life, viewpoint

Hikmah

Setelah mengutarakan niat, yaitu meminta-minta, dan menyampaikan permohonan maaf yang basi, pria bertubuh sehat dan berpakaian bagus itu menutupnya dengan, “semoga ini semua ada hikmahnya untuk saya.”

Pria tadi mengaku mengamen meski ia tak membawa alat apapun untuk bisa disebut pengamen. Tak ada gitar. Tak ada kaleng, galon, atau apapun yang bisa dipakai untuk mengiringi ia menyanyi. Soal suara, tak perlulah ditanya bagaimana.

Mungkin kita telah lupa. Namun ketika masih bayi yang sedang belajar berjalan kita telah mengalami jatuh ratusan kali sebelum pada akhirnya dapat berjalan dan berlari. Ketika jatuh, otak secara otomatis memahami, mengerti, dan mengambil pelajaran: bahwa ia butuh menyeimbangkan antara otak kanan dan kirinya dalam proses pengaturan syaraf-syaraf yang ada di kaki.

Mengambil hikmah dari kejadian pada hakikatnya adalah naluriah dan juga kewajiban sebagai seorang makhluk. Karena hanya dengan belajar dari kejadian kita mampu berubah menjadi lebih baik. Dengan memahami dan mengambil hikmah kita pada akhirnya mampu mengerti mana yang baik dan mana yang lebih baik. Bahkan ilmuwan mengakui bahwa hanya dengan belajar dan memetik pelajaran dari kejadian manusia bisa menjadi sedemikian maju dengan teknologi dan sains.

Mariko dalam film The Wolverine pernah berujar pada Logan bahwa segala sesuatu memiliki makna yang dalam cerita itu Logan suka menancapkan sumpit secara tegak di atas semangkuk nasi. Apakah memang benar dalam setiap sesuatu ada hikmah?

Dari pengamatan dan pengalaman, saya meyakini bahwa jawabannya adalah iya. Setiap sesuatu, setiap kejadian memiliki pelajaran yang bisa diambil. Tak peduli sekecil apapun kejadian itu kelihatannya di depan mata kita. Tak peduli seberapa sepele kejadian tersebut ketika dilihat dengan mata telanjang.

Hikmah atau pelajaran dari kejadian dalam hidup setiap manusia pastilah ada. Setiap kejadian memiliki makna atau hikmah atau pelajaran atau apapun sebutannya untuk dapat dipetik dan menjadikan setiap diri ini menjadi lebih baik.

Persoalannya memang adalah apakah kita mampu melihat dan mengambilnya?

Hikmah, Untuk Kita

Ketulusan vs Kepura-puraan

Ketulusan dan Trick ~ Ahmad Saiful MuhajirSeorang teman yang bisa dikatakan seorang ‘socialite’, kalau diamati lebih teliti, banyak menggunakan pujian bila bertemu dengan teman temannya.  Karena pujiannya itu terlalu monoton yaitu selalu mengatakan bahwa lawan bicaranya terlihat ‘lebih langsing’, teman kita ini langsung terlihat ketidak tulusannya. Bahkan bila menemuinya, saya teringat kata kata penyair Irlandia,  Oscar Wilde: “How clever you are, my dear! You never mean a single word you say”. Teman saya, yang  lebih ekstrim lagi, pasti akan berkomentar: “muna….” ( baca: munafik).

Kita begitu banyak menyaksikan transasksi sosial yang terasa tidak diwarnai dengan hati, saling cium pipi bukan sekedar antara ibu ibu tetapi juga  bapak bapak, kepura-puraan beramal, spiritual, bijak, bermoral, yang sering membuat kita gundah, dan mencari-cari, siapa di lingkungan sosial kita ini yang bisa dipegang, janji, kata-kata maupun nasehat-nasehatnya. Pertanyaan juga: apakah  kesan yang kita dapat itu, disadari oleh individunya sendiri? Apakah ia sadar bahwa kata kata ungkapannya serta ekspresinya penuh kepura-puraan?

