blog, news, Reviews, Tips

Gravatar Hovercards, Fitur Baru di WordPress.com

Gravatar LogoSudah menggunakan Gravatar, profil yang bisa tampil di semua situs cukup dengan mengetikkan alamat email? Produk dari Automattic ini saya nilai luar biasa dan keren. Tapi, akan lebih keren lagi jika dilihat dari WordPress.com.

Fitur baru dalam WordPress.com yang menggandeng Gravatar adalah bernama Gravatar Hovercards. Dengan fitur ini, siapapun bisa melihat informasi dari pengguna cukup dengan mengarahkan mouse di atas avatar seseorang. Di semua blog yang menggunakan WordPress.com bisa terlihat, selama pemilik mengaktifkan fitur tersebut.

Gravatar Hovercards

Gravatar Hovercards adalah sebuah dialog yang muncul untuk menampilkan informasi mengenai seseorang meliputi nama, biografi, foto, link, kontak dan media sosial yang dimiliki oleh orang tersebut seperti Facebook, Twitter, LinkedIn dan sebagainya.

Dengan fitur ini, baik komentator maupun administrator/author akan mendapatkan keuntungan masing-masing. Komentator akan mendapatkan kemudahan berupa informasi mengenai dirinya dapat dengan mudah terlihat. Dan bagi administrator, mereka akan tahu dengan jelas siapa yang meninggalkan komentar.

Jadi, cukup arahkan mouse pada avatar dan beberapa saat kemudian informasi dari user tersebut akan muncul. Selain di halaman utama blog, Gravatar Hovercards juga tampil dalam dashboard blog WordPress.com.

Secara otomatis Gravatar Hovercards akan aktif di semua blog berbasis WordPress.com, namun pengguna dapat menon-aktifkan melalui menu Settings – Discussions – Avatars.

Belum punya Gravatar? Daftar saja di sini dengan akun WordPress.com.

Oya, trivia! Jika informasi user telah muncul, arahkan mouse pada logo Gravatar (G) yang ada di sebelah kanan dan cobalah klik kanan. :)

Hikmah, Untuk Kita

Ketulusan vs Kepura-puraan

Ketulusan dan Trick ~ Ahmad Saiful MuhajirSeorang teman yang bisa dikatakan seorang ‘socialite’, kalau diamati lebih teliti, banyak menggunakan pujian bila bertemu dengan teman temannya.  Karena pujiannya itu terlalu monoton yaitu selalu mengatakan bahwa lawan bicaranya terlihat ‘lebih langsing’, teman kita ini langsung terlihat ketidak tulusannya. Bahkan bila menemuinya, saya teringat kata kata penyair Irlandia,  Oscar Wilde: “How clever you are, my dear! You never mean a single word you say”. Teman saya, yang  lebih ekstrim lagi, pasti akan berkomentar: “muna….” ( baca: munafik).

Kita begitu banyak menyaksikan transasksi sosial yang terasa tidak diwarnai dengan hati, saling cium pipi bukan sekedar antara ibu ibu tetapi juga  bapak bapak, kepura-puraan beramal, spiritual, bijak, bermoral, yang sering membuat kita gundah, dan mencari-cari, siapa di lingkungan sosial kita ini yang bisa dipegang, janji, kata-kata maupun nasehat-nasehatnya. Pertanyaan juga: apakah  kesan yang kita dapat itu, disadari oleh individunya sendiri? Apakah ia sadar bahwa kata kata ungkapannya serta ekspresinya penuh kepura-puraan?

Almarhum ayah saya selalu mengingatkan: “orang pada dasarnya selalu berniat baik, kalau dia berbuat tidak baik dimata kita, mungkin ia tidak menyadarinya”. C.G.Jung, psikiater Swiss, juga  berpendapat :” the hypocrisy is based on being   not aware of the dark or shadow-side of their nature”. Membentuk  ‘image’, berbasa basi, berusaha agar terlihat ‘baik’ adalah revolusi individu untuk mengembangkan, bahkan memperbaharui dan mempertahankan eksistensinya di lingkungan sosial.

Pertanyaannya bisakah hal ini kita lakukan dengan ‘self-knowledge’ yang lebih tinggi agar supaya kadar ketulusannya juga bisa kita kembangkan? Bukankah dengan kesadaran diri yang lebih tinggi, rasa kemanusiaan yang ‘genuine’ akan lebih dirasakan individu sehingga hal ini bisa mengurangi ‘rasa keterasingan’ dan rasa percaya pada sesama manusia?

Dalam sebuah pertemuan antara direktur pemasaran dan para kepala cabangnya di sebuah perusahaan raksasa, sang direktur menceriterakan betapa ketulusan bisa mengubah keluhan menjadi pengembangan bisnis. Tentunya dalam  situasi keluhan, mulut manis, senyum dan semua tata cara servis yang standar tidak selalu bisa berlaku lagi. Para pebisnis sangat paham dan bisa membedakan antara komitmen, permintaan maaf dan janji yang dikatakan dengan tulus dan basa basi apalagi kosong.  Kecocokan omongan dengan kenyataan di masyarakat sebenarnya  hanya memberlakukan ujian satu kali: ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Terkadang, tanpa perlu ujian, orang yang cukup matang sudah bisa merasakan tulus tidaknya seseorang dalam satu kali pertemuan.

Demikian pula di organisasi. Bisa saja seseorang karena pandainya, katakanlah  bermanis mulut, mendapatkan simpati dari atasannya. Tentunya arah penilaian yang obyektif terletak pada kapabilitasnya. Disinilah ujian individu sebenarnya, untuk kembali menelaah dirinya: ”kompetenkah saya?” Kondisi yang sering ‘mengangkat’ individu karena kekuatan ‘lobby’ nya ini, sering menyebabkan individu malas berintrospeksi dan terbawa pada situasi ‘semu’ yang penuh ketidak benaran. Bahkan, ia akan berusaha keras, agar ketidak benaran ini dipertahankan melalui manuver-manuver yang ‘tricky’ lagi. Sebenarnya individu yang mulai lepas dari ‘self knowledge’ begini, sudah kehilangan kesempatan emas untuk maju. Ia mempunyai pandangan yang semu mengenai dirinya. Dan mulai tergantung pada atribut, norma, manuver sosial palsu saja untuk mempertahankan posisinya.

Tanpa harus mengurangi rasa percaya diri, sebenarnya setiap individu perlu duduk dan bersandar, untuk menelaah dirinya. Apakah informasi, pengetahuan, kapabilitas, ketrampilan, serta praktik-praktik yang dilakukannya  masih sejalan dengan kaidah profesi, kejujuran dan ‘fairness’ di lingkungan sosial yang  general. Groucho Marx: “The secret to life is honesty and fair dealing. If you can fake that, you’ve got it made”.

Dengan contoh bahwa ketulusan bisa menguntungkan, bahkan di bidang bisnis, maka kita memang pantas mempertimbangkan untuk memperkuatnya dari hari ke hari. Kita bisa memulainya dengan lebih mendengarkan kata hati: apakah apa yang saya ucapkan ini benar datang dari lubuk hati yang paling dalam atau sekedar di bibir saja? Kitapun bisa meyakinkan diri, bahwa  ketidaktulusan bila diteruskan tidak akan berbuah manis. Bayangkan bila kita menjadi seorang pemimpin, bisakah kita membangkitkan ‘trust’ bila tidak tulus? Trust bila menjadi pelumas hubungan dan transaksi bisnis, sementara ketidaktulusan mau tidak mau akan menjadi penghambat.  Tanpa ketulusan, kebersamaan pun akan kering, tidak ber’nyawa’.

Beberapa teman yang tergabung dalam organisasi besar yang penuh dengan office politics, seperti menusuk dari belakang dan saling sikut menyikut, tetap bisa berjalan maju dengan tenang dan tidak  mengesankan terimbas oleh adanya pengaruh basa basi, cari muka, dan ketidak tulusan. Ketika saya tanyai salah seorang teman,  apa rahasianya, ia tenang tenang menjawab, “saya banyak melakukan komunikasi tertulis, di hampir semua komunikasi, formal dan tidak formal”. Dengan semua komunikasi tercatat begini, hampir tidak mungkin orang mengingkari apa yang pernah ia katakan. Selain itu, dengan menulis, kita bisa bermain kata-kata, mencari  ekspresi yang tepat, dan sekaligus bisa justru membudayakan transparansi, karena pembicaraan atau hasil pembicaraannya bisa kita ‘share’ dengan pihak yang perlu mengetahui dan terkait dengan urusan yang sedang dikerjakan. Kitapun dalam pemecahan masalah bisa menyebut kembali sasaran utama perusahaan sehingga dengan sendirinya motif pribadi akan tersingkir dan didominasi dengan motif untuk men-support sasaran dan nilai nilai perusahaan.

Menulis membuat kita lebih ‘aware’” ungkapnya. Bila terasa masih ada agenda agenda pribadi, kita tidak perlu segan segan memberantasnya, kepentingan lembaga yang sebetulnya adalah kepentingan umum, pasti tidak bisa kalah oleh kepentingan pribadi. Rasanya tetap lebih baik membuang kemunafikan dari perbendaharaan ekspresi kita, karena metode itu perlahan lahan akan membunuh pribadi kita sendiri.

[oleh Eileen Rachman & Sylvina Savitri via Experd]

blog, Tips, viewpoint

Malas Kuliah? Follow di Twitter Aja!

Ketika masih jadi mahasiswa, saya lebih suka surfing dan oprek-oprek di lab daripada masuk kelas untuk kuliah. Sebagian besar jam kuliah saya malam dan ketika di kelas hampir 90% saya ngantuk atau malah tertidur. Why? Membosankan. Period.

Ternyata, tidak hanya saya yang malas ke kelas untuk kuliah. Yang bayar berjuta-juta lebih tinggi dari kampus saya juga ada yang seperti itu. Masih untung saya masuk sambil ngantuk-ngantuk, yang lain malah memilih tidak berangkat. Sepertinya kuliah model begitu memang sudah tidak populer untuk digunakan, apalagi jika dosennya agak [maaf] kuper dan monoton. Amit-amit jabang bayi.

Nah, bagi yang malas masuk ke kelas buat kuliah saya punya ide bagus. Tidak hanya untuk mahasiswa, namun juga untuk dosen bahkan untuk sang pemilik instansi pendidikan. Apakah itu? Kuliah via Twitter alias Kul-Twit. [silakan ngakak] :D

Saya follow di Twitter saja ya?

Idenya sederhana: dosen harus punya akun Twitter yang difollow oleh mahasiswanya dan mahasiswa harus punya akun Twitter untuk follow. Kuliah tidak perlu kelas, cukup via tweet. Para dosen silakan mengumumkan jadwal kuliahnya kepada para mahasiswa dan selanjutnya kuliah pun dilangsungkan.

Kalau nggak percaya, silakan simak kuliah yang biasa disampaikan oleh @hotradero @gm_gm (Goenawan Mohamad) @assyaukanie @komar_hidayat (Komaruddin Hidayat) dan lain sebagainya. Mahasiswanya ribuan dan kelasnya selalu penuh. Ada yang waktu kuliah juga lagi kerja, ada yang juga lagi makan di kafe, ada yang lagi nonton bola dan lain sebagainya.

Manfaatnya? Banyak sekali. (1) Masing-masing tidak perlu harus hadir di satu tempat. Dengan begitu (2) baik dosen maupun mahasiswa bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus. (3) Mahasiswa yang suka ngantuk juga berkurang, karena nggak harus duduk dan diam mendengarkan (misal: sambil dengerin musik). Dan lain sebagainya.

Bagaimana kalau ujian? Sederhana: dosen meminta para mahasiswa mengirim essay ke email dosen. Yang tidak mengirimkan, tidak dapat nilai. Paperless, sayang lingkungan.

