Belajar, Tips, Tutorial

Tutorial Microsoft Office Word: Memberikan Nomor Pada Baris

Sepertinya ini adalah tutorial pertama yang saya buat di blog. Rasanya tidak biasa, tetapi tak apalah. Itung-itung belajar dokumentasi dan berbagi ilmu. Kali ini, tutorial ini akan membahas bagaimana cara membuat penomoran pada baris kalimat dalam Microsoft Office Word 2007 atau 2010.

Membuat penomoran pada baris memang cenderung jarang digunakan. Tetapi dalam dunia hukum, misalnya pembuatan gugatan atau pledoi dan sebagainya, penomoran baris diperlukan. Selain dunia hukum, juga masih ada beberapa kategori orang yang membutuhkan penomoran pada baris. Nah, dalam Microsoft Office Word baik 2003, 2007 maupun 2010 ada sebuah fitur untuk membuat penomoran baris ini dengan mudah.

Pertama, siapkan dokumennya terlebih dahulu. Jangan kuatir tulisannya akan acak-acakan karena menambahkan nomor pada baris tidak akan berakibat pada tatanan tulisan yang sudah dibuat.

Membuat Nomor Pada Baris

Nah, selanjutnya adalah memberikan nomor pada baris-baris kalimat tersebut. Untuk menambahkan baris, letakkan kursor dalam dokumen, dimana saja, dan pilihlah tab Page Layout -> Line Numbers dan pilih Continous.

Page Layout - Line Numbers - Continous

Sehingga hasilnya adalah seperti di bawah ini:

Hasil pemberian nomor pada baris

Yang telah dilakukan di atas berarti seluruh baris dalam dokumen akan diberikan nomor dari satu hingga nomor terakhir berurutan. Lalu, bagaimana jika ingin memberikan nomor pada baris hanya dalam satu paragraf? Untuk  membuatnya, maka langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

Letakkan kursor pada awal huruf paragraf yang akan diberikan nomor. Setelah itu, pilih menu Page Layout -> Break -> Continous. Hal ini dimaksudkan untuk memisahkan bagian paragraf sebelumnya dan paragraf yang akan kita beri nomor. Setelah kita klik, maka tidak akan nampak perubahan apa-apa.

Page Layout -> Breaks -> Continous

Karena yang akan diberikan nomor baris hanya satu paragraf, maka lakukan hal yang sama pada paragraf setelah paragraf yang akan diberikan nomor tadi.

Jika telah selesai langkah selanjutnya adalah memberikan nomor pada basis. Untuk membuat nomor, letakkan kursor pada paragraf yang akan diberikan nomor. Setelah itu pilih Line Breaks (masih dari tab Page Layout) kemudian Line Numbering Options.. (yang paling bawah) sehingga muncul dialog pengaturan halaman.

Dialog pengaturan halaman

Selanjutnya, pastikan pada bagian ‘Apply to:‘ berisikan ‘This section‘ yang berarti pengaturan ini hanya berlaku pada bagian ini saja. Setelah itu klik tombol ‘Line Numbers…‘ untuk memunculkan dialog pengaturan line number.

Pengaturan nomor pada baris

Centang pada ‘Add line numbering‘ dan pilih ‘Restart each section‘ pada bagian Numbering. Setelah dipilih, klik OK. Lanjutkan dengan memilih tombol OK pada dialog pengaturan halaman. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Hasil pemberian nomor pada baris dokumen

Dengan fitur ini, kita tak perlu memberikan nomor secara manual dengan menambahkan nomor-nomor sendiri. Lebih praktis dan tidak repot. Fitur dan cara ini berlaku untuk Microsoft Office Word 2007 maupun 2010.

Demikian tutorial Microsoft Office Word kali ini, selamat mencoba dan semoga berguna.

Hikmah, Untuk Kita

Ketulusan vs Kepura-puraan

Ketulusan dan Trick ~ Ahmad Saiful MuhajirSeorang teman yang bisa dikatakan seorang ‘socialite’, kalau diamati lebih teliti, banyak menggunakan pujian bila bertemu dengan teman temannya.  Karena pujiannya itu terlalu monoton yaitu selalu mengatakan bahwa lawan bicaranya terlihat ‘lebih langsing’, teman kita ini langsung terlihat ketidak tulusannya. Bahkan bila menemuinya, saya teringat kata kata penyair Irlandia,  Oscar Wilde: “How clever you are, my dear! You never mean a single word you say”. Teman saya, yang  lebih ekstrim lagi, pasti akan berkomentar: “muna….” ( baca: munafik).

Kita begitu banyak menyaksikan transasksi sosial yang terasa tidak diwarnai dengan hati, saling cium pipi bukan sekedar antara ibu ibu tetapi juga  bapak bapak, kepura-puraan beramal, spiritual, bijak, bermoral, yang sering membuat kita gundah, dan mencari-cari, siapa di lingkungan sosial kita ini yang bisa dipegang, janji, kata-kata maupun nasehat-nasehatnya. Pertanyaan juga: apakah  kesan yang kita dapat itu, disadari oleh individunya sendiri? Apakah ia sadar bahwa kata kata ungkapannya serta ekspresinya penuh kepura-puraan?

Almarhum ayah saya selalu mengingatkan: “orang pada dasarnya selalu berniat baik, kalau dia berbuat tidak baik dimata kita, mungkin ia tidak menyadarinya”. C.G.Jung, psikiater Swiss, juga  berpendapat :” the hypocrisy is based on being   not aware of the dark or shadow-side of their nature”. Membentuk  ‘image’, berbasa basi, berusaha agar terlihat ‘baik’ adalah revolusi individu untuk mengembangkan, bahkan memperbaharui dan mempertahankan eksistensinya di lingkungan sosial.

Pertanyaannya bisakah hal ini kita lakukan dengan ‘self-knowledge’ yang lebih tinggi agar supaya kadar ketulusannya juga bisa kita kembangkan? Bukankah dengan kesadaran diri yang lebih tinggi, rasa kemanusiaan yang ‘genuine’ akan lebih dirasakan individu sehingga hal ini bisa mengurangi ‘rasa keterasingan’ dan rasa percaya pada sesama manusia?

Dalam sebuah pertemuan antara direktur pemasaran dan para kepala cabangnya di sebuah perusahaan raksasa, sang direktur menceriterakan betapa ketulusan bisa mengubah keluhan menjadi pengembangan bisnis. Tentunya dalam  situasi keluhan, mulut manis, senyum dan semua tata cara servis yang standar tidak selalu bisa berlaku lagi. Para pebisnis sangat paham dan bisa membedakan antara komitmen, permintaan maaf dan janji yang dikatakan dengan tulus dan basa basi apalagi kosong.  Kecocokan omongan dengan kenyataan di masyarakat sebenarnya  hanya memberlakukan ujian satu kali: ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Terkadang, tanpa perlu ujian, orang yang cukup matang sudah bisa merasakan tulus tidaknya seseorang dalam satu kali pertemuan.

Demikian pula di organisasi. Bisa saja seseorang karena pandainya, katakanlah  bermanis mulut, mendapatkan simpati dari atasannya. Tentunya arah penilaian yang obyektif terletak pada kapabilitasnya. Disinilah ujian individu sebenarnya, untuk kembali menelaah dirinya: ”kompetenkah saya?” Kondisi yang sering ‘mengangkat’ individu karena kekuatan ‘lobby’ nya ini, sering menyebabkan individu malas berintrospeksi dan terbawa pada situasi ‘semu’ yang penuh ketidak benaran. Bahkan, ia akan berusaha keras, agar ketidak benaran ini dipertahankan melalui manuver-manuver yang ‘tricky’ lagi. Sebenarnya individu yang mulai lepas dari ‘self knowledge’ begini, sudah kehilangan kesempatan emas untuk maju. Ia mempunyai pandangan yang semu mengenai dirinya. Dan mulai tergantung pada atribut, norma, manuver sosial palsu saja untuk mempertahankan posisinya.

Tanpa harus mengurangi rasa percaya diri, sebenarnya setiap individu perlu duduk dan bersandar, untuk menelaah dirinya. Apakah informasi, pengetahuan, kapabilitas, ketrampilan, serta praktik-praktik yang dilakukannya  masih sejalan dengan kaidah profesi, kejujuran dan ‘fairness’ di lingkungan sosial yang  general. Groucho Marx: “The secret to life is honesty and fair dealing. If you can fake that, you’ve got it made”.

Dengan contoh bahwa ketulusan bisa menguntungkan, bahkan di bidang bisnis, maka kita memang pantas mempertimbangkan untuk memperkuatnya dari hari ke hari. Kita bisa memulainya dengan lebih mendengarkan kata hati: apakah apa yang saya ucapkan ini benar datang dari lubuk hati yang paling dalam atau sekedar di bibir saja? Kitapun bisa meyakinkan diri, bahwa  ketidaktulusan bila diteruskan tidak akan berbuah manis. Bayangkan bila kita menjadi seorang pemimpin, bisakah kita membangkitkan ‘trust’ bila tidak tulus? Trust bila menjadi pelumas hubungan dan transaksi bisnis, sementara ketidaktulusan mau tidak mau akan menjadi penghambat.  Tanpa ketulusan, kebersamaan pun akan kering, tidak ber’nyawa’.

