Hikmah, life, Tips, viewpoint

Menggugat Masjid

Setiap Jum’at siang, masyarakat Muslim berbondong-bondong keluar dari rumah, kantor, dan lain sebagainya ke satu tempat. Tempat itu adalah MASJID. Sebuah tempat suci untuk kembali menghadap Tuhan setelah melupakannya beberapa saat karena kesibukan duniawi.

Di setiap Jum’at dan di setiap masjid, pasti ada setidaknya satu kotak yang beredar saat Khatib berkhutbah. Kotak ini disebut dengan macam-macam nama. Ada kotak amal, kotak jariyah, tromol, dan masih banyak lagi. Ketika beredar inilah, para jamaah sholat Jum’at akan menyisihkan sebagian uang untuk dimasukkan ke dalam kotak.

Tergantung tempat dan jumlah orangnya, kotak ini ketika dihitung bisa mencapai hingga jutaan rupiah. Apalagi jika di kota-kota besar dan di masjid-masjid besar. Berbeda dengan masjid besar di kota besar, masjid kecil di dusun hanya mendapat paling banyak 200 ribu. Lumayan untuk sekedar membersihkan lantai setiap hari dan pewangi kalau perlu.

Menggugat Masjid ~ Ahmad Saiful Muhajir

Di tempat sholat Jum’at saya sejak lima bulan lalu, dalam laporan bulanan tak kurang dari satu juta diraup setiap Jum’at. Dalam laporan mingguan yang biasa disampaikan sebelum khutbah dimulai, keuangan total Jum’at lalu mencapai 23 juta. Angka yang fantastis.

Angka sebesar itu dikelola oleh pengurus yang saya tidak tahu pasti orangnya. Dalam laporan mingguan, biasanya ada pengeluaran untuk khatib, bersih-bersih dan lain sebagainya. Sisanya, masuk ke kas masjid. Di sinilah gugatan saya berawal.

Ada uang sebesar itu yang cuma berhenti di bank dan diam. Sementara di sisi lain, beberapa masjid harus terhenti pekerjaannya karena kekurangan dana. Di sisi yang lainnya, ada anak-anak yang tidak bisa sekolah dan, terpaksa ataupun tidak, menjadi pemulung. So, alih-alih uang di masjid-masjid hasil infaq maupun shodaqoh masyarakat tersebut cuma diam di bank, bukankah lebih baik jika disalurkan?!

Ketika berbicara soal zakat, kita (termasuk saya) merasa malas karena harus menuju ke sana dan ke sini untuk menyetor (misalnya) zakat mal. Kita juga merasa lebih berat ketika diminta menyetor zakat yang sebulan tiba-tiba sekian. Tapi kita merasa lebih mudah menyalurkan infaq/shodaqoh di masjid setiap Jum’at karena nilainya tidak terlalu besar. Ikhlas jadi terasa jauh lebih mudah.

Ada baiknya jika sebuah masjid besar bisa memiliki pemasukan hingga jutaan rupiah di setiap Jum’at, menjadikan momen Jum’atan sebagai momen bagi kaum muslim agar mereka berzakat. Jadikan tromol/kotak jariyah/kotak amal atau apapun namanya sebagai wadah bagi mereka agar berzakat dengan mudah. Hasilnya, bagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Pola ini akan menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Akhirnya masjid bisa menjadi sebuah tempat dimana kaum Muslim beribadah dan juga ikut menjadi bagian dari sebuah perubahan. Dengan demikian masjid bukan saja tempat sholat dan tempat beristirahat.

Menyimpan uang kas di masjid tidak akan mengubah apapun. Hanya bangunan masjid lah yang akan berubah, sementara masyarakatnya tidak. (tpos/sm/vi) – Image credit: Photo.net

blog, Tips, viewpoint

Malas Kuliah? Follow di Twitter Aja!

Ketika masih jadi mahasiswa, saya lebih suka surfing dan oprek-oprek di lab daripada masuk kelas untuk kuliah. Sebagian besar jam kuliah saya malam dan ketika di kelas hampir 90% saya ngantuk atau malah tertidur. Why? Membosankan. Period.

Ternyata, tidak hanya saya yang malas ke kelas untuk kuliah. Yang bayar berjuta-juta lebih tinggi dari kampus saya juga ada yang seperti itu. Masih untung saya masuk sambil ngantuk-ngantuk, yang lain malah memilih tidak berangkat. Sepertinya kuliah model begitu memang sudah tidak populer untuk digunakan, apalagi jika dosennya agak [maaf] kuper dan monoton. Amit-amit jabang bayi.

Nah, bagi yang malas masuk ke kelas buat kuliah saya punya ide bagus. Tidak hanya untuk mahasiswa, namun juga untuk dosen bahkan untuk sang pemilik instansi pendidikan. Apakah itu? Kuliah via Twitter alias Kul-Twit. [silakan ngakak] :D

Saya follow di Twitter saja ya?

Idenya sederhana: dosen harus punya akun Twitter yang difollow oleh mahasiswanya dan mahasiswa harus punya akun Twitter untuk follow. Kuliah tidak perlu kelas, cukup via tweet. Para dosen silakan mengumumkan jadwal kuliahnya kepada para mahasiswa dan selanjutnya kuliah pun dilangsungkan.

Kalau nggak percaya, silakan simak kuliah yang biasa disampaikan oleh @hotradero @gm_gm (Goenawan Mohamad) @assyaukanie @komar_hidayat (Komaruddin Hidayat) dan lain sebagainya. Mahasiswanya ribuan dan kelasnya selalu penuh. Ada yang waktu kuliah juga lagi kerja, ada yang juga lagi makan di kafe, ada yang lagi nonton bola dan lain sebagainya.

Manfaatnya? Banyak sekali. (1) Masing-masing tidak perlu harus hadir di satu tempat. Dengan begitu (2) baik dosen maupun mahasiswa bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus. (3) Mahasiswa yang suka ngantuk juga berkurang, karena nggak harus duduk dan diam mendengarkan (misal: sambil dengerin musik). Dan lain sebagainya.

Bagaimana kalau ujian? Sederhana: dosen meminta para mahasiswa mengirim essay ke email dosen. Yang tidak mengirimkan, tidak dapat nilai. Paperless, sayang lingkungan.

Absensi? Hari gini masih mikirin absensi ya? Saya rasa yang penting bukan kehadiran tetapi bagaimana mahasiswa memahami apa yang harus dipahami. Saya tunggu komentarnya. (tpos/sm/in)

blog, Technology, viewpoint

Kita Tak Lagi Butuh Windows 8, Chrome OS, Linux atau Mac OS

Salah satu mimpi Bill Gates saat awal-awal mendirikan Microsoft adalah agar di setiap meja terdapat satu komputer. Hari ini, satu meja tidak hanya terdapat satu komputer melainkan banyak komputer. Selamat untuk Bill Gates. Lalu, bagaimana dengan esok? 20 tahun ke depan, misalnya?

Jika sampai hari ini kita masih butuh komputer, saya menduga 20 hingga 30 tahun ke depan tak ada lagi yang butuh komputer. Komputer tak ubahnya sampah, terbuang dan tidak berguna. Ekstrem dan sadis? Ya! Bagaimana bisa terjadi? Jawabannya adalah cloud computing.

Cloud Computing
credit: msdn

Cloud computing adalah sebuah teknologi dimana pengguna berbagi resources, software, dan juga informasi melalui internet. Bukan saja berbagi file sehingga bisa didownload atau upload, melainkan berbagi aplikasi. Contoh, si A di United States menggunakan aplikasi Office dari sebuah layanan dan pada saat yang sama B (Indonesia) menggunakan aplikasi Office yang sama dengan yang digunakan oleh A.

Pengembangan ke arah ini, termasuk penelitian, masih terus dilakukan oleh sebagian besar vendor teknologi mulai dari Microsoft, Oracle, Adobe, IBM, Google, HP, Apple, Intel dan berbagai universitas di dunia.

Microsoft saat ini setidaknya telah punya beberapa hal yang mengindikasikan kita tidak akan lagi butuh komputer. Pertama, Microsoft menawarkan Windows Live SkyDrive dengan kapasitas 25 GB yang bebas digunakan tanpa membayar sepeserpun. Selain menyimpan dan berbagi files, SkyDrive juga dilengkapi dengan Microsoft Office Live sehingga pengguna bisa membuat dan melakukan editing via browser.

Selain itu, masih ada Windows Azure yang dapat digunakan untuk melakukan manajemen aplikasi sehingga dapat berjalan dengan basis internet. Gampangnya mungkin, Azure kurang lebih sama dengan sistem operasi berbasis internet. Lebih gampang lagi, bandingkan dengan Google App Engine. Selain Windows Azure, Microsoft masih punya SQL Azure yang merupakan sebuah layanan database berbasis internet.

Jika pengguna membutuhkan aplikasi untuk membuat website, aplikasi intranet, CMS, blog dan lain sebagainya yang berhubungan dengan business intelligence maka Microsoft punya SharePoint. Lalu bagaimana dengan manajemen email, kalender, dan aplikasi untuk manajemen informasi berbasis internet? Microsoft menyediakan Exchange Server. Itu baru daftar yang dibuat oleh Microsoft, belum lagi yang dibuat oleh vendor lain.

Butuh bermain game? Ada banyak sekali game online yang bisa dimainkan. Baik yang role-playing (MMORPG) maupun yang bukan (MMOG). Jadi, jika semua bisa kita lakukan internet-based, kita tidak lagi butuh Windows 8, Chrome OS, Mac OS, Linux atau yang lainnya.

Dengan demikian kita tak lagi butuh komputer karena yang kita butuhkan hanyalah sebuah tube dengan hologram dan laser seharga $99. Tak perlu lagi ada hard-drive karena semua data kita ada di internet. Kita hanya butuh browser.

Sayangnya, cloud computing masih mengalami pertentangan. Mulai dari keamanan, hingga akan hilangnya Open Source menurut sang nabi GNU, Richard Stallman. Selain Stallman, CEO Oracle, Larry Ellison, juga merasa cloud computing ini tak lebih dari gibberish. Kita tunggu saja. (tpos/sm/vi)

life, Tips, Untuk Kita

Geeks Most Recommended Vacation Destinations and Checklist

Geeks Most Recommended Vacation Destinations and Checklist
credit: askmen.com

It is summer time and it is vacation time. Wherever in the world, most people want to get into the sand and the sun. So, it’s hard for geeks to get places where they can get their nerd on as hard as making vacation checklist. But geeks need vacation too, because they are human.

So, if you are a geek the questions are: what are my checklist? And where I should go?

It’s not easy to prepare vacation for a geek, but these may help you to know what your checklist are.

  • Manage your vacation plan. You can write it on notes of you can either use TripIt and store it on your gadget.
  • Check your network and make sure you have full control access to your home network.
  • Do research about internet connectivity options (Wi-Fi, 3G, HSDPA, etc).
  • If you’re planning out of country, make sure your phone will work with your carriers. You can use Skype as substitute, though.
  • Your devices need charge. Belkin Mini Surge Protector is one of the solutions you have for all of your devices.
  • Bring what’s necessary (i.e. memory cards for your camera).
  • Think about your gadgets safety such as your laptop on bags. It’s worth to think about your flight condition as well.
  • If you’re going to bring some clothes, rolling those is the best way to safe the place.
  • Back-up your data and unplug unnecessarily gadgets.

We have vacation checklist, but the next question is where are we going to? Since you’re geek, here are 10 most recommended vacation destinations for geeks where you can really geek out and blow-up your brain.

  • Kennedy Space Center. There are towering launch pads, huge rockets, history-making technology and vast stretches of NASA’s Florida wildlife preserve.
  • Chicago Museum of Science and Industry. You can find a working coal mine, a German submarine (U-505), a 3,500-square-foot model railroad, the first diesel-powered streamlined stainless-steel passenger train (Pioneer Zephyr) and a NASA spacecraft used on the Apollo 8 mission.
  • CERN (European Organization for Nuclear Research) where you can find massive Globe of Science and Innovation, featuring an exhibition taking you on a journey into the world of particles and back to the Big Bang. It’s in suburbs of Geneva.
  • The Atomium. It consists of nine steel spheres connected so the whole forms the shape of a unit cell of an iron crystal magnified 165 billion times.
  • International Spy Museum. Located in Washington, DC, which dedicated to everything secret, featuring 600 objects and exhibits on the history of espionage and spies in real-world practice and in popular culture.
  • Matmâta, Tunisia. It is fictional landscape and home of Luke Skywalker. A must-visit site for Star Wars fans.
  • Expo 2010 Shanghai China. The Expo offers exhibits from more than 190 countries and more than 50 international organizations. It is estimated that 70 million to 100 million visitors will visit the Expo, the most in history.
  • The Computer History Museum. The museum is dedicated to preserving and presenting the stories and artefacts of the information age, and exploring the computing revolution and its impact on our lives.
  • Jet Propulsion Laboratory (JPL). JPL is home to the development of epic space missions such as Voyager and Voyager 2, and the Mars Exploration Rovers Spirit and Opportunity.
  • Deutsches Technikmuseum Berlin (German Museum of Technology). Located in central Berlin and dedicated to transportation, manufacturing and technology, the museum boasts an impressive array of radios, phones, planes, sea-faring vessels and two whole locomotive sheds on its sprawling campus.

You have checklist either destinations. Go catch your ride and have some fun with geeks type. My last advice, if you’re going to vacation it means you want to get away from your routine. So, why you don’t just go and left your gadgets or network? Via [lifehacker] and [eWeek]. (tpos/sm/ge)