Belajar, life, Untuk Kita, viewpoint

Mari Belajar Dari Sifat Setan

Mari Belajar Dari Setan
credit: dragoart.com

Hari ini saya menyadari satu hal: manusia perlu belajar dari sifat setan. Sepanjang pengetahuan saya, setan tidak punya nafsu. Setan hanya punya satu hal yang akan dilakukannya hingga akhir zaman: yaitu membujuk manusia untuk mengikuti jalannya. Itulah yang saya tahu tentang setan dari Kitab Suci.

Jika pengetahuan saya tentang setan mengatakan setan tidak punya nafsu, pengetahuan saya tentang manusia mengatakan manusia punya nafsu. Kadangkala, nafsu manusia ini menguasai dirinya melebih kuasa hati dan pikirannya. Contoh kecil nafsu manusia adalah memaksakan kehendak. Contoh dari memaksakan kehendak adalah memaksa seseorang untuk menyerahkan harta bendanya (merampok, mencopet, dll).

Kalau manusia bisa memaksa, tidak dengan setan. Model setan dalam mengajak manusia ke jalannya tidak menggunakan paksaan. Setan menggoda manusia dengan iming-iming yang masuk akal. Ketika tidak berhasil, dia (setan) akan datang lagi dan kembali menggoda. Proses ini akan berjalan terus hingga misinya berhasil atau dia terhempas dan terpaksa pergi. Dia tidak memaksakan manusia untuk mengikuti jalannya. Setan menjalankan tugasnya dengan sabar dan terus menerus.

Manusia, seringkali memaksakan kehendaknya. Catatan sejarah menyebutkan bagaimana raja-raja memaksa rakyatnya untuk melakukan ini dan itu. Sejarah mencatat bagaimana manusia memaksa orang lain melayani nafsunya. Sejarah juga mencatat bagaimana politisi memaksa orang kecil untuk memilih dirinya.

Muhammad (shollallahu ‘alaihi wasallam) tidak pernah sekalipun melakukan hal yang memaksakan kehendak. Saat beliau sedih maupun senang. Beliau juga mengajarkan pada umatnya untuk tidak menggunakan nafsunya dan atau memaksakan kehendak. Memaksakan kehendak berarti menggunakan nafsu. Bahkan untuk mengajak manusia masuk ke dalam Islam, beliau menggunakan cara yang baik. (tpos/sm/le)

Belajar, Tips, Untuk Kita, viewpoint

Meningkatkan Kualitas Perusahaan Dari Akar Hingga Ujung Daun

Meningkatkan Kualitas Perusahaan Dari Akar Hingga Ujung Daun
credit: glasbergen.com

Siapa pun akan ‘kesengsem’ bila memasuki sebuah restoran dan disambut dengan manis, informatif dan gesit oleh seorang ‘frontliner’. Ini bukan taktik dagang yang merupakan rahasia perusahaan lagi. Semua orang tahu, garda depan adalah andalan perusahaan. Namun, tidak semua kita segera bisa membayangkan berapa banyak waktu dan betapa rumitnya membentuk garda depan yang helpful, tangkas dan handal. Keterampilan dan standar layanan, bisa saja diajarkan melalui training dua atau tiga hari. Tapi, ketrampilan saja tanpa diwarnai spirit melayani yang kental, tentu akan segera terasa “palsu” dan kakunya, tidak akan pernah bisa membuat pelanggan terkesan. Banyak sekali pemilik perusahaan, direktur dan manager mengeluhkan garda depan yang spirit melayaninya “naik – turun”, tidak konsisten. “Kalau pimpinan ada di lapangan, semua berjalan baik. Begitu kita tidak hadir, komplen berdatangan”

Membentuk dan menularkan spirit melayani, dari pucuk pimpinan sampai ujung garda paling bawah, memang senantiasa menjadi tantangan, bagi perusahaan kaliber nomor satu sekalipun. Di sini kita tidak lagi bicara masalah individu atau tim garda depan, tapi atmosfir dan budaya yang tidak hanya teraga, tapi juga harus terasa dalam setiap kata dan tindakan. Bukan saja di perusahaan jasa,  seorang teman di sebuah pabrik padat karya pun mengeluh: “Mengapa ya para pekerja tidak sadar bahwa kalau mereka mengerjakan tugasnya dengan penuh perhatian terhadap kualitas, perusahaan bisa lebih maju. Sekuat-kuatnya kita sebagai pimpinan jadi ‘role model’ pun tidak membantu.“ Sebuah data survey menyebutkan, sekitar 60% perusahaan yang berusaha memompakan ‘corporate culture’-nya mengalami kemandegan, tidak sampai ke lapisan paling ujung. Padahal garda depan inilah yang berurusan dengan pelanggan ataupun produk yang dihasilkan perusahaan. Banyak orang berkomentar, lini tengah-lah yang sering tidak mampu meneruskan pesan manajemen. Benarkah begitu? Apa yang bisa kita lakukan?

Komunikasi Bolak-balik
Banyak direktur dan manager mengeluhkan alotnya proses “buy-in” pada karyawan saat dilakukan “cascading” dalam penanaman nilai, misalnya saja nilai “cinta pelanggan” atau “cinta kualitas”. Kata ‘cascading’ yang sering digunakan untuk menggambarkan sosialisasi budaya ataupun nilai-nilai perusahaan, sering membuat kita secara prinsipil merasa bahwa nilai-nilai tersebut harus di ‘guyur’-kan dari atas. Seolah-olah doktrin-doktrin yang sudah digariskan, bagai 10 perintah Allah yang harus dipatuhi. Namun, kita sendiri pun pasti mempertanyakan, seberapa efektif nilai-nilai bisa tumbuh dalam diri individu dan tim, bila mereka baru sekedar hapal tanpa penghayatan mendalam?

Sebuah perusahaan yang komit untuk memantapkan nilai dan budaya perusahaan, sangat menyadari bahwa diskusi-diskusi untuk mengumpulkan ‘masukan dari bawah’ sangat penting. Jumlah karyawan yang mencapai lima belas ribu orang membuat mereka melaksanakan tak kurang dari 5000 rapat untuk “menjangkau” seluruh karyawan. Di sinilah terlihat jelas betapa komitmen dari manajer-manajer lini tengah dan para supervisor diperlukan karena merekalah yang menghandel rapat-rapat kecil, mendengar baik-baik dan mengumpulkan masukan. Dari kegiatan ini, tidak hanya isi masukan yang jauh lebih berharga dari riset manapun, namun “engagement” karyawan pun lebih kuat karena mereka merasa hasil pemikirannya “didengar” dan diterapkan oleh perusahaan.

Dalam proses pembentukan nilai, kita pun perlu menyadari bahwa doktrin satu arah tidak akan membuahkan hasil terbaik. Komunikasi bolak-balik diperlukan untuk menjamin tumbuhnya penghayatan. Aktivitas “cascading” yang efektif harus membuka seluas-luasnya kesempatan bagi individu untuk merasakan, terlibat, mendiskusikan, membahas kasus-kasus di lapangan dan mempertanyakan nilai-nilai yang ada, sehingga terjadi “inner dialogue” yang membuat nilai bisa tumbuh dan kemudian mengakar.

Suntikkan ‘Nilai’, bukan Sekedar Cara
Sebuah bank dengan reputasi standar servis yang sangat baik, masih merasa perlu melakukan benchmark pada sebuah rumah sakit yang dinilai bisa membuat pasien nyaman. Dari luar tampaknya rumah sakit ini tidak mempunya SOP (Standard Operations Procedure) yang tegas. Semua pasien di dekati dengan cara yang berbeda-beda, tergantung penyakit, usia, suku bangsa, dan karakteristiknya. Dengan perlakuan ini, pasien yang datang segera bisa merasa nyaman, berkurang rasa takutnya, bahkan merasa betah dan ‘ingin kembali’.

Dari pengalaman benchmark, bank tersebut makin menyadari pentingnya memberikan pelayanan yang personal pada pelanggan yang mempunyai 1001 keunikan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Pemrosesan dokumen tentu harus singkat, cepat dan dilakukan dengan sigap, namun penanganan personal adalah kunci untuk memenangkan hati pelanggan. Manajemen bank segera menyadari bahwa sebelum mengarahkan pada pelayanan nasabah, karyawan pun juga perlu merasakan penanganan personal dari para atasannya. Karyawan juga perlu didekati secara tatap muka, ‘face to face’, hati ke hati. Selain karyawan perlu digelitik dengan persoalan bisnis seperti bagaimana membuat pelanggan lebih betah, bagaimana meningkatkan transaksi pelanggan dan memikirkan bagaimana perusahaan bisa menjadi ‘word of mouth’ dari para pelanggan yang puas, karyawan pun perlu terlebih dulu merasa ‘happy’ dan di ‘treat’ secara personal.

Satu hal lagi yang bisa kita “benchmark” juga adalah pihak manajemen bank mendorong pimpinan dan manager untuk mengumpulkan contoh-contoh pengambilan keputusan para karyawan dalam menghadapi kebutuhan pelanggan yang unik dan berubah-ubah. Mereka meyakini pendapat: “New ideas pop up from the pressure of trying to solve a problem for the customer.” Pengalaman dari karyawan ini yang kemudian di ‘share’ dan dijadikan ajang belajar antar karyawan. Kita lihat bahwa standar layanan seharusnya memang tidak “menyandera” garda depan sehingga jadi bersikap statis dalam memberikan pelayanan pada pelanggan. Penghayatan pun harus dinamis. Hanya dengan cara inilah perusahaan bisa: ”Moving beyond outputs”. [via EXPERD by Eileen Rachman & Sylvina Savitri(tpos/sm/ti)

life, Tips, Untuk Kita

Geeks Most Recommended Vacation Destinations and Checklist

Geeks Most Recommended Vacation Destinations and Checklist
credit: askmen.com

It is summer time and it is vacation time. Wherever in the world, most people want to get into the sand and the sun. So, it’s hard for geeks to get places where they can get their nerd on as hard as making vacation checklist. But geeks need vacation too, because they are human.

So, if you are a geek the questions are: what are my checklist? And where I should go?

It’s not easy to prepare vacation for a geek, but these may help you to know what your checklist are.

  • Manage your vacation plan. You can write it on notes of you can either use TripIt and store it on your gadget.
  • Check your network and make sure you have full control access to your home network.
  • Do research about internet connectivity options (Wi-Fi, 3G, HSDPA, etc).
  • If you’re planning out of country, make sure your phone will work with your carriers. You can use Skype as substitute, though.
  • Your devices need charge. Belkin Mini Surge Protector is one of the solutions you have for all of your devices.
  • Bring what’s necessary (i.e. memory cards for your camera).
  • Think about your gadgets safety such as your laptop on bags. It’s worth to think about your flight condition as well.
  • If you’re going to bring some clothes, rolling those is the best way to safe the place.
  • Back-up your data and unplug unnecessarily gadgets.

We have vacation checklist, but the next question is where are we going to? Since you’re geek, here are 10 most recommended vacation destinations for geeks where you can really geek out and blow-up your brain.

  • Kennedy Space Center. There are towering launch pads, huge rockets, history-making technology and vast stretches of NASA’s Florida wildlife preserve.
  • Chicago Museum of Science and Industry. You can find a working coal mine, a German submarine (U-505), a 3,500-square-foot model railroad, the first diesel-powered streamlined stainless-steel passenger train (Pioneer Zephyr) and a NASA spacecraft used on the Apollo 8 mission.
  • CERN (European Organization for Nuclear Research) where you can find massive Globe of Science and Innovation, featuring an exhibition taking you on a journey into the world of particles and back to the Big Bang. It’s in suburbs of Geneva.
  • The Atomium. It consists of nine steel spheres connected so the whole forms the shape of a unit cell of an iron crystal magnified 165 billion times.
  • International Spy Museum. Located in Washington, DC, which dedicated to everything secret, featuring 600 objects and exhibits on the history of espionage and spies in real-world practice and in popular culture.
  • Matmâta, Tunisia. It is fictional landscape and home of Luke Skywalker. A must-visit site for Star Wars fans.
  • Expo 2010 Shanghai China. The Expo offers exhibits from more than 190 countries and more than 50 international organizations. It is estimated that 70 million to 100 million visitors will visit the Expo, the most in history.
  • The Computer History Museum. The museum is dedicated to preserving and presenting the stories and artefacts of the information age, and exploring the computing revolution and its impact on our lives.
  • Jet Propulsion Laboratory (JPL). JPL is home to the development of epic space missions such as Voyager and Voyager 2, and the Mars Exploration Rovers Spirit and Opportunity.
  • Deutsches Technikmuseum Berlin (German Museum of Technology). Located in central Berlin and dedicated to transportation, manufacturing and technology, the museum boasts an impressive array of radios, phones, planes, sea-faring vessels and two whole locomotive sheds on its sprawling campus.

You have checklist either destinations. Go catch your ride and have some fun with geeks type. My last advice, if you’re going to vacation it means you want to get away from your routine. So, why you don’t just go and left your gadgets or network? Via [lifehacker] and [eWeek]. (tpos/sm/ge)

news, Uncategorized

Muktamar Muhammadiyah ke-46: Seabad Muhammadiyah, Lalu Apa?

Muktamar Muhammadiyah ke-46: Seabad Muhammadiyah, Lalu Apa?Besok adalah hari dibukanya Muktamar Muhammadiyah ke 46 hingga tanggal 8 Juli yang mengambil tempat di Yogyakarta. Pemilihan tempat sendiri dilakukan empat tahun sebelumnya, yaitu pada 21 April 2006 lalu setelah rapat Pimpinan Pusat dilaksanakan.

Tempat utama Muktamar berada di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sebuah gedung multifungsi yang dibangun dengan biaya Rp. 30 miliar. Multifungsi karena bisa digunakan sebagai sport-hall dan juga sebagai auditorium yang mampu menampung 5000 orang.

Dalam muktamar kali ini, isu liberalisme dan pluralisme masih menjadi agenda yang berujung pada pemilihan Ketua Umum. Kabar tentang akan dijegalnya tokoh-tokoh yang mengusung liberalisme dan pluralisme dari posisi pemilihan Ketua Umum juga sempat terdengar.

Beberapa pengamat menilai Muhammadiyah sedang mengalami kemandekan dan menghadapi hambatan. Mandek untuk maju dan berubah sebagaimana khittah 1912 yang digemborkan oleh KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri. Saya sendiri, melihat Muhammadiyah memang mengalami kemandekan. Pemikiran akan pembaruan yang seharusnya menjadi bahan utama sebagai modal Muhammadiyah dalam tatanan negara seolah kabur. Entahlah.

Sebagai penutup, saya kutip tweet dari @assyaukanie tadi siang sebagai berikut:

Menyambut Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta besok, saya akan mengirim beberapa twit tentang organisasi kaum modernis ini.
Muhammadiyah adalah organisasi Islam tertua di Indonesia yg masih hidup. Didirikan 1912 oleh KH Ahmad Dahlan.
Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan pembaruan Islam yg berusaha mendamaikan ketegangan antara Islam dengan modernitas.
Sejak awal, Muhammadiyah melakukan pembaruan terhadap doktrin2 Islam yang dinilai tdk lagi cocok dgn perubahan zaman.
Muhammadiyah, misalnya, menolak doktrin fatalisme (jabariyah), karena dianggap bisa mendorong orang malas berusaha.
Terinspirasi Muhammad Abduh dari Mesir, Muhammadiyah menganut paham kebebasan (qadariyah) yang lebih rasional.
Paham qadariyah (free-will) juga dinilai lebih akomodatif terhadap tantangan perubahan zaman.
Pada mulanya Muhammadiyah mengusung perbaikan dan berusaha menerobos sekat2 doktrin yang mengungkung kaum Muslim.
Ketika sebagian besar kaum Muslim menolak mengikuti metode pendidikan modern, KH Ahmad Dahlan malah mendirikan sekolah bergaya Belanda.
Para pengikut Dahlan kemudian mempertegas lagi identitas modern sekolah2 Muhammadiyah dgn memasukkan kurikulum sekular.
Dalam bidang pemikiran, para tokoh Muhammadiyah awal juga sangat kreatif.
Terpengaruh Aliran Sumatra (semacam Adabiyah dan Thawalib), mereka melakukan reinterpretasi thdp ajaran2 pokok Islam.
Mereka berusaha memahami ulang beberapa tradisi yang dianggap bertentangan dengan doktrin kemajuan.
Proyek pembaruan Muhammadiyah dikenal dgn Anti-TBC, yakni gerakan mengkritisi praktik2 berbau mistis dan irasional.
TBC, nama penyakit tuberculosis, adalah singkatan dari Takhayul, Bid’ah, dan Churafat.
Anti TBC merupakan agenda pembaruahn yang luar biasa pengaruhnya bagi kemajuan dan perubahan sosial di Indonesia.
Sebagian orang menganggap proyek Anti-TBC berbahaya bagi tradisi dan budaya lokal.
Di tengah kepercayaan berlebihan kepada mistik dan irasionalitas, Anti-TBC adalah solusi yang ideal.
Dilihat dari perspektif kita sekarang, apa yang dilakukan Muhammadiyah mungkin tampak biasa saja.
Tapi dilihat dari konteks zaman itu, apa yang dilakukan para tokoh Muhammadiyah awal adalah sesuatu yang luar biasa.
Siapa saja yang hidup pada masa itu pastilah merasa miris menyaksikan betapa terbelakangnya kaum Muslim.
Muhammadiyah memerangi TBC dengan dua senjata sekaligus: pemikiran keagamaan dan pemberdayaan umat.
Dalam bidang pemikiran, mereka merombak teologi lama yang rentan terhadap unsur-unsur TBC.
Dalam bidang pemberdayaan, mereka membuka pendidikan dan kelas2 vokasional, seperti sekolah kejuruan dan kesehatan.
Untuk melawan dukun dan klenik, Muhammadiyah membangun rumah-rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan.
Hampir satu abad kemudian, proyek Anti TBC yang digagas para pendiri Muhammadiyah cukup berhasil.
Kendati ada perlawanan dari NU sejak 1926, proses modernisasi Islam terus berjalan lancar.
Pembaruan dalam pemikiran Islam seperti sebuah keniscayaan yang tak bisa ditolak.
Bahkan NU sendiri tak kuasa menahan godaan untuk tidak melakukan pembaruan.
Meski agak terlambat, pada awal 1980an, generasi muda NU mengikuti langkah Muhammadiyah dalam melakukan pembaruan.
Dimotori intelektual semacam Gus Dur dan Mustafa Bisri, pembaruan pemikiran dalam tubuh NU dimulai.
Ironisnya, di tengah gencarnya NU melakukan pembaruan, pola pemikiran keagamaan dlm tubuh Muhammadiyah justru mandeg.
Bahkan ada kecenderungan alur besar pemikiran Muhammadiyah sekarang adalah anti pembaruan.
Saya kira ada persoalan serius dalam tubuh organisasi besar Islam ini.
Idealnya, setelah satu abad, Muhammadiyah mestinya melanjutkan kembali proyek tajdid-nya.
Tantangan terbesar Muhammadiyah, menurut saya, adlh bgmn lembaga ini bisa meneguhkan jatidirinya sebagai organisasi Islam modernis.

