Uncategorized

Terhina itu pedih, Jenderal..!!

Sobat, otak kamu pasti masih anget-anget buat nginget kejadian beberapa bulan lalu tentang penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, yang dilakuin ama Tabloid XXX di Barat sono. Tapi ngomonong-ngomong soal pelecehan terhadap Islam dan umat Islam, sebenarnya gak hanya berlangsung sekarang aja. Tepatnya, sejak hilangnya ”payung” yang melindungi umat muslim dunia, pada tahun 1924. Maka sejak saat itu kaum muslimin terhina-dina.

Sekedar conto, Nietzsche, seorang psikolog Jerman pernah menggegerkan dunia dengan pernyataannya, “Gott ist gestorben” alias “Tuhan sudah mati!”. Atau Sigmund Freud yang menawarkan theory of unbelief alias teori kekafiran. Freud menulis dalam The Future of an llusion : ”kepercayaan agama hanyalah ilusi …”. Atau juga kalo sobat masih inget Salman Rusdhie yang ngawur dengan bikin “Satanic Verses”, dan masih berderet kasus laennya yang jelas bikin kepala panas, kaki kesemutan, badan meriang!!..eee, itu khan sakit demam?…EM.. EM !

Prend, tulisan imud ini sekedar ngingetin aja, kalo sebenarnya pelecehan terhadap Islam atau umat Islam sendiri udah lama terjadi. Tapi hasil akhirnya, masih tetap gak memihak kaum muslimin.

Kita Masih Terhina, Prend !

Dijajah, disingkirkan, dipecundangi, adalah sebuah kehinaan. Apalagi jika itu disertai dengan segala macam penderitaan akibat tekanan orang yang menguasai kita. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu saat ramai-ramainya pemberitaan perceraian artis, Dewi Huges artis kita menutut cerai pada suaminya, gara-gara sering diperlakukan tidak adil. Menurutnya, suaminya sering ‘merampas’ penghasilannya, dan suaminya sendiri tidak bekerja. Karuan aja, Hughes melaporkan aksi suaminya itu ke polisi dan dilanjutkan di meja pengadilan, yang intinya Hughes nggak mau dirinya terhina dengan diperlakukan seperti itu.

Ya, Kita, kaum muslimin, juga sedang terhina total sebagai sebuah masyarakat. Meski kita banyak jumlahnya, tapi kita bagai buih di lautan. Terombang-ambing ganