blog, linux, Technology, viewpoint

Kita Nggak Butuh Itu yang Namanya Open Source!

Kita Nggak Butuh Itu yang Namanya Open Source! Ketika ditanyakan kepada banyak orang mengapa memilih Linux atau aplikasi berbasis Open Source, sebagian besar dengan kompak menjawab karena sifatnya yang Open. Kelompok kecil yang lain akan menyebut karena suka, dan sebagian kecil lainnya lagi akan mengatakan karena itu berarti mereka tidak perlu menggunakan bajakan. Well said!

Pertanyaannya kemudian, memangnya ada apa dengan aplikasi yang sifatnya open? Sebagian, akan menjawab: agar aku bisa memodifikasi sesuai keinginan dan jika ada lubang keamanan aku bisa memperbaikinya sendiri sesuai kebutuhanku. Sempurna! Apakah di dunia nyata begitu? Tidak!

2 hingga 3 tahun belakangan Open Source (terutama Linux) memang menjadi idola. Dan mayoritas pengguna adalah end-user karena misi menyebarkan virus Open Source belakangan ini adalah untuk end-user. Yang dibutuhkan oleh end-user sudah ada semua di sana. Namun, alasan penggunaan open source software (OSS) oleh end-user karena sifatnya yang open ini terasa tidak masuk akal. Faktanya, ketika digunakan OSS hanya digunakan dan tidak benar-benar dioptimalkan sesuai dengan sifatnya yang terbuka. Pengembangan OSS lebih lanjut hanya terjadi pada sebagian kecil komunitas dan perusahaan-perusahaan besar yang mau melakukannya.

Untungnya, pengembang OSS berbasis komputer, baik notebook maupun PC, tidak sejahat pengembang (dalam hal ini carriers) Android. OSS di komputer biasanya sudah cukup sempurna untuk end-user dan jarang membuat jengkel. Sifat terbuka pada OSS untuk komputer membuat momok akan OSS di kalangan masyarakat justru berkurang.

Kejahatan pada sifat terbuka OSS justru terjadi pada Android. Karena sifatnya yang terbuka, carriers bebas untuk melakukan modifikasi sesuai dengan keinginan mereka. Parahnya, mereka membuat Android menjadi sistem operasi smartphone yang cantik namun sekaligus membuat berang. Ada kasus apps yang tidak bisa diinstall. Ada kasus apps bawaan yang jelek dan nggak penting. Ada pula kasus fitur hebat Android yang dimatikan. Karena hal inilah sifat terbuka-nya Android akhirnya malah membuat berang banyak orang –sebagian memaki. Keterbukaan yang disediakan Google atas Android ini disalahgunakan oleh para carriers demi meraup untung tanpa memperhatikan konsumen.

Jadi, kalau anda seorang end-user sifat terbuka atau tidak rasanya nggak penting. Kalau anda seorang developer, sifat terbuka ini penting. Para end-user bisa jadi karena memang suka atau bisa jadi karena alasan nggak mau rugi. :)

Nah, jika ada diantara anda yang ingin memaki soal Android, memakilah pada pengembang lanjutan (carriers atau provider hardware). Besok, jika anda ingin memaki Ubuntu, memakilah pada wajahnya Canonical. Jika bermaksud memaki Fedora, memakilah pada wajah.. Red Hat? Linux maupun Google nggak salah soal Android maupun distro-distro itu. :) (tpos/sm/1009)

blog, Technology, viewpoint

Perang Android vs iOS Baru Saja Dimulai

Setelah diumumkan pada Google I/O Conference pada 20 Mei 2010 lalu, Android versi 2.2 masih belum juga sampai di konsumen. Hingga saat ini, Nexus One yang dijadwalkan akan menjadi handphone pertama untuk update belum juga dapat mendapatkan kabar. Begitu juga dengan nasib Motorola Droid dan seri HTC.

Android memang tergolong pendatang baru di industri mobile phone. Android Inc. berawal dari startup yang kemudian diakuisisi Google pada tahun 2005. Dua tahun kemudian Open Handset Alliance, konsorsium dari perusahaan sekelas Google, HTC, Intel, NVidia, Qualcomm dan masih banyak lagi bergabung untuk membesarkan si robot hijau. Hasilnya, satu tahun kemudian Android 1.0 lahir. Berikutnya pada 2008, sembilan perusahaan besar lainnya, termasuk Sony Ericsson, bergabung dalam bendera Android development.

Android 2.2 - Froyo

Di pertengahan 2010 ini, hampir tiga tahun sejak dirilis pertama kali, Android menabuh genderang perang yang sesungguhnya dalam barisan platform untuk mobile phone. Senjata dan amunisi yang disiapkan pun tidak main-main.

Fitur yang paling utama dan didengungkan oleh Google adalah kecepatan. Google mengklaim kecepatan Froyo lima kali lebih cepat dari versi sebelumnya. Adalah kompiler Dalvik dengan JIT versi baru yang menjadi senjata andalan untuk performa CPU. Selain itu, Javascript baru juga membuat kecepatan browsing bertambah dua hingga tiga kali lipat (fastest browser in the world).

Senjata yang lain adalah dukungan aplikasi berplatform Flash, Tethering, Hot-spot support, serta Microsoft Exchange support untuk bekerja dengan cloud computing. Bukan itu saja, masih ada SD applications dan App Backup untuk melakukan backup maupun copy pengaturan ke phone lainnya.

Selain fitur Froyo tadi, Android juga dikabarkan akan membenahi model Android Market untuk memudahkan konsumen mencari apps. Dan tentu masih ada banyak lagi fitur yang bisa dibanggakan termasuk web-based Android yang kabarnya sedang dikembangkan. Jika dari awal 2009 hingga kuartal 1 tahun 2010 penjualan mobile phone berbasis Android meningkat hingga 707 persen, maka tak diragukan lagi Android akan terus meningkat setelah Froyo bisa dinikmati konsumen.

Di tengah meningkatnya antusiasme konsumen terhadap Android, Consumer Reports memasukkan iPhone 4 dalam daftar ‘Not Recommended. Dalam laporannya, Customer Reports menyebut bahwa iPhone 4 mengalami cacat design. Sebuah fakta yang menohok hati Steve Jobs dan Apple hingga thread ‘Consumer Reports’ untuk review iPhone 4 dihapus dari Apple Forum. Selain laporan Customer Reports, masih ada banyak lagi laporan konsumen yang mengeluhkan beberapa masalah. iPhone 4 adalah produk Apple pertama yang dibekali iOS 4, sebuah platform terbaru yang diunggulkan Apple. Sayangnya, ketika iOS 4 dihadirkan via iPhone 4, semua tidak berjalan mulus.

Bagi Android, ini adalah kesempatan besar untuk memenangkan pasar. Ketika konsumen mulai ragu untuk membeli iPhone, Android datang dengan Froyo dan menyambut konsumen dengan fitur barunya. Saat ini, yang terpenting bagi Android adalah memenangkan hati konsumen iOS karena platform lain seperti Windows Mobile maupun BlackBerry sudah tak lagi menjadi hambatan. Dan perlu dicatat, Android juga siap untuk memenangkan hati konsumen kalangan enterprise.