenang dan arus yang lumayan menyeret, alhasil saya baru bisa menguasai diri dan menikmati snorkel setelah telapak kaki saya sobek karena menginjak batu karang. Maaf.

Tak seindah lautan dalam memang. Fyi, saya adalah fans laut dalam. Namun, snorkel di lokasi ini sungguhlah bagus. Apalagi bisa bermain dengan rombongan ikan-ikan. Oh, my. Kalau bukan karena waktu, saya mungkin betah berjam-jam di sini. Selesai dari Menjangan Kecil, kami melanjutkan perjalanan ke Cemara Kecil.

Ini adalah pulau kecil. Untuk bisa berkeliling membentuk lingkaran paling butuh waktu 1 jam jalan kaki. Tapi.. Indahnya sungguh luar biasa. Pantai dangkal dengan pasir putih di bawahnya adalah pemandangan yang mengagumkan. Tak ada yang bisa dilakukan memang. Tapi jalan-jalan di pulau ini saja sungguh membahagiakan. You have to visit this tiny island!

Sebenarnya kami bermaksud snorkel di pulau Gosong Batu, yang katanya lebih bagus dari Menjangan Kecil. Sayang sungguh sayang arus tak bersahabat. Dengan menelan kecewa, atas saran pemilik kapal kami langsung ke pantai Ujunggelam.

Jika di pulau kecil nan indah Cemara Kecil tak ada orang, lain halnya dengan pantai Ujunggelam ini. Di sini terbilang ramai dan pengunjung dapat menikmati es kelapa muda maupun makanan. Pantai ini kurang lebih sama indahnya dengan di Cemara Kecil, hanya saja lebih ramai karena tempat docking kapal dan peristirahatan. Pantai ini selalu ramai ketika sore hari karena tempat paling pas untuk menanti datangnya sunset.

Karena mau mencari sensasi berbeda kami pun beranjak dari Ujunggelam dengan tujuan pulau Menjangan Besar. Di tempat ini pengunjung dapat snorkel dengan hiu-hiu. Ukuran hiunya tak terlalu besar memang dan sudah jinak. Entah ada yang pernah digigit atau tidak, namun saya sendiri agak malas karena diletakkan dalam kotak dengan dinding batu semacam kolam. Nggak natural menurut saya. :p

Akhirnya, kami justru jalan-jalan menyusuri pulau dan mengabadikan sunset. Jika yang lain dari Ujunggelam, kami mengabadikan sunset dari Menjangan Besar. Well, sayangnya awan lebih menyukai sunset daripada kami sehingga sunset tak seindah yang diharapkan. Dan matahari pun tenggelam. Saatnya pulang.

Waktu makan malam pun tiba. Selesai membersihkan diri kami bergegas menuju lapangan di pusat kota untuk mencari makanan. Di sini, ketika malam datang, akan berjejer banyak penjual makanan. Mulai dari gado-gado, soto hingga ikan bakar. Dengan diterangi dua lampu besar, lapangan sepakbola pun disulap menjadi tempat makanan beralaskan tikar-tikar. Kami pun menikmati ikan Payus bakar dengan ditemani semilir angin dari pantai yang tak jauh dari lapangan.

Karimunjawa, 19 Mei 2012.
Setelah mengepak barang-barang, kami pun bersiap menuju dermaga untuk kembali ke Jepara. Pukul 08.00 ketika seharusnya pintu dermaga dibuka, kami justru mendapatkan kabar bahwa kapal tidak dapat berangkat karena gelombang tinggi, 2.5+ meter, sampai batas waktu yang tak ditentukan. Dapat saya bayangkan tingginya ombak sama dengan tinggi kapal. Semua penumpang pun kecewa dan hanya bisa ngopi atau ngemil sambil gelisah. Tak terkecuali saya. Sebagian lainnya kembali ke hotel dan menunggu pengumuman selanjutnya.

Setelah terdengar rumor bahwa kapal tak jadi berangkat, pukul 11.30 coast guard Karimunjawa dan kapten Cip memberitahukan bahwa kapal berangkat setengah jam lagi. Ah, akhirnya kami bisa pulang jua. Alhamdulillah.

Jepara, 19 Mei 2012.
Karena kuatir pusing, kami memilih duduk di dek atas saat di kapal. Tak beruntungnya, gelombang masih cukup tinggi sehingga sepanjang dari Karimunjawa ke Jepara kami sukses diguyur oleh air laut. Kapal kami hujan lokal untuk penumpang di dek atas. Ketika kami turun, terpaksa harus mencari tempat berbilas dan berganti baju lagi.

Toh, penderitaan akibat gelombang laut Jawa ini tak seberapa dengan kebahagiaan kami bisa mengunjungi Karimunjawa.

How to get there:

  • From Semarang (1): Go to Tanjung Emas harbour and get the Kartini (ship). This ship will take you from Semarang to Karimunjawa.
  • From Semarang (2): Go to Kartini beach, Jepara. Take Bahari Express or KMP Muria to Karimunjawa.

Tips:

  • Maintain your travel itinerary. Surprise plan (like we have) is not recommended.
  • Ask local people for help or infos.

To do:

  • Snorkelling
  • Diving
  • Fishing
  • Playing :p

To visit:

  • Menjangan Kecil island
  • Cemara Kecil island
  • Ujunggelam beach
  • Menjangan Besar island
  • Gosong Batu island
  • Gosong Pasir island
  • Birds island
  • Etc.

Info:

  • Bus rates from Semarang to Jepara: IDR 10,000
  • Express Bahari’s contact number: +6285-222-500-777, +6285-777-500-777
  • Express Bahari ticket: VIP: IDR 104,000. Executive: IDR 84,000
  • Room rates: IDR 50,000 to IDR 1,500,000: home stay to hotel rooms
  • Boat rental rates: IDR 250,000 to IDR 700,000
  • Snorkel gears: IDR 35,000

More photos can be found in my Flickr’s set and Putri’s.

PS: Selain kualitas kamera kami yang hanya menggunakan Nexus S (4G) dan Sony Ericsson J201, ada banyak keindahan yang tak terekam oleh kamera kami. Kunjungilah sendiri. :)

blog, Miscellaneous

[Cerita] Jalan-jalan ke Museum di Tengah Kebun, Jakarta

Kemarin, Sabtu, 14 April 2012, saya diajak oleh si peri-gigi untuk jalan-jalan ke sebuah museum yang saya nggak punya bayangan sama sekali. Informasi yang saya dapat dari si peri hanyalah sebuah museum di tengah kebun, bertempat di Kemang, untuk masuk harus janjian sama yang punya, minimal tujuh orang, dan isinya barang kuno. Selain itu? Tak ada.

Setelah bermalas-malasan, karena panas, akhirnya saya berangkat juga bermodalkan handphone dengan Maps aktif. Sebelumnya saya sudah mencari lokasi via Maps dan berhasil menemukannya, paling tidak saya anggap begitu. Informasi dari Maps adalah saya bisa menggunakan Kopaja S605A untuk sampai di tempat dari terminal Blok M. Faktanya, S605A tidak lewat di depan museum itu. Pfiuh! Jadi, saya harus naik ojek dengan membayar 5000 rupiah.

Setelah beberapa saat, ternyata pasukan hanya terdiri dari enam orang. Kurang satu. Cilaka dua puluh sembilan akar tiga! Apa boleh buat, sudah sampai, jadi ya masuk saja. Siapa tahu beruntung dan dibolehkan.

“Pak, maaf. Ternyata kami hanya bisa berenam. Satu orang tidak bisa datang,” begitu kata peri kepada bapak penjaga. Beberapa detik kemudian akhirnya si penjaga menjawab, “Ya. Tidak apa-apa.” Alhamdulillah!

Akhirnya kami memulai dengan saling berkenalan dengan bapak penjaga yang bernama (Bapak) Mirza. Beliau adalah keponakan dari pemilik museum, Bapak Djalil. Petualangan pun dimulai dengan peserta: saya, @fairyteeth, @riuusa, @goenrock, @_plukz, dan @putripuuch.

Satu demi satu wilayah yang penuh dengan koleksi kami jelajahi dimulai dari sisi paling depan. Ada arca-arca, topeng-topeng, hingga fosil jaman dinosaurus. Ada pula aksesoris rumah mulai dari pintu berikut engsel hingga hiasan pintunya. Berlanjut ke dalam dan seterusnya dengan penjelasan sebagian koleksi oleh Pak Mirza sambil membawa buku besar tentang koleksi yang ada.

Museum ini sebenarnya adalah rumah tinggal. Meja makan yang menggunakan kursi dan meja antik hingga lampu digunakan sebagai tempat makan sehari-hari. Ruang kerja dari kayu-kayu kuno, tempat tidur dari ranjang abad ke-18, hingga kamar mandi dengan perabotan milik kaisar Jerman. Semuanya tertata dengan rapi meskipun tidak berurut. Random di museum ini justru menjadi unik karena tidak ada koleksi membosankan dari satu abad saja dalam satu ruang.

Semua koleksi yang dibeli sendiri oleh Pak Djalil ini nampak dirawat dengan sangat baik jika dilihat dengan seksama. Tak ada debu atau jaring laba-laba. Koleksi guci dari jaman kerajaan China, pot tertua bernama Amphora yang ditemukan dari dasar laut, atau patung-patung kubur nampak terawat dan berharga.

Selain disimpan dalam rumah, sebagian koleksi juga diletakkan dalam sebuah taman/kebun. Ada torso, arca-arca, patung-patung Buddha maupun kursi-kursi yang masih bisa digunakan. Dan yang lebih menarik di taman tersebut ada banyak tanaman serta pohon kelapa yang sempat membuat saya jadi ngidam. :|

Kami memulai tour dengan didampingi dan diarahkan oleh Pak Mirza dari pukul 12.30 dan berakhir pada pukul 15.00. Setelah menikmati sajian minum gratis, kami bertemu dengan Pak Djalil si pemilik yang sudah berumur 72 tahun. Sakit yang beliau derita belum kunjung sembuh walau sudah berobat ke dokter terhebat di New York dan Jerman sekalipun sehingga harus duduk di kursi roda saat menemui kami.


Koleksi yang dimiliki Pak Djalil ini sengaja dirawat sendiri supaya kita (masyarakat) dapat menikmati dan menggali sejarah. Beliau tidak bisa mempercayakan ke pemerintah karena apa yang sudah kita tahu tentang museum-museum itu. Museum di Tengah Kebun adalah museum milik masyarakat.

Yang beliau minta adalah agar kita menjaga museum ini dengan mengunjunginya. Gratis, dengan tetap menghargainya.

Anyway, sewaktu kami masuk, di pojok lorong masuk ada seseorang yang membawa kamera. Belakangan kami tahu bahwa dia adalah kameramen dari KompasTV yang sedang meliput kegiatan di Museum di Tengah Kebun. Jadi, bonus buat kami kemarin adalah syuting untuk KompasTV dan akan tayang di KompasTV pada hari Jumat, 20 April 2012 pukul 15.00 WIBB. Jangan lupa nonton ya. Hehe..

Summary jalan-jalan ke Museum di Tengah Kebun
Alamat: Jalan Kemang Timur Raya No. 66, Jakarta Selatan
Kontak: +62-21-7196907

Biaya: Rp. 7000
* Transportasi Kopaja S605A dari Blok M ke Jl. Kemang Timur Raya – Rp. 2000
* Transportasi ojek dari Jl. Kemang Timur Raya ke Museum – Rp. 5000

Koleksi:
* Benda-benda jaman dinasti China
* Arca-arca
* Patung-patung Buddha
* Kerajinan dari berbagai daerah
* Berbagai benda keramik dan perak dari jaman kuno
* Koleksi guci dan pot
* dan 2000 koleksi lainnya

PS: Maaf karena saya tidak mengambil banyak gambar

blog, Featured, Miscellaneous

Cerita: Jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas, Bogor Cianjur

[RALAT] Kebun Raya Cibodas terletak di Kabupaten Cianjur, bukan Bogor. Terima kasih kepada Dika yang memberikan pembetulan dan mohon maaf.

Setelah mengalami berbagai permasalahan akhirnya jadi juga rencana jalan-jalan ke Bogor. Hari itu saya bangun kesiangan sebenarnya, sekitar pukul 9 lewat sekian, lantaran begadang dan baru tidur saat pagi menjelang. Merasa telah merencanakan ke Bogor, saya pun menghubungi Icit karena kami akan pergi bareng. Awalnya kami berencana bertiga bersama Putri, tapi karena Putri harus menjadi budak kapitalis akhirnya hanya berdua saja. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat walau hari telah beranjak siang. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. :D


Kami memulai perjalanan ke Bogor dari Stasiun Sudirman menggunakan kereta tanpa tahu akan naik apa dari Bogor ke Cibodas. Dari informasi yang saya dapat ada beberapa versi untuk sampai di Cibodas. Oleh karena itu saya putuskan bakal tanya-tanya saja.

Pukul 10.31 kereta AC dengan tujuan Bogor pun tiba di Stasiun Sudirman. Kami naik ke kereta yang masih sepi saat itu dan belakangan mulai ramai di Stasiun Lenteng Agung. Kereta kami tiba di stasiun Bogor pada pukul 11.40. Suasana siang itu sungguh amat menyengat.


Bertanya pada tukang ojek di sekitar stasiun, kami disarankan menggunakan angkutan bernomor 02. Dari angkutan kami ditunjukkan ke angkutan berikutnya untuk turun di mana dan begitu seterusnya. Setelah berjam-jam di jalan tanpa berhenti dari satu angkutan ke angkutan lain akhirnya kami sampai juga di Cibodas pukul 14.30. karena menurut saja, kami bahkan naik bus Jakarta – Bandung dari Cisarua hingga Cibodas bawah.

Sebelum akhirnya tiba di Cibodas kami melewati daerah Kebun Teh Gunung Mas yang benar-benar indah luar biasa. Bukit-bukit hijau dengan kebun teh yang tersusun dengan rapi dan cantik di kanan dan kiri jalan sungguh mempesona. Tatanan yang sungguh sempurna. Di sini saya sudah ingin turun dan berlari ke bukit-bukit itu alih-alih meneruskan perjalanan ke Cibodas yang tak kunjung sampai.

Oke, kembali ke Cibodas. Setelah membeli tiket masuk seharga Rp. 6.000,- untuk satu orang, kami pun menuju ke dalam. Sesampainya di dalam kami hanya melihat jalan raya dengan pepohonan dan tanah lapang berumput hijau yang luas. Melihat tanah lapang nan hijau saya ingin guling-guling di situ yang kemudian saya urungkan karena ternyata ramai. Malu. :D

Tanpa peta wilayah dan hanya berbekal informasi dari internet kami berjalan terus untuk ke Taman Bunga Sakura, yang katanya bisa didapati dengan berjalan lurus dari pintu masuk. Setelah berjalan beberapa ratus meter masih ditemani tanah lapang dan pepohonan akhirnya kami tiba di taman tersebut.

Di Taman Bunga Sakura ini seharusnya ada bunga-bunga Sakura, namun mungkin karena belum musimnya jadi saya tidak melihat bunga Sakura. Ternyata taman ini cukup ramai. Mungkin karena posisinya yang dekat dengan pintu masuk. Ada berdua-duaan, ada yang beramai-ramai dengan kelompok da nada pula yang membawa anaknya. Mereka duduk-duduk di taman ini dan menikmati aliran sungai kecil yang mengalir dari air terjun di pojok taman ini.

Termasuk di bagian taman ini terdapat pula aliran air yang sengaja dibuat membelah jalan dengan batu-batu kecil yang menambah indahnya pemandangan. Di bagian sungai yang membelah jalan ini biasanya anak-anak kecil bermain bersama orang tuanya. Ketika ada mobil hendak lewat, mereka terpaksa minggir terlebih dahulu.

Karena lapar dan belum makan siang kami memutuskan menikmati santap siang di sebuah pondok makan di pojok taman. Di sini hanya ada menu mie ayam, mie rebus/goreng dan beberapa kue ringan. Tidak ada nasi dan tidak juga telur. Kata si penjual ayamnya sudah mati dimasak buat mie ayam jadinya nggak bertelur. Hehe..

Setelah menikmati santap siang kami meneruskan perjalanan dengan tujuan Air Terjun Ciismun. Informasi jalan saya dapatkan dari penjual di pondok makan tadi, yaitu ikuti jalan raya blablabla dan seterusnya. Saat diberikan petunjuk sebenarnya saya tidak paham tetapi ya jalan saja. Nekat.

Jalanan ternyata tidak cukup bersahabat dengan tanjakan dan turunan yang luar biasa melelahkan. Kami terengah-engah dan membungkuk serendah mungkin karena tanjakan yang sungguh berat. Jarak yang kami tempuh juga tidak dekat. Suasana begitu sepi hingga suara angin dan napas kami dapat kami dengar sendiri. Di sisi kanan dan kiri hanya ada pepohonan tinggi dan besar serta rumput-rumput liar. Ketika tiba di persimpangan kami akan melihat papan petunjuk yang terpasang dan memilih salah satu arah dengan harapan tidak tersesat.


Setelah berjalan lebih dari 30 menit kami tiba di persimpangan jalan yang ditutup portal. Kebetulan di pojok ini ada beberapa orang termasuk anak-anak kampung dan kami pun bertanya bagaimana cara mencapai Ciismun. Menurut mereka, kami bisa lurus ke bawah kemudian ke kanan melewati hutan di depan kami. Jika sebelumnya adalah hutan dengan jalan beraspal, kali ini adalah hutan dengan jalan setapak. Mereka sebenarnya mencoba menawarkan jasa untuk mengantar namun kami menolak.

Lagi, dengan modal nekat dan informasi dari anak-anak tadi kami melanjutkan melewati pohon-pohon besar dan jalan setapak yang nampaknya biasa dilewati oleh penduduk untuk mencari kayu bakar. Setelah beberapa menit akhirnya kami tiba di jalanan setapak dengan susunan batu yang rapi seperti jalanan di kampung jaman dulu. Dari strukturnya yang rapi, ini terlihat seperti jalan resmi menuju ke air terjun.

Jalanan berbatu ini diapit oleh dinding tebing yang rimbun dengan pepohonan dan semak belukar. Di samping kiri terdapat sungai kecil yang mengalir bersumber dari air terjun. Suasana yang sangat sepi membuat gemericik air yang mengalir dan menyentuh bebatuan serta kerik jangkrik menjadi pengiring perjalanan. Romantis sekali. LOL

Di dua titik dalam perjalanan ini kami bertemu dengan anak-anak berseragam sekolah, berjumlah 5-6, yang mengikuti kami dan terus menawarkan jasa mengantar hingga Ciismun. Ketika tawaran mengantar tidak kami gubris mereka melanjutkan dengan meminta dikasihani (uang). Mereka terus mengikuti dan berbicara hingga puluhan meter hingga akhirnya kami menyerah. Saya katakan dua kali karena setelah yang ‘tim’ pertama dating lagi ‘tim’ berbeda dengan tujuan sama.

Selain dua ‘tim’ tadi, di sepanjang jalan ini juga dapat kita temui ibu-ibu yang menggendong kayu bakar sepulang dari hutan. Saya tidak memotret karena merasa tidak enak hati. Selain itu saya juga bertemu beberapa orang yang kembali dari air terjun.

Pukul 15.40 akhirnya kami tiba di Air Terjun Ciismun ini. Adalah kebahagiaan yang saya rasakan karena berhasil ke sini. Menikmati indah jatuhnya air Ciismun. Suasana sore itu cukup ramai pengunjung mulai dari yang sekeluarga, se-geng, ataupun hanya berdua. Alhamdulillahnya, di sini terdapat musholla sehingga kami bisa menunaikan sembahyang.

Memasukkan kaki untuk berwudlu di sungai ini membawa sensasi tersendiri. Selain segar, kaki saya yang direndam selama beberapa menit ini terasa ditusuk oleh dinginnya air. Literally. Di sini saya hanya mengambil gambar dari satu sisi ke sisi lain. Pengunjung lain ada yang berfoto layaknya pre-wedding, saling memotret, foto beramai-ramai dan ada satu orang yang mandi di bawah air terjun.

Puas menikmati air terjun dan mengabadikan dengan kamera si Eva, pukul 16.30 kami memutuskan kembali karena tidak mau mendapati gelap di tengah hutan. Terlebih kami berjalan kaki. Di perjalanan pulang, karena ada banyak cabang jalan menuju pulang, kami memilih jalan setapak yang entah seperti apa di depan. Modalnya ya nekat kali. Kali ini Icit yang mempelopori. Untungnya kami berbarengan dengan dua cowok yang salah satunya membawa gitar. Belakangan kami tahu bahwa mereka berdua adalah mahasiswa semester akhir yang sedang pacaran refreshing.

Jalanan yang kami lewati ini rimbun oleh semak belukar dan menanjak sekali. Hampir sama dengan jalanan ketika kami berangkat kecuali ini lebih panjang dan curam. Setelah beberapa menit akhirnya kami tiba di jalanan normal. Sampai di jalanan normal ini kami merasa bangga karena masih kuat untuk terus berjalan sementara beberapa orang yang sampai terlebih dulu berhenti, duduk dan minum karena terengah-engah. :D

Tapi? Di mana kita? Pertanyaan bagus. Jawaban yang muncul di otak saya hanya, hutan yang manusiawi. Setelah berjalan beberapa puluh meter, kami menemukan beberapa petunjuk jalan. Ke Rumah Kaca. Kolam Besar. Lalu di mana jalan keluar? Tidak ada petunjuk. Tapi kami nekat menyusuri jalanan dan berdoa.

Ratusan meter menembus tanah luas dan menyusuri jalanan akhirnya kami menemukan petunjuk keluar. Alhamdulillah. Saat itu matahari tidak lagi terlihat dengan jelas. Suasana cukup gelap dengan sekeliling yang masih dipenuhi pepohonan menjulang. Ketika berjalan mengikuti petunjuk keluar tiba-tiba kami mendengar suara-suara dari atas pohon. Karena penasaran saya berlari dan mencoba mendekat. Suara semakin ramai dan saya mendongak. Monyet. Satu. Dua. Empat.

Ada 4-5 monyet yang terlihat namun tidak begitu jelas karena gelapnya hutan. Saya juga tidak memotret karena yakin tidak akan mendapatkan hasil mengingat posisi monyet yang sangat tinggi. Di sisi lain saya juga mulai takut dengan gelapnya hutan ditambah hadirnya monyet-monyet tersebut. Mari melanjutkan pulang saja. Setelah berjalan terus menyusuri jalan raya akhirnya kami menemukan tanda ini.

Di sisi kanan jalan keluar ini terdapat kolam-kolam dan rumah yang entah berfungsi untuk apa. Sementara itu di sisi kiri terdapat kolam kecil dengan air mancur dan taman bunga yang juga kecil tempat kami beristirahat sesaat. Sebelum akhirnya keluar kami menemukan sebuah peta Kebun Raya Cibodas yang terpampang. Dari peta ini kami menyadari bahwa kami telah ‘mengelilingi’ separuh dari kebun dengan luas 84,99 hektar ini.

Hari sudah gelap. Udara dingin juga mulai dating bersama kabut. Yuk, pulang.

How to get there: Kebun Raya Cibodas

  • Jakarta – Bogor: KRL AC, Rp. 7.000,-
  • Stasiun Bogor – Sukasari: Angkutan bernomor 02, Rp. 2.500,-
  • Sukasari – Cisarua: Angkutan hijau dengan tujuan Cisarua (tidak ada nomornya), Rp. 5.000,-
  • Cisarua – Pertigaan Cibodas: Bisa menggunakan colt putih atau ikuti petunjuk sopir, Rp. 10.000,- (harganya sama)
  • Pertigaan Cibodas – Cibodas: Angkutan berwarna kuning tujuan Cibodas, Rp. 2.000,-

Inside: Kebun Raya Cibodas

  • Taman Bunga Sakura
  • Taman Lumut
  • Air Terjun Ciismun
  • Taman/Tanah lapang
  • Kolam Besar
  • Rumah Kaca
  • Hutan dengan berbagai jenis tumbuhan
  • dll (Google)

Foto lainnya dapat dilihat di sini.