life, Miscellaneous

Cerita Kemarin: Ruang Baca di Bus Transjakarta

Kenapa judulnya bukan cerita hari ini? Karena ini adalah sepenggal kisah yang terjadi kemarin, 14 Januari 2011. Okay, selamat membaca!

Seperti biasa, antrian penumpang bus Transjakarta (dikenal dengan busway) di Halte Harmoni padat dan dibumbui dengan dorong sana-dorong sini. Beberapa ibu-ibu akan protes orang di belakangnya, beberapa orang memainkan BlackBerry, dan yang lain diam menunggu atau sembari mengipaskan tangan berharap suasana tak se-sumuk yang terjadi. Dan apa yang saya lakukan? Saya sibuk membaca buku dengan tebal 600an halaman sembari senyum2 menikmati suasana sekitar. Meskipun terhimpit, saya memaksakan diri untuk membaca agar pikiran saya tak teralihkan dan ikut-ikutan bete. Begitu, kukira.

Mari membaca!

Setelah menanti beberapa lama, dengan berdesak-desakkan akhirnya saya berhasil mendapatkan tempat dan naik di bus. Tak mau terjebak dalam himpitan dalam bus saya pun memilih masuk ke bagian belakang bus. Bukan bagian mesin bus lho ya, melainkan wilayah penumpang bagian belakang. Biasanya, bagian tengah (dekat pintu) adalah bagian paling penuh dalam bus Transjakarta. Jika sudah terjebak di daerah ini dan penumpang berjumlah banyak maka bisa berpegangan adalah hal yang sulit.

Dan benar saja, kali ini bagian belakang bus tak sepenuh bagian tengah sehingga saya bisa mendapatkan tempat untuk memasang kuda-kuda. Untungnya lagi, kali ini saya mendapatkan tempat bersandar. Dengan demikian saya tak perlu pusing memikirkan pegangan sehingga dapat memegang buku dengan kedua tangan. Saat itu posisi saya berada di pojok bagian belakang kiri bus. Tepat di sebelah kiri saya ada seorang wanita setengah baya. Sementara itu, di depan saya ada seorang wanita berjilbab berumur kira-kira 27-29 tahun.

Setelah bus berjalan beberapa meter, saya pun kembali membuka buku yang sejak tadi masih saya pegang dan mulai meneruskan membaca. Dan beberapa menit kemudian, kedua wanita di sebelah dan depan saya ini mengeluarkan buku dari tas masing-masing dan mulai membaca. Keduanya. Saya tidak tahu apa yang dibaca wanita di sebelah saya, tetapi saya dapat melihat dengan jelas wanita di depan saya sedang membaca buku yang ditulis oleh pengarang yang sama dengan buku yang saya baca. Jadi, kami bertiga yang berada di bagian pojok kiri belakang bus Transjakarta ini kompak membaca. Saat itulah saya merasa berada di perpustakaan dalam bus. Dan jujur saja, saat itu saya gembira. Gembira karena selain saya punya teman membaca di bus.

Saya memang membiasakan diri membawa buku setiap kali naik bus Transjakarta. Perjalanan pulang-pergi ke kantor adalah waktu luang yang bisa saya manfaatkan untuk membaca karena kesibukan dari bangun hingga berangkat tidur yang tak ada habisnya. Selama perjalanan dari halte Bunderan Senayan hingga Harmoni, biasanya saya hanya dapat menghabiskan 8-10 halaman. Sedikit memang, tapi bukankah semua hal yang banyak berawal dari yang sedikit?

Mari budayakan membaca, kapanpun kita bisa. Di bus, kereta, taksi atau apapun. Kalo ojek nampaknya susah. :D

Selamat membaca!

Image credit: simplemom.net

Pictures, viewpoint

Mengapa Harus Bajakan?

Piracy is crime, begitu katanya. Pembajakan berarti kejahatan dan kejahatan berarti melanggar aturan dan/atau hukum. Semua orang tahu, tapi pembajakan toh tetap ada. Dan lestari.

Membajak sebenarnya adalah pekerjaan rumit. Dimulai dari menyiapkan lahan, sapi/kerbau, alat bajak, kemudian orang yang membajak serta air yang cukup. Proses membajak pun tergolong lama dan melelahkan hingga biasanya si orang yang membajak akan makan dengan lahapnya ketika makan siang tiba. Itu cerita membajak sawah.

Membajak produk, jauh lebih mudah. Dan keuntungan dari membajak produk juga lebih banyak dari membeli asli. Salah satu produk yang banyak dibajak adalah film dengan produk outputnya film bajakan. Mengapa harus membajak film? Check this out!

Mengapa Harus Bajakan?
Gambar lupa dapet dari mana. :)

See?  The point is.. Ah, you know the point.

life, Tips, viewpoint

Thank You for Smoking, With Respect!

Setiap hari di hampir setiap jam, di setiap pojok jalan, rumah, kantor, pasar dan tempat lain dapat ditemui orang-orang memegang rokok menyala. Tidak hanya itu, di mal-mal dengan kafe mewah pun sama. Iya, mereka sedang merokok. Di pinggir-pinggir jalan, mereka merokok bergerombol begitu pula di pasar-pasar dan tempat lain.

Melarang orang merokok adalah hal terberat yang harus dilakukan. Sebagai negara merdeka, toleransi untuk saling menghormati juga menjadi asas yang harus dipegang. Masing-masing warga negara punya hak dan salah satu hak mereka adalah merokok. Ketika ada orang yang merokok di dekat saya, saya akan berusaha memberikan toleransi. Namun, jika saya tidak kuat lagi dengan semburan asap maka saya akan protes. Itu cukup.

Thank You for Smoking, with Respect!

Tapi persoalannya semakin kompleks ketika kemudian ditemukan anak-anak merokok. Mereka adalah anak-anak yang berumur kurang dari sepuluh tahun. Miris. Hal ini terjadi tentu karena anak-anak tersebut terbiasa melihat lingkungan sekitar dimana orang-orang bebas merokok. Anak-anak adalah peniru, selalu ingin tahu dan perayu yang handal. Mereka bisa merengek untuk mencoba apalagi tidak diimbangi pendidikan yang baik.

Saya tidak akan melarang merokok dan saya juga tidak antipati terhadap rokok. Karena perusahaan-perusahaan rokok itulah acara-acara digelar dengan meriah dan masih banyak lagi yang mereka berikan sebagai bentuk CSR. Silakan merokok jika memang anda seorang perokok, tapi tolong merokok-lah dengan sopan. Caranya? Ada banyak sekali, tapi saya hanya mau mengkritisi satu saja. Tidak merokok di depan anak-anak di bawah umur 18 tahun. Tapi bagaimana caranya? Banyak. Misalnya, jangan merokok di tempat umum atau kendaraan umum.

Kasihan anak-anak itu jika harus menghirup asap rokok sejak masih kecil. Udara yang dihirupnya menjadi tidak sehat. Dia pun menjadi terbiasa dan berkeinginan mencoba. Budaya merokok di negara Indonesia ini sudah menjadi sorotan dunia. Mereka mengatakan bahwa budaya merokok di negara ini terlalu bebas. Mengharapkan usaha dari pemerintah juga tidak ada gunanya.

Jadi, untuk para perokok, sebagai hadiah ulang tahun bagi kemerdekaan Indonesia yang ke-65 tolong untuk tidak merokok di depan anak-anak. Saya akan sangat menghargai itu dan saya ucapkan ‘Thank you for smoking, with respect‘! Saya rasa yang tidak merokok seperti saya juga seiya-sekata, seikat-sebakul. Lagipula, para wanita mengatakan: pria tidak merokok itu #seksi. Plus, satu lagi, buang puntung rokok di tempatnya. Mari budayakan hidup bersih. (tpos/sm/vi)

Hikmah, Untuk Kita

Ketulusan vs Kepura-puraan

Ketulusan dan Trick ~ Ahmad Saiful MuhajirSeorang teman yang bisa dikatakan seorang ‘socialite’, kalau diamati lebih teliti, banyak menggunakan pujian bila bertemu dengan teman temannya.  Karena pujiannya itu terlalu monoton yaitu selalu mengatakan bahwa lawan bicaranya terlihat ‘lebih langsing’, teman kita ini langsung terlihat ketidak tulusannya. Bahkan bila menemuinya, saya teringat kata kata penyair Irlandia,  Oscar Wilde: “How clever you are, my dear! You never mean a single word you say”. Teman saya, yang  lebih ekstrim lagi, pasti akan berkomentar: “muna….” ( baca: munafik).

Kita begitu banyak menyaksikan transasksi sosial yang terasa tidak diwarnai dengan hati, saling cium pipi bukan sekedar antara ibu ibu tetapi juga  bapak bapak, kepura-puraan beramal, spiritual, bijak, bermoral, yang sering membuat kita gundah, dan mencari-cari, siapa di lingkungan sosial kita ini yang bisa dipegang, janji, kata-kata maupun nasehat-nasehatnya. Pertanyaan juga: apakah  kesan yang kita dapat itu, disadari oleh individunya sendiri? Apakah ia sadar bahwa kata kata ungkapannya serta ekspresinya penuh kepura-puraan?

Almarhum ayah saya selalu mengingatkan: “orang pada dasarnya selalu berniat baik, kalau dia berbuat tidak baik dimata kita, mungkin ia tidak menyadarinya”. C.G.Jung, psikiater Swiss, juga  berpendapat :” the hypocrisy is based on being   not aware of the dark or shadow-side of their nature”. Membentuk  ‘image’, berbasa basi, berusaha agar terlihat ‘baik’ adalah revolusi individu untuk mengembangkan, bahkan memperbaharui dan mempertahankan eksistensinya di lingkungan sosial.

Pertanyaannya bisakah hal ini kita lakukan dengan ‘self-knowledge’ yang lebih tinggi agar supaya kadar ketulusannya juga bisa kita kembangkan? Bukankah dengan kesadaran diri yang lebih tinggi, rasa kemanusiaan yang ‘genuine’ akan lebih dirasakan individu sehingga hal ini bisa mengurangi ‘rasa keterasingan’ dan rasa percaya pada sesama manusia?

Dalam sebuah pertemuan antara direktur pemasaran dan para kepala cabangnya di sebuah perusahaan raksasa, sang direktur menceriterakan betapa ketulusan bisa mengubah keluhan menjadi pengembangan bisnis. Tentunya dalam  situasi keluhan, mulut manis, senyum dan semua tata cara servis yang standar tidak selalu bisa berlaku lagi. Para pebisnis sangat paham dan bisa membedakan antara komitmen, permintaan maaf dan janji yang dikatakan dengan tulus dan basa basi apalagi kosong.  Kecocokan omongan dengan kenyataan di masyarakat sebenarnya  hanya memberlakukan ujian satu kali: ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Terkadang, tanpa perlu ujian, orang yang cukup matang sudah bisa merasakan tulus tidaknya seseorang dalam satu kali pertemuan.

Demikian pula di organisasi. Bisa saja seseorang karena pandainya, katakanlah  bermanis mulut, mendapatkan simpati dari atasannya. Tentunya arah penilaian yang obyektif terletak pada kapabilitasnya. Disinilah ujian individu sebenarnya, untuk kembali menelaah dirinya: ”kompetenkah saya?” Kondisi yang sering ‘mengangkat’ individu karena kekuatan ‘lobby’ nya ini, sering menyebabkan individu malas berintrospeksi dan terbawa pada situasi ‘semu’ yang penuh ketidak benaran. Bahkan, ia akan berusaha keras, agar ketidak benaran ini dipertahankan melalui manuver-manuver yang ‘tricky’ lagi. Sebenarnya individu yang mulai lepas dari ‘self knowledge’ begini, sudah kehilangan kesempatan emas untuk maju. Ia mempunyai pandangan yang semu mengenai dirinya. Dan mulai tergantung pada atribut, norma, manuver sosial palsu saja untuk mempertahankan posisinya.

Tanpa harus mengurangi rasa percaya diri, sebenarnya setiap individu perlu duduk dan bersandar, untuk menelaah dirinya. Apakah informasi, pengetahuan, kapabilitas, ketrampilan, serta praktik-praktik yang dilakukannya  masih sejalan dengan kaidah profesi, kejujuran dan ‘fairness’ di lingkungan sosial yang  general. Groucho Marx: “The secret to life is honesty and fair dealing. If you can fake that, you’ve got it made”.

Dengan contoh bahwa ketulusan bisa menguntungkan, bahkan di bidang bisnis, maka kita memang pantas mempertimbangkan untuk memperkuatnya dari hari ke hari. Kita bisa memulainya dengan lebih mendengarkan kata hati: apakah apa yang saya ucapkan ini benar datang dari lubuk hati yang paling dalam atau sekedar di bibir saja? Kitapun bisa meyakinkan diri, bahwa  ketidaktulusan bila diteruskan tidak akan berbuah manis. Bayangkan bila kita menjadi seorang pemimpin, bisakah kita membangkitkan ‘trust’ bila tidak tulus? Trust bila menjadi pelumas hubungan dan transaksi bisnis, sementara ketidaktulusan mau tidak mau akan menjadi penghambat.  Tanpa ketulusan, kebersamaan pun akan kering, tidak ber’nyawa’.

Beberapa teman yang tergabung dalam organisasi besar yang penuh dengan office politics, seperti menusuk dari belakang dan saling sikut menyikut, tetap bisa berjalan maju dengan tenang dan tidak  mengesankan terimbas oleh adanya pengaruh basa basi, cari muka, dan ketidak tulusan. Ketika saya tanyai salah seorang teman,  apa rahasianya, ia tenang tenang menjawab, “saya banyak melakukan komunikasi tertulis, di hampir semua komunikasi, formal dan tidak formal”. Dengan semua komunikasi tercatat begini, hampir tidak mungkin orang mengingkari apa yang pernah ia katakan. Selain itu, dengan menulis, kita bisa bermain kata-kata, mencari  ekspresi yang tepat, dan sekaligus bisa justru membudayakan transparansi, karena pembicaraan atau hasil pembicaraannya bisa kita ‘share’ dengan pihak yang perlu mengetahui dan terkait dengan urusan yang sedang dikerjakan. Kitapun dalam pemecahan masalah bisa menyebut kembali sasaran utama perusahaan sehingga dengan sendirinya motif pribadi akan tersingkir dan didominasi dengan motif untuk men-support sasaran dan nilai nilai perusahaan.

Menulis membuat kita lebih ‘aware’” ungkapnya. Bila terasa masih ada agenda agenda pribadi, kita tidak perlu segan segan memberantasnya, kepentingan lembaga yang sebetulnya adalah kepentingan umum, pasti tidak bisa kalah oleh kepentingan pribadi. Rasanya tetap lebih baik membuang kemunafikan dari perbendaharaan ekspresi kita, karena metode itu perlahan lahan akan membunuh pribadi kita sendiri.

[oleh Eileen Rachman & Sylvina Savitri via Experd]