Almarhum ayah saya selalu mengingatkan: “orang pada dasarnya selalu berniat baik, kalau dia berbuat tidak baik dimata kita, mungkin ia tidak menyadarinya”. C.G.Jung, psikiater Swiss, juga  berpendapat :” the hypocrisy is based on being   not aware of the dark or shadow-side of their nature”. Membentuk  ‘image’, berbasa basi, berusaha agar terlihat ‘baik’ adalah revolusi individu untuk mengembangkan, bahkan memperbaharui dan mempertahankan eksistensinya di lingkungan sosial.

Pertanyaannya bisakah hal ini kita lakukan dengan ‘self-knowledge’ yang lebih tinggi agar supaya kadar ketulusannya juga bisa kita kembangkan? Bukankah dengan kesadaran diri yang lebih tinggi, rasa kemanusiaan yang ‘genuine’ akan lebih dirasakan individu sehingga hal ini bisa mengurangi ‘rasa keterasingan’ dan rasa percaya pada sesama manusia?

Dalam sebuah pertemuan antara direktur pemasaran dan para kepala cabangnya di sebuah perusahaan raksasa, sang direktur menceriterakan betapa ketulusan bisa mengubah keluhan menjadi pengembangan bisnis. Tentunya dalam  situasi keluhan, mulut manis, senyum dan semua tata cara servis yang standar tidak selalu bisa berlaku lagi. Para pebisnis sangat paham dan bisa membedakan antara komitmen, permintaan maaf dan janji yang dikatakan dengan tulus dan basa basi apalagi kosong.  Kecocokan omongan dengan kenyataan di masyarakat sebenarnya  hanya memberlakukan ujian satu kali: ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Terkadang, tanpa perlu ujian, orang yang cukup matang sudah bisa merasakan tulus tidaknya seseorang dalam satu kali pertemuan.

Demikian pula di organisasi. Bisa saja seseorang karena pandainya, katakanlah  bermanis mulut, mendapatkan simpati dari atasannya. Tentunya arah penilaian yang obyektif terletak pada kapabilitasnya. Disinilah ujian individu sebenarnya, untuk kembali menelaah dirinya: ”kompetenkah saya?” Kondisi yang sering ‘mengangkat’ individu karena kekuatan ‘lobby’ nya ini, sering menyebabkan individu malas berintrospeksi dan terbawa pada situasi ‘semu’ yang penuh ketidak benaran. Bahkan, ia akan berusaha keras, agar ketidak benaran ini dipertahankan melalui manuver-manuver yang ‘tricky’ lagi. Sebenarnya individu yang mulai lepas dari ‘self knowledge’ begini, sudah kehilangan kesempatan emas untuk maju. Ia mempunyai pandangan yang semu mengenai dirinya. Dan mulai tergantung pada atribut, norma, manuver sosial palsu saja untuk mempertahankan posisinya.

Tanpa harus mengurangi rasa percaya diri, sebenarnya setiap individu perlu duduk dan bersandar, untuk menelaah dirinya. Apakah informasi, pengetahuan, kapabilitas, ketrampilan, serta praktik-praktik yang dilakukannya  masih sejalan dengan kaidah profesi, kejujuran dan ‘fairness’ di lingkungan sosial yang  general. Groucho Marx: “The secret to life is honesty and fair dealing. If you can fake that, you’ve got it made”.

Dengan contoh bahwa ketulusan bisa menguntungkan, bahkan di bidang bisnis, maka kita memang pantas mempertimbangkan untuk memperkuatnya dari hari ke hari. Kita bisa memulainya dengan lebih mendengarkan kata hati: apakah apa yang saya ucapkan ini benar datang dari lubuk hati yang paling dalam atau sekedar di bibir saja? Kitapun bisa meyakinkan diri, bahwa  ketidaktulusan bila diteruskan tidak akan berbuah manis. Bayangkan bila kita menjadi seorang pemimpin, bisakah kita membangkitkan ‘trust’ bila tidak tulus? Trust bila menjadi pelumas hubungan dan transaksi bisnis, sementara ketidaktulusan mau tidak mau akan menjadi penghambat.  Tanpa ketulusan, kebersamaan pun akan kering, tidak ber’nyawa’.

Beberapa teman yang tergabung dalam organisasi besar yang penuh dengan office politics, seperti menusuk dari belakang dan saling sikut menyikut, tetap bisa berjalan maju dengan tenang dan tidak  mengesankan terimbas oleh adanya pengaruh basa basi, cari muka, dan ketidak tulusan. Ketika saya tanyai salah seorang teman,  apa rahasianya, ia tenang tenang menjawab, “saya banyak melakukan komunikasi tertulis, di hampir semua komunikasi, formal dan tidak formal”. Dengan semua komunikasi tercatat begini, hampir tidak mungkin orang mengingkari apa yang pernah ia katakan. Selain itu, dengan menulis, kita bisa bermain kata-kata, mencari  ekspresi yang tepat, dan sekaligus bisa justru membudayakan transparansi, karena pembicaraan atau hasil pembicaraannya bisa kita ‘share’ dengan pihak yang perlu mengetahui dan terkait dengan urusan yang sedang dikerjakan. Kitapun dalam pemecahan masalah bisa menyebut kembali sasaran utama perusahaan sehingga dengan sendirinya motif pribadi akan tersingkir dan didominasi dengan motif untuk men-support sasaran dan nilai nilai perusahaan.

Menulis membuat kita lebih ‘aware’” ungkapnya. Bila terasa masih ada agenda agenda pribadi, kita tidak perlu segan segan memberantasnya, kepentingan lembaga yang sebetulnya adalah kepentingan umum, pasti tidak bisa kalah oleh kepentingan pribadi. Rasanya tetap lebih baik membuang kemunafikan dari perbendaharaan ekspresi kita, karena metode itu perlahan lahan akan membunuh pribadi kita sendiri.

[oleh Eileen Rachman & Sylvina Savitri via Experd]

Hikmah, life, Tips, viewpoint

Menggugat Masjid

Setiap Jum’at siang, masyarakat Muslim berbondong-bondong keluar dari rumah, kantor, dan lain sebagainya ke satu tempat. Tempat itu adalah MASJID. Sebuah tempat suci untuk kembali menghadap Tuhan setelah melupakannya beberapa saat karena kesibukan duniawi.

Di setiap Jum’at dan di setiap masjid, pasti ada setidaknya satu kotak yang beredar saat Khatib berkhutbah. Kotak ini disebut dengan macam-macam nama. Ada kotak amal, kotak jariyah, tromol, dan masih banyak lagi. Ketika beredar inilah, para jamaah sholat Jum’at akan menyisihkan sebagian uang untuk dimasukkan ke dalam kotak.

Tergantung tempat dan jumlah orangnya, kotak ini ketika dihitung bisa mencapai hingga jutaan rupiah. Apalagi jika di kota-kota besar dan di masjid-masjid besar. Berbeda dengan masjid besar di kota besar, masjid kecil di dusun hanya mendapat paling banyak 200 ribu. Lumayan untuk sekedar membersihkan lantai setiap hari dan pewangi kalau perlu.

Menggugat Masjid ~ Ahmad Saiful Muhajir

Di tempat sholat Jum’at saya sejak lima bulan lalu, dalam laporan bulanan tak kurang dari satu juta diraup setiap Jum’at. Dalam laporan mingguan yang biasa disampaikan sebelum khutbah dimulai, keuangan total Jum’at lalu mencapai 23 juta. Angka yang fantastis.

Angka sebesar itu dikelola oleh pengurus yang saya tidak tahu pasti orangnya. Dalam laporan mingguan, biasanya ada pengeluaran untuk khatib, bersih-bersih dan lain sebagainya. Sisanya, masuk ke kas masjid. Di sinilah gugatan saya berawal.

