blog, Miscellaneous

[Cerita] Jalan-jalan ke Museum di Tengah Kebun, Jakarta

Kemarin, Sabtu, 14 April 2012, saya diajak oleh si peri-gigi untuk jalan-jalan ke sebuah museum yang saya nggak punya bayangan sama sekali. Informasi yang saya dapat dari si peri hanyalah sebuah museum di tengah kebun, bertempat di Kemang, untuk masuk harus janjian sama yang punya, minimal tujuh orang, dan isinya barang kuno. Selain itu? Tak ada.

Setelah bermalas-malasan, karena panas, akhirnya saya berangkat juga bermodalkan handphone dengan Maps aktif. Sebelumnya saya sudah mencari lokasi via Maps dan berhasil menemukannya, paling tidak saya anggap begitu. Informasi dari Maps adalah saya bisa menggunakan Kopaja S605A untuk sampai di tempat dari terminal Blok M. Faktanya, S605A tidak lewat di depan museum itu. Pfiuh! Jadi, saya harus naik ojek dengan membayar 5000 rupiah.

Setelah beberapa saat, ternyata pasukan hanya terdiri dari enam orang. Kurang satu. Cilaka dua puluh sembilan akar tiga! Apa boleh buat, sudah sampai, jadi ya masuk saja. Siapa tahu beruntung dan dibolehkan.

“Pak, maaf. Ternyata kami hanya bisa berenam. Satu orang tidak bisa datang,” begitu kata peri kepada bapak penjaga. Beberapa detik kemudian akhirnya si penjaga menjawab, “Ya. Tidak apa-apa.” Alhamdulillah!

Akhirnya kami memulai dengan saling berkenalan dengan bapak penjaga yang bernama (Bapak) Mirza. Beliau adalah keponakan dari pemilik museum, Bapak Djalil. Petualangan pun dimulai dengan peserta: saya, @fairyteeth, @riuusa, @goenrock, @_plukz, dan @putripuuch.

Satu demi satu wilayah yang penuh dengan koleksi kami jelajahi dimulai dari sisi paling depan. Ada arca-arca, topeng-topeng, hingga fosil jaman dinosaurus. Ada pula aksesoris rumah mulai dari pintu berikut engsel hingga hiasan pintunya. Berlanjut ke dalam dan seterusnya dengan penjelasan sebagian koleksi oleh Pak Mirza sambil membawa buku besar tentang koleksi yang ada.

Museum ini sebenarnya adalah rumah tinggal. Meja makan yang menggunakan kursi dan meja antik hingga lampu digunakan sebagai tempat makan sehari-hari. Ruang kerja dari kayu-kayu kuno, tempat tidur dari ranjang abad ke-18, hingga kamar mandi dengan perabotan milik kaisar Jerman. Semuanya tertata dengan rapi meskipun tidak berurut. Random di museum ini justru menjadi unik karena tidak ada koleksi membosankan dari satu abad saja dalam satu ruang.

Semua koleksi yang dibeli sendiri oleh Pak Djalil ini nampak dirawat dengan sangat baik jika dilihat dengan seksama. Tak ada debu atau jaring laba-laba. Koleksi guci dari jaman kerajaan China, pot tertua bernama Amphora yang ditemukan dari dasar laut, atau patung-patung kubur nampak terawat dan berharga.

Selain disimpan dalam rumah, sebagian koleksi juga diletakkan dalam sebuah taman/kebun. Ada torso, arca-arca, patung-patung Buddha maupun kursi-kursi yang masih bisa digunakan. Dan yang lebih menarik di taman tersebut ada banyak tanaman serta pohon kelapa yang sempat membuat saya jadi ngidam. :|

Kami memulai tour dengan didampingi dan diarahkan oleh Pak Mirza dari pukul 12.30 dan berakhir pada pukul 15.00. Setelah menikmati sajian minum gratis, kami bertemu dengan Pak Djalil si pemilik yang sudah berumur 72 tahun. Sakit yang beliau derita belum kunjung sembuh walau sudah berobat ke dokter terhebat di New York dan Jerman sekalipun sehingga harus duduk di kursi roda saat menemui kami.


Koleksi yang dimiliki Pak Djalil ini sengaja dirawat sendiri supaya kita (masyarakat) dapat menikmati dan menggali sejarah. Beliau tidak bisa mempercayakan ke pemerintah karena apa yang sudah kita tahu tentang museum-museum itu. Museum di Tengah Kebun adalah museum milik masyarakat.

Yang beliau minta adalah agar kita menjaga museum ini dengan mengunjunginya. Gratis, dengan tetap menghargainya.

Anyway, sewaktu kami masuk, di pojok lorong masuk ada seseorang yang membawa kamera. Belakangan kami tahu bahwa dia adalah kameramen dari KompasTV yang sedang meliput kegiatan di Museum di Tengah Kebun. Jadi, bonus buat kami kemarin adalah syuting untuk KompasTV dan akan tayang di KompasTV pada hari Jumat, 20 April 2012 pukul 15.00 WIBB. Jangan lupa nonton ya. Hehe..