Absensi? Hari gini masih mikirin absensi ya? Saya rasa yang penting bukan kehadiran tetapi bagaimana mahasiswa memahami apa yang harus dipahami. Saya tunggu komentarnya. (tpos/sm/in)

news, Technology

From 18th DefCon: GSM is Broken!

Lebih dari 3 miliar orang di dunia menggunakan layanan GSM untuk telekomunukasi, dan hampir 3/4 teknologi komunikasi di dunia menggunakan teknologi GSM. Indonesia, saya percaya 3/4 pengguna telepon seluler menggunakan layanan GSM. Sisanya, ada yang menggunakan layanan BlackBerry dan lain sebagainya. 31 Juli 2010, di DefCon yang ke-delapanbelas seorang hacker membuktikan bahwa GSM is broken. :'(

IMSI catcher for GSM

Adalah Chris Paget yang melakukan demo pembuktian tersebut. Demo dilakukan dengan alat yang menghabiskan dana $1,500 saja. Dalam demo yang dilakukannya, alat yang dibuat sendiri ini mampu menangkap lusinan panggilan yang dilakukan oleh member konferensi tersebut. Selain menangkap isi pembicaraan, alat tersebut juga mampu merekam suara dan menyimpannya dalam media penyimpanan.

Alat yang diberi nama ‘IMSI (International Mobile Subscriber Identity) catcher‘ ini sebenarnya menggunakan jalur 900MHz yang digunakan oleh perangkat radio amatir. Tetapi, sebagaimana diketahui bahwa 900MHz adalah salah satu jalur GSM selain jalur 1800MHz.

Mekanisme bekerjanya sederhana. Perangkat seluler, dalam hal ini adalah telepon, akan terhubung ke alat ini dan mempercayai bahwa alat ini adalah tower provider. Setelah itu, alat ini baru benar-benar akan menyambungkan ke tower yang sesungguhnya. Penipuan sederhana seperti halnya telepon kabel.

Perangkat sederhana ini memang belum sempurna. Hingga kemarin, perangkat ini hanya mampu menangkap pembicaraan keluar sementara panggilan masuk tidak dapat ditangkap. Selain itu, perangkat seluler yang menggunakan layanan jaringan 3G juga tidak dapat terhubung ke perangkat ini.

Memang bukan berita baru bahwa pihak keamanan negara biasanya telah memiliki alat semacam ini bertahun-tahun silam. Namun, dengan IMSI catcher dunia tahu bahwa alat ini sekarang mudah dibuat dengan komponen-komponen yang dapat dibeli secara bebas di internet. Anyway, handphone saya juga menggunakan layanan GSM dan saya mulai khawatir. Umm.. rasanya saya memang perlu segera berganti telepon. (tpos/sm/te)

comic, life, Tips, viewpoint

This is How I Stay Healthy

Health is expensive.Everyone wants stay healthy, even animals and trees I think. When we got sick, we went to the hospitals or our doctors. And we never forgot to pray to our GOD asked our health back as soon as possible. lol Some worked out and didn’t a part. GOD knew how to treat people, I guess.

While other people went to hospitals or doctors because they got sick, I didn’t. Never. I didn’t went to any doctor or hospital when I was sick for, about 2 or maybe 3 years. So, what did I do to get my health back? I stayed at the house and treat myself as well as I could. Eat what I need to eat and keeping myself in warm. I hate cold when I was sick, a lot. Some friends asked me to went to the hospital, but I refused their request, frankly.

I hate hospitals, a lot. It is not because of the injection or something. I hate hospitals and doctors because I hate to know that something was wrong with me. I know, some of you disagree with me. But, this is my choice. :)

Well, barely I got sick and thanks to Alloh who took care of me very well and kept me in health. Oh, today I found this cartoon from Glasbergen and I think this is how I am:

This is how I stay healthy.
Anyway, I am not going act like this forever. I have a plan for this ‘weird’ act. So, don’t you worry. I know myself and I know what’s best for me. (tpos/sm/li)