Beberapa teman yang tergabung dalam organisasi besar yang penuh dengan office politics, seperti menusuk dari belakang dan saling sikut menyikut, tetap bisa berjalan maju dengan tenang dan tidak  mengesankan terimbas oleh adanya pengaruh basa basi, cari muka, dan ketidak tulusan. Ketika saya tanyai salah seorang teman,  apa rahasianya, ia tenang tenang menjawab, “saya banyak melakukan komunikasi tertulis, di hampir semua komunikasi, formal dan tidak formal”. Dengan semua komunikasi tercatat begini, hampir tidak mungkin orang mengingkari apa yang pernah ia katakan. Selain itu, dengan menulis, kita bisa bermain kata-kata, mencari  ekspresi yang tepat, dan sekaligus bisa justru membudayakan transparansi, karena pembicaraan atau hasil pembicaraannya bisa kita ‘share’ dengan pihak yang perlu mengetahui dan terkait dengan urusan yang sedang dikerjakan. Kitapun dalam pemecahan masalah bisa menyebut kembali sasaran utama perusahaan sehingga dengan sendirinya motif pribadi akan tersingkir dan didominasi dengan motif untuk men-support sasaran dan nilai nilai perusahaan.

Menulis membuat kita lebih ‘aware’” ungkapnya. Bila terasa masih ada agenda agenda pribadi, kita tidak perlu segan segan memberantasnya, kepentingan lembaga yang sebetulnya adalah kepentingan umum, pasti tidak bisa kalah oleh kepentingan pribadi. Rasanya tetap lebih baik membuang kemunafikan dari perbendaharaan ekspresi kita, karena metode itu perlahan lahan akan membunuh pribadi kita sendiri.

[oleh Eileen Rachman & Sylvina Savitri via Experd]

Hikmah, life, Tips, viewpoint

Menggugat Masjid

Setiap Jum’at siang, masyarakat Muslim berbondong-bondong keluar dari rumah, kantor, dan lain sebagainya ke satu tempat. Tempat itu adalah MASJID. Sebuah tempat suci untuk kembali menghadap Tuhan setelah melupakannya beberapa saat karena kesibukan duniawi.

Di setiap Jum’at dan di setiap masjid, pasti ada setidaknya satu kotak yang beredar saat Khatib berkhutbah. Kotak ini disebut dengan macam-macam nama. Ada kotak amal, kotak jariyah, tromol, dan masih banyak lagi. Ketika beredar inilah, para jamaah sholat Jum’at akan menyisihkan sebagian uang untuk dimasukkan ke dalam kotak.

Tergantung tempat dan jumlah orangnya, kotak ini ketika dihitung bisa mencapai hingga jutaan rupiah. Apalagi jika di kota-kota besar dan di masjid-masjid besar. Berbeda dengan masjid besar di kota besar, masjid kecil di dusun hanya mendapat paling banyak 200 ribu. Lumayan untuk sekedar membersihkan lantai setiap hari dan pewangi kalau perlu.

Menggugat Masjid ~ Ahmad Saiful Muhajir

Di tempat sholat Jum’at saya sejak lima bulan lalu, dalam laporan bulanan tak kurang dari satu juta diraup setiap Jum’at. Dalam laporan mingguan yang biasa disampaikan sebelum khutbah dimulai, keuangan total Jum’at lalu mencapai 23 juta. Angka yang fantastis.

Angka sebesar itu dikelola oleh pengurus yang saya tidak tahu pasti orangnya. Dalam laporan mingguan, biasanya ada pengeluaran untuk khatib, bersih-bersih dan lain sebagainya. Sisanya, masuk ke kas masjid. Di sinilah gugatan saya berawal.

Ada uang sebesar itu yang cuma berhenti di bank dan diam. Sementara di sisi lain, beberapa masjid harus terhenti pekerjaannya karena kekurangan dana. Di sisi yang lainnya, ada anak-anak yang tidak bisa sekolah dan, terpaksa ataupun tidak, menjadi pemulung. So, alih-alih uang di masjid-masjid hasil infaq maupun shodaqoh masyarakat tersebut cuma diam di bank, bukankah lebih baik jika disalurkan?!

Ketika berbicara soal zakat, kita (termasuk saya) merasa malas karena harus menuju ke sana dan ke sini untuk menyetor (misalnya) zakat mal. Kita juga merasa lebih berat ketika diminta menyetor zakat yang sebulan tiba-tiba sekian. Tapi kita merasa lebih mudah menyalurkan infaq/shodaqoh di masjid setiap Jum’at karena nilainya tidak terlalu besar. Ikhlas jadi terasa jauh lebih mudah.

Ada baiknya jika sebuah masjid besar bisa memiliki pemasukan hingga jutaan rupiah di setiap Jum’at, menjadikan momen Jum’atan sebagai momen bagi kaum muslim agar mereka berzakat. Jadikan tromol/kotak jariyah/kotak amal atau apapun namanya sebagai wadah bagi mereka agar berzakat dengan mudah. Hasilnya, bagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Pola ini akan menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Akhirnya masjid bisa menjadi sebuah tempat dimana kaum Muslim beribadah dan juga ikut menjadi bagian dari sebuah perubahan. Dengan demikian masjid bukan saja tempat sholat dan tempat beristirahat.

Menyimpan uang kas di masjid tidak akan mengubah apapun. Hanya bangunan masjid lah yang akan berubah, sementara masyarakatnya tidak. (tpos/sm/vi) – Image credit: Photo.net