life

The Life Will Find The Way…

Text Box: ‘The Life Will Find The Way’Begitulah kira-kira bunyi kata-kata yang diucapkan oleh salah seorang aktor utama dalam film tersebut. Ya, film ‘Jurrassic Park’. Film garapan sang sutradara yang cukup beken ‘Steven Spielberg’, film ini juga cukup banyak meraup keuntungan. Kata-kata tersebut sendiri kira-kira berarti ‘Hidup akan mencari jalannya sendiri’. Inilah yang perlu digarisbawahi, bukan karena ini adalah film garapan Steven Spielberg, sang sutradara kenamaan, juga bukan karena ini adalah merupakan film trilogi yang laris manis di pasaran. Juga bukan karena yang mengucapkannya dalam film tersebut adalah seorang doktor atau profesor.

Hidup memang sebuah perjalanan, kalau anda menganggapnya demikian. Hidup adalah hanya numpang mampir di warung pinggir jalan kalau anda berpikir bahwa hidup adalah seperti itu. Semuanya adalah tergantung apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan. Tidak ada paksaan, karena semuanya dilindungi oleh undang-undang. Tetapi, sebenarnya hidup itu berjalan seperti apa? Hidup itu berjalan ke arah mana?

Orang bijak mengatakan, manusia hidup harus punya tujuan. Kalau anda menganggap orang hidup adalah sebuah perjalanan, maka anda harus menentukan tujuan dari perjalanan anda. Apakah anda akan menuju kampung halaman yang telah anda tinggalkan sejak lama? Ataukah anda hendak bepergian untuk mencari penghidupan? Begitupun juga kalau anda berpikir bahwa hidup adalah hanya mampir ke warung di pinggir jalan, maka anda pun harus berpikir tujuan anda mampir di warung tersebut. Apakah anda akan mengenyangkan perut anda dengan sepiring nasi lengkap dengan telur dan sayur asem? Ataukah anda lebih senang dengan singkong goreng? Atau anda lebih memilih menikmati secangkir kopi hangat dan sebatang rokok lintingan? Semuanya harus punya tujuan. Tanpa tujuan, hidup akan terasa hampa dan tanpa apa-apa – begitu kata orang.

Ketika anda ditanya bagaimana hidup yang anda jalani, anda tentunya akan berpikir bahwa hidup anda adalah apa yang telah, sedang dan akan anda usahakan untuk menentukan seperti apa tujuan hidup anda. Tapi, sadarkah anda bahwa usaha apapun yang anda lakukan, bukanlah anda yang menentukan hidup anda, melainkan hiduplah yang akan menemukan jalannya sendiri. Seperti judul di atas, the life will find the way.

Anda mungkin akan bertanya, bagaimana mungkin? Bukankah yang mengusahakan hidup adalah saya sendiri? Bukankah yang menentukan tujuan saya hidup adalah seorang yang bernama ‘saya’ dalam diri ini? Ya. Benar sekali. Orang hidup selalu mengusahakan apapun untuk menentukan tujuannya. Namun, anda juga mengerti tentang apa yang terjadi saat anda menginginkan sebuah mobil dan rumah mewah. Namun, yang anda dapatkan justru sebuah sepeda motor butut dan sebuah kontrakan berukuran 3X3 m. Anda juga tahu, saat anda ingin menentukan hidup anda dengan happy ending. Namun, ujung-ujungnya anda malah harus menelan pil pahit, karena anda mendapatkan ending yang ternyata tidak terlalu happy.

Masih ingatkah anda saat anda harus menempuh ujian akhir di sekolah esok hari, namun anda harus rela untuk tidak mengikuti ujian karena sakit? Padahal hari sebelumnya anda baru saja jalan-jalan ke mal bersama teman-teman anda? Masih ingatkah anda ketika anda menyukai seseorang, dan anda ingin menikmati dan menghabiskan hidup ini bersamanya, namun anda ditolaknya secara mentah-mentah? Atau saat anda sedang menikmati manisnya cinta yang anda rasakan bersamanya, dengan mudah dia memutuskan anda?

Ah sudahlah, tidak perlu diingat semua cerita buruk akan kehidupan ini. Semuanya adalah sesuatu yang sudah berlalu dan saya yakin anda bisa menjalani hidup ini lebih baik dengan semua apa yang telah anda dapatkan dari pengalaman anda terdahulu. Begitulah hidup, bukan anda dan saya atau siapapun yang menentukan dan akhirnya menemukan hidup ini, melainkan hidup itu sendirilah yang akan menemukan jalan yang memang sudah harus dilaluinya. Sementara kita bisa berusaha untuk meluruskan hidup ini agar menjadi lebih baik, dan hidup akan menemukan jalannya sendiri.

Diakhir artikel saya, saya selalu mengingatkan anda. Bahwa, wacana bukanlah sesuatu yang harus melulu kita terima dan ikuti. Wacana adalah sarana penunjang agar wawasan dan pengetahuan kita bertambah sehingga kita bisa mengambil kesimpulan terbaik menurut kita sendiri. Tidak ada yang pernah berhak memaksakan idenya untuk kita, karena kita hidup berhak untuk berpendapat dan mengeluarkan ide. Singkatnya, anda boleh saja membaca, tetapi hati-hatilah terhadap wacana. ‘asa anyaj’alallahu hadzihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Tidak diperjualbelikan yang diperjualbelikan…

Kamis malam lalu, tepatnya tanggal 02 Agustus 2007, saya berkunjung ke Gedung Wanita dalam acara Semarang Book & Library Fair 2007. Book fair kali ini sama seperti book fair-book fair sebelumnya, sepi dan hanya itu-itu saja, baik penerbitnya maupun pengunjungnya. Saya bahkan hampir hafal penerbit dan stand yang ada di sana dalam book fair sebelumnya karena setting tempat yang memang tidak berubah.

Lalu lalang pengunjung yang mencoba memilih dan memilah buku mana yang terbaik untuk dipilih membuat suasana menjadi terlihat sibuk dan ramai. Setelah berkeliling dan melihat-lihat stand-stand yang ada, saya melanjutkan ke sebuah stand yang – saya lupa apakah stand tersebut bernama atau tidak – menjual buku-buku bekas dan baru dengan harga yang relatif murah. Dengan kertas-kertas bertuliskan ‘Rp. 5000’ dan ‘Rp. 10000’ membuat stand ini ramai sekali dibanding stand-stand lainnya. Pengunjung berlomba mencari buku terbaik untuk harga yang terbaik. Saya mencoba melihat dan memperhatikan kalau-kalau ada buku yang menarik dengan harga yang murah, mengingat budget saya sendiri kurang lebih hanya sepuluh ribu saja. Artinya, saya harus membeli buku dengan harga kurang dari atau sama dengan sepuluh ribu rupiah.

Saya hadir bersama teman kos saya yang kebetulan ingin membeli buku baru dalam harga yang murah dari biasanya. Ketika sibuk memilih dan memperhatikan buku, saya dikejutkan oleh teman kos saya ini. Sembari jari telunjuknya menunjuk sebuah kotak kecil di pojok kanan atas sampul buku tersebut, dia menunjukkan kepada saya sebuah buku keagamaan. Saya perhatikan dan dalam kotak tersebut tertulis ‘Tidak diperjualbelikan – milik negara’. Teman saya berkomentar, ‘Wong milik negara dan ada tulisannya, kok dijual sih.’ Saya hanya tersenyum mendengar komentarnya. Buku tersebut dijual dengan harga Rp. 10000,-. Buku ini biasanya dipakai dalam pelajaran agama yang biasanya hanya dipinjamkan oleh sekolah dan tentu saja tidak diperjualbelikan. Setelah beberapa saat dia menambahkan ‘Kalau boleh lima ribu, saya beli ini’ dan saya kembali tersenyum.

Dalam hati saya terlintas, rupanya orang Indonesia terlalu terobsesi dengan perjual-belian. Bahkan sampai menghalalkan apa yang tidak seharusnya dilakukan – menjual milik negara. Bagaimana mungkin mereka menjual milik negara yang jelas terang-terangan tidak diperjualbelikan? Bagaimana mereka dengan terang-terangan harta negara dengan harga sepuluh ribu? Hmmm…

Saya jadi teringat, saat pameran komputer di Semarang juga. Dalam pameran komputer tersebut, seorang teman saya memergoki sebuah stand dengan terang-terangan menjual sebuah Operating System yang open source dengan harga Rp. 30.000,-. Padahal, dalam cover CD tersebut jelas-jelas ditulis bahwa ini adalah produk open source dan diminta untuk disebarluaskan secara bebas. Bahkan, saya memesan ke produsennya sendiri secara cuma-cuma dengan kebebasan untuk meminta berapa jumlah yang saya inginkan. Saya benar-benar tak habis pikir dan dilanda kebingungan, bagaimana mungkin kejadian seperti ini terjadi?

Saya jadi terpikir, apakah lama kelamaan masyarakat ini akan menjual pulau-pulau yang mereka diami hanya untuk mendapatkan sesuap nasi? Bagaimana mungkin, saat tentara nasional kita sedang ribut bahkan hampir perang dengan negara tetangga karena mempertahankan sebuah pulau kecil, dan di saat itu masyarakat kita dengan tenang menjual harta negara yang jelas-jelas tidak diperjualbelikan? Untuk sesuap nasikah? Atau memang tidak adanya pekerjaan yang bisa mereka lakukan? Entahlah. Saya tidak tahu. Semoga masyarakat kita sadar dan peduli bahwa milik negara adalah apa yang harus kita jaga sebagai seorang warga negara. ‘asa an yaj’alallahu hadzihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Hehe…

Hehe. Begitulah judul artikel ini. Saya sendiri tidak tahu harus mengisi artikel ini dengan apa, saya sedang mencoba meng-appreciate usulan seseorang. Banyaknya kami berbagi. Itulah kemungkinan mengapa saya mencoba menuruti usulan darinya. Kami begitu banyak berbagi, suka, duka, dan ceita-cerita yang mungkin akan terdengar terlalu basa-basi dan tidak berguna. Namun, kami menikmatinya sebagai penyedap bagi kehidupan yang tidak selamanya indah dan menyenangkan. Mengingat saya seorang pelupa, saya sering mengatakan isnpirasi yang muncuk sewaktu-waktu kepadanya, sehingga ketika saya lupa mungkin dia akan mengingatkan apa yang menjadi inspirasi saya. Judul ini sendiri, dia buat ketika saya mencoba mengatakan inspirasi yang saya dapatkan. Namun, saya tidak berhasil mendapatkan judulnya dan dengan tertawa dia bilang ‘Beri judul saja ‘hehe’”. Mendengar judul yang lumayan nyentrik, saya sendiri tertawa dan berpikir. Kemudian, pada akhirnya saya menulis ini.

Sebenarnya, kata-kata ‘hehe’ adalah kata-kata yang biasa saya gunakan dalam short message service (sms). Kata-kata ‘hehe’ saya gunakan ketika saya mencoba mengekspresikan tawa saya. Saya tidak tahu harus mengekspresikan tawa saya dengan tulisan seperti apa. Yang saya bisa tuliskan hanya ‘hehe’ atau mungkin ‘haha’. Sebuah tawa yang jika diwujudkan akan terlihat seperti sebuah tawa yang dipaksakan. Sejujurnya, saya bukan orang yang pelit untuk tertawa. Bahkan, bisa dikatakan saya adalah orang yang hobinya tertawa lebar – kalau anda tidak percaya, silakan buka profile saya di friendster http://www.friendster.com/ipullup. Oiya, sebenarnya saya sedang menyiapkan sebuah photo gallery yang saya buat khusus sebagai bentuk penghargaan diri saya. Maklum, saya pikir saya bisa menyimpannya di internet sehingga space harddisk saya bisa bertambah. Hehe… Salah satu hobi dan keahlian saya adalah saya expert di ‘wide smile’ hehehehehehe….

Mengapa saya hanya menuliskan ‘hehe’? jawabannya sederhana saja. Saya tidak tahu harus menuliskan tawa lebar saya menjadi seperti apa. Apakah ‘hehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehe…’ atau ‘hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha…’ atau entah seperti apa. Yang jelas, kalau saya harus menuliskannya seperti pilihan di atas, maka tawa saya akan menghabiskan jatah maksimal karakter satu buah sms. Dan artinya, saya akan membayar banyak untuk tulisan yang seharusnya bisa dituliskan cukup hanya dengan satu sms saja. Ya, begitulah alasan saya menuliskan tawa saya dengan ‘hehe’. Alasan pertama, saya tidak tahu harus menggambarkan tawa lebar saya dengan tulisan seperti apa. Alasan kedua, kalau saya harus menuliskannya panjang seperti tawa saya, maka pulsa saya akan cepat habis – maklum, saya anak kos – hehehehehe….

Sebenarnya, si-yang-mengusulkan-judul ini sendiri ketika mengekspresikan tawanya lewat sms, biasanya menuliskannya dengan ‘he..’ atau ‘he…’. Kalau lebih diperhatikan, mungkin tawa seperti jika diekspresikan akan menjadi sangat-sangat dipaksakan. Hehehe… jadi, bagaimana menuliskan tawa dalam sms? Jawabannya ‘terserah anda’. Mengapa anda harus susah-susah mengekspresikan apa yang ingin anda lakukan. Bukankah semuanya hanya masalah nyaman dan tidak nyaman? Feel comfort! Bukankah anda bebas mengekspresikan apa yang anda ingin lakukan? Just do it! Jadilah diri sendiri! Biarkan dunia melakukan apa yang ingin dilakukannya, dan lakukanlah apa yang ingin anda lakukan. Anda tidak perlu malu untuk melakukan apa yang tidak melanggar hak asasi orang lain. Karena anda juga punya hak. Gitu aja kok repot.

Buat si-yang-mengusulkan-judul terima kasih atas idenya. Mungkin lain kali saya akan memerlukannya lagi. Buat pembaca sekalian, jagalah barang-barang anda. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Dan buat semuanya, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan. Hehehe… – ‘asa an yaj’alallahu hadzhihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Pacarku Di Sini, Pacarmu…?

Pacar, saya yakin anda mengerti dan tahu bagaimana dan apa itu. Bahkan anak Taman Kanak-kanak pun dengan mudah mengatakan bahwa dia tahu apa itu pacar. Definisi pacar itu sendiri bermacam-macam, didefinisikan oleh siapa dan dari sudut pandang mana. Ada yang mengartikan bahwa pacar adalah seseorang yang disayangi, dikasihi, dicintai dengan segenap jiwa dan hati. Ada pula yang mengartikan bahwa pacar adalah kekasih yang menenteramkan jiwa. Apapun definisi pacar, jika ditarik benang merah, maka pacar atau kekasih dapat diartikan sebagai seseorang, yang dicintai, dikasihi, disayangi, berharga, penting dan merasa tenang jika berada di sisinya, di dekatnya sehingga ketika jauh akan terasa kehilangan.

Apakah pacar itu perlu? Jawabannya bisa perlu, bisa tidak. Dalam konteks yang sejujurnya dan murni, pacar adalah seseorang yang dicintai, dan dikasihi kemudian merasa tenang dan merasa kehilangan bila jauh darinya, sehingga pacar adalah bisa diartikan sebagai penenteram jiwa di kala sedih dan nelangsa. Sebuah penenteram adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki untuk menutupi kesedihan dan rasa kesepian yang kadang-kadang menjalar. Namun, pada kenyataannya pacar justru bukan menjadi tempat yang seharusnya. Pacar malah dijadikan tempat menumpahkan rasa marah, pacar justru menjadi tempat untuk direpotkan. Pacar bahkan dijadikan tempat untuk menumpahkan rasa kebencian kepada orang lain. Dan lain sebagainya…

Jika pacar itu perlu, maka sebaiknya bagaimana?

Pernahkah anda mendengar teman anda yang punya pacar nun jauh di sana sejak lulus SMP dan hingga saat ini dia kuliah memasuki tahun ketiga? Pernahkah anda mendengar, kawan anda yang berpacaran dengan teman sekelas kuliahnya, namun baru dua bulan putus? Tidak penting sih, apakah anda pernah mendengar atau tidak. Lagipula, anda juga belum tentu peduli to? Hehehe… namun, tidakkah anda bertanya-tanya, mengapa si A yang pacarnya di luar pulau langgeng, dan si B yang pacarnya di depan mata setiap hari, malah cepet error-nya?

Dalam dunia pacar dan pacaran serta memacari, ada beberapa jenis pacaran yang diantaranya adalah pacaran aa si A, yaitu pacaran jarak jauh, dan pacaran ala si B, pacaran tanpa jarak. Hehehe… setelah melalui penilaian yang cukup memakan waktu, saya bisa menyimpulkan beberapa hal.

Pacaran jarak jauh atau pacaran ala si A. Pacaran ini bisa langgeng karena antara satu dan satunya lagi saling memiliki rasa kepercayaan yang kuat. Walaupun mereka hanya bertemu setahun sekali, namun dengan kepercayaan yang diberikan masing-masing pihak, maka antara satu dan satunya lagi tidak mudah untuk melakukan hal bodoh yang berakibat tidak bagus pada hubungan mereka. Selain itu, masing-masing pihak yang telah diberikan kepercayaan menjaga kepercayaan tersebut, dan tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, sehingga nantinya mereka akan terlihat – maaf – tolol. Hal lain yang mendukung langgengnya pacaran gaya ini adalah jarangnya komunikasi. Mengapa? Bukankah komunikasi adalah sesuatu yang penting dalam hal hubungan? Betul. Komunikasi adalah sesuatu yang amat sangat penting sekali dalam hubungan. Namun, komunikasi yang berlebihan akan menimbulkan reaksi yang berlebih pula. Ketika si Ce terlalu sering berkomunikasi dengan si Co, maka akibatnya bukan hubungan makin erat, namun si Co akan merasa terlalu dimata-matai oleh si Ce. Dengan demikian, maka akan timbul kejengkelan yang mengakibatkan error-nya sebuah hubungan. Dan selanjutnya kepercayaan yang diberikan akan disalahgunakan untuk hal – maaf – bodoh yang tidak seharusnya dilakukan. Si Co yang sebenarnya menaruh kepercayaan yang besar pada si Ce, dengan jiwa mudanya maka bisa saja akhirnya dia melakukan hal yang tidak patut dilakukannya. Komunikasi, jika dikatakan sebagai hal yang amat sangat penting sekali dalam hubungan, maka saya katakan benar sekali. Namun, komunikasi yang berlebihan akan menimbulkan hal yang justru bisa sangat buruk sekali.

Dengan gaya pacaran ala si B atau pacaran tanpa jarak sebanrnya memiliki rumus yang sama. Sebab-sebab yang mengakibatkan hubungan yang tidak langgeng adalah ketidakpercayaan yang ditimbulkan masing-masing pihak. Dengan overprotected yang diberikan pada masing-masing pihak, maka satu dan satunya lagi merasa dirinya tidak dipercaya untuk memegang apa yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Memang sih, pacaran tidak harus dipertahankan hingga ke jenjang pernikahan. Tapi, bukan sebuah kesalahan jika orang yang sudah dicintai dan disayangi dibawa ke pelaminan kan..? bertemu dan berkomunikasi setiap hari bukanlah komunikasi yang berlebihan jika disikapi secara dewasa. Dengan bertemu setiap hari, seharusnya masing-masing pihak justru semakin mengerti apa yang tidak seharusnya dilakukan agar tidak membuat si dambaan hati pergi dan tak kembali. Dengan komunikasi setiap hari, seharusnya masing-masing pihak menjadi semakin lengket dan nempel kayak perangko. Sayangnya, sifat dasar manusia yang salah satunya menonjol adalah kebosanan pada satu hal. Sehingga komunikasi yang terlalu sering – setiap saat – bisa mengakibatkan kebosanan. Tapi, saya akan merasa aneh jika dan merasa bosan pada apa yang anda cintai. Hehehe…

Pacaran jarak jauh, pacaran tanpa jarak, bukanlah sebuah masalah jika dihadapi dengan dewasa. Jujur saja, memang ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam pacaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk dilakukan, dan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk tidak dilakukan agar tidak menjadi bodoh. Kalau sifat dasar manusia diantaranya adalah kebosanan pada satu hal, maka saya akan merasa aneh jika anda merasa bosan pada apa yang anda cintai. Hehehe… Kalau saya boleh berpesan, bagi anda yang memiliki pacar, baik jauh maupun dekat, sayangi, kasihi, cintai pacar anda dengan sepenuh hati jika anda merasa akan kehilangan bila dia hilang dari kehidupan anda. Jika anda berpacaran hanya karena biar tidak dikatakan kuper dan bloon, sebaiknya anda berpikir bagaimana jika adik anda diperlakukan demikian. Bagi anda yang tidak berpacaran, jomblo bukanlah sebuah aib. Justru jomblo adalah saat agar anda belajar lebih banyak memahami lawan jenis sebelum anda menjalin hubungan. ‘asa an yaj’alallahu hadzhihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Sejarah Nama Indonesia

Saya adalah orang Indonesia yang lahir dan besar di negara ini, hingga saat umur ini masih tinggal dan memetik semua yang berasal dari tanah yang katanya ‘tongkat jika ditancapkan di tanah ini maka akan tumbuh menjadi sebuah pohon’. Namun pada kenyataannya saya tidak begitu tahu bagaimana sejarah awal dan penamaan sesungguhnya negara tercinta Indonesia ini, hingga saya menemukan artikel ini. ‘Sejarah Nama Indonesia’.

Pada zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang
diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”.
Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung,
Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara,
suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk men yebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di
antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada
tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia at au Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu
tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl,
bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

D alam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu
panjang dan membingungkan. Log
an

memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama i tu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya.

taken from http://owlyzevitch.wordpress.com