Ada uang sebesar itu yang cuma berhenti di bank dan diam. Sementara di sisi lain, beberapa masjid harus terhenti pekerjaannya karena kekurangan dana. Di sisi yang lainnya, ada anak-anak yang tidak bisa sekolah dan, terpaksa ataupun tidak, menjadi pemulung. So, alih-alih uang di masjid-masjid hasil infaq maupun shodaqoh masyarakat tersebut cuma diam di bank, bukankah lebih baik jika disalurkan?!

Ketika berbicara soal zakat, kita (termasuk saya) merasa malas karena harus menuju ke sana dan ke sini untuk menyetor (misalnya) zakat mal. Kita juga merasa lebih berat ketika diminta menyetor zakat yang sebulan tiba-tiba sekian. Tapi kita merasa lebih mudah menyalurkan infaq/shodaqoh di masjid setiap Jum’at karena nilainya tidak terlalu besar. Ikhlas jadi terasa jauh lebih mudah.

Ada baiknya jika sebuah masjid besar bisa memiliki pemasukan hingga jutaan rupiah di setiap Jum’at, menjadikan momen Jum’atan sebagai momen bagi kaum muslim agar mereka berzakat. Jadikan tromol/kotak jariyah/kotak amal atau apapun namanya sebagai wadah bagi mereka agar berzakat dengan mudah. Hasilnya, bagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Pola ini akan menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Akhirnya masjid bisa menjadi sebuah tempat dimana kaum Muslim beribadah dan juga ikut menjadi bagian dari sebuah perubahan. Dengan demikian masjid bukan saja tempat sholat dan tempat beristirahat.

Menyimpan uang kas di masjid tidak akan mengubah apapun. Hanya bangunan masjid lah yang akan berubah, sementara masyarakatnya tidak. (tpos/sm/vi) – Image credit: Photo.net

Belajar, life, Untuk Kita, viewpoint

Mari Belajar Dari Sifat Setan

Mari Belajar Dari Setan
credit: dragoart.com

Hari ini saya menyadari satu hal: manusia perlu belajar dari sifat setan. Sepanjang pengetahuan saya, setan tidak punya nafsu. Setan hanya punya satu hal yang akan dilakukannya hingga akhir zaman: yaitu membujuk manusia untuk mengikuti jalannya. Itulah yang saya tahu tentang setan dari Kitab Suci.

Jika pengetahuan saya tentang setan mengatakan setan tidak punya nafsu, pengetahuan saya tentang manusia mengatakan manusia punya nafsu. Kadangkala, nafsu manusia ini menguasai dirinya melebih kuasa hati dan pikirannya. Contoh kecil nafsu manusia adalah memaksakan kehendak. Contoh dari memaksakan kehendak adalah memaksa seseorang untuk menyerahkan harta bendanya (merampok, mencopet, dll).

Kalau manusia bisa memaksa, tidak dengan setan. Model setan dalam mengajak manusia ke jalannya tidak menggunakan paksaan. Setan menggoda manusia dengan iming-iming yang masuk akal. Ketika tidak berhasil, dia (setan) akan datang lagi dan kembali menggoda. Proses ini akan berjalan terus hingga misinya berhasil atau dia terhempas dan terpaksa pergi. Dia tidak memaksakan manusia untuk mengikuti jalannya. Setan menjalankan tugasnya dengan sabar dan terus menerus.

Manusia, seringkali memaksakan kehendaknya. Catatan sejarah menyebutkan bagaimana raja-raja memaksa rakyatnya untuk melakukan ini dan itu. Sejarah mencatat bagaimana manusia memaksa orang lain melayani nafsunya. Sejarah juga mencatat bagaimana politisi memaksa orang kecil untuk memilih dirinya.

Muhammad (shollallahu ‘alaihi wasallam) tidak pernah sekalipun melakukan hal yang memaksakan kehendak. Saat beliau sedih maupun senang. Beliau juga mengajarkan pada umatnya untuk tidak menggunakan nafsunya dan atau memaksakan kehendak. Memaksakan kehendak berarti menggunakan nafsu. Bahkan untuk mengajak manusia masuk ke dalam Islam, beliau menggunakan cara yang baik. (tpos/sm/le)