Entah apa yang akan terjadi setelah Muktamar ke-46 esok. Semoga ide pembaruan kembali menjadi dasar bagi Muhammadiyah. (tpos/sm/md)

blog, news, Technology

Baterai Li-ion Tahan 10x Lebih Lama, Soon

Dari sekian banyak smartphone, di setiap review yang saya temui selalu kecewa dengan baterai yang tidak tahan lama. Semua smartphone nasibnya sama. Besutan Apple misalnya, iPhone, keluarga smartphone buatan Sony Ericsson, Nokia, Motorola, HTC, dan lain sebagainya. Semua begitu.

Tidak hanya review dari situs kenamaan maupun majalah, bahkan personal reviewer mengatakan hal yang sama. Baterai smartphone sangat buruk untuk sekarang. Jika dikatakan oleh vendor bisa bertahan hingga 10 jam misalnya, hanya mampu bertahan 5 jam paling bagus. Tidak ada yang benar-benar bisa maksimal.

Untungnya, masalah utama smartphone itu tidak lama lagi akan sirna. Ada dua riset yang dilakukan universitas kenamaan tentang baterai dan masing-masing riset mengklaim dapat membuat baterai bertahan 10x lebih lama dari sekarang. Kedua riset tersebut adalah dari tim di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan satu lagi berasal dari Stanford University yang bekerjasama dengan Hanyang University (Korea) dan LG Chem.

Kedua riset bertujuan sama yaitu membuat daya tahan baterai lebih lama. Dan keduanya juga mengkalim baterai yang mereka buat dapat bertahan 10x lebih lama dari bateri yang ada saat ini. Bedanya, riset yang dilakukan oleh tim dari MIT menggunakan carbon nanotubes sementara tim Stanford, Hanyang dan LG Chem menggunakan silicon nanotubes.

Carbon Nanotubes

Sayangnya, meskipun riset dari Stanford, Hanyang dan LG Chem telah dipublikasikan sejak tahun 2009, hingga saat ini masih belum ada kepastian penerapannya. Sementara riset dari MIT baru dipublikasikan 21 Juni 2010 kemarin.

So, kita tunggu kapan hasil riset ini akan diterapkan di baterai. Atau ada di antara pembaca yang ingin segera mengimplementasikan? The Power of Share – sm/61023/re.