Summary jalan-jalan ke Museum di Tengah Kebun
Alamat: Jalan Kemang Timur Raya No. 66, Jakarta Selatan
Kontak: +62-21-7196907

Biaya: Rp. 7000
* Transportasi Kopaja S605A dari Blok M ke Jl. Kemang Timur Raya – Rp. 2000
* Transportasi ojek dari Jl. Kemang Timur Raya ke Museum – Rp. 5000

Koleksi:
* Benda-benda jaman dinasti China
* Arca-arca
* Patung-patung Buddha
* Kerajinan dari berbagai daerah
* Berbagai benda keramik dan perak dari jaman kuno
* Koleksi guci dan pot
* dan 2000 koleksi lainnya

PS: Maaf karena saya tidak mengambil banyak gambar

blog

Andai Jembatan Penyeberangan Di Jakarta Sebagus Ini

Salah satu alasan orang mau berada di suatu tempat dan kerasan adalah kondisi tempat tersebut. Jika kondisinya bagus dan membuat orang merasa nyaman, maka tempat itu akan ramai dan menjadi hidup. Sebaliknya, jika tempatnya jelek dan jorok, tidak ada yang mau tinggal apalagi mengharapkan ada yang mau kerasan.

Salah satu masalah di Jakarta adalah minimnya trotoar atau buruknya kondisi jembatan penyeberangan. Andai kondisinya seperti ini, situasinya akan jauh berbeda.

Andai.

Sumber: The Atlantic Cities

Tips, viewpoint

Bike to Work: Jalur Cepat Saja!

Sejak akhir 2011 lalu saya mulai mengarungi jalanan menuju dan pulang kantor menggunakan sepeda. Ada beberapa pertimbangan mengapa akhirnya saya memutuskan membeli sepeda putih ini. Sepeda ini pada akhirnya saya gunakan untuk keperluan sehari-hari, ke kantor, hingga bersenang-senang di Car-free Day sepanjang Sudirman – Thamrin.

Bersepeda ke Kantor

Kemarin, 25 Januari 2012 lalu, ketika berangkat ke kantor saya melihat Jalan Rasuna Said macet sekali. Mobil bergerak pelan sekali dan ini di luar hari-hari biasa. Biasanya, saya selalu mengambil jalur lambat. Saya masih baru soal bersepeda di ibukota ini dan saya juga selalu bersepeda sendiri. Dengan kemacetan yang luar biasa sepanjang Rasuna Said, maka saya putuskan untuk mengambil jalur cepat. Hal ini juga dipicu oleh sekelebat seorang bapak-bapak pesepada yang mengambil jalur cepat.

Saya pun mengayuh dengan penuh semangat. Tas di pungung, topi menempel di kepala dan masker membungkam hidung dan mulut untuk menghalau udara kotor. Satu mobil terlewati. Dua. Tiga. Hingga tak terhitung lagi jumlah mobil yang saya lewati. Sementara mobil-mobil itu masih bergerak 2-5 meter, saya telah bergerak 100 meter. Hingga akhirnya saya kembali ke jalur lambat sebelum akhirnya tiba di kantor.

Dalam momen mengayuh dan melewati mobil-mobil itu, sekonyong-konyong saya merasa gembira dan senang. Entah karena apa. Tapi saya rasa ini karena jalur cepat memang jauh lebih bersahabat untuk pesepeda dari jalur lambat. Saya biasanya harus beradu dengan sepeda motor dan mobil yang tak karuan ruwetnya, tanpa lupa pada jalanan yang berantakan. Tapi di jalur cepat ini jalanan relatif tanpa lubang atau tambalan yang mengganggu. Di jalur cepat ini pula rival saya, sepeda motor, tidak ada. Selain itu, saya juga ‘memiliki’ wilayah sendiri yang sangat jarang sekali disentuh oleh mobil.

Jalur Cepat, Jakarta

Sejak itu, saya memutuskan untuk mengambil jalut cepat setiap bersepeda ke kantor ataupun pulangnya.

Ada kalanya, jika lalu-lintas cukup sepi, menggunakan jalur cepat juga membuat saya was-was. Was-was dengan mobil yang memang berjalan cepat di jalur yang benar. Jika sudah begini, maka saya akan berusaha untuk tetap di pinggir dan memperhatikan lebih seksama.

Bersepeda di jalur cepat mungkin bukan sesuatu yang efektif dan efisien, tapi hal ini berguna buat saya. Dan tentu saja saya merasa nyaman. Jadi, kalau mengeluhkan kondisi jalanan dan pesepeda motor yang tak tahu tata krama saat bersepeda, cobalah jalur cepat. :)

thumbnail: guardian.co.uk
jalur cepat, jakarta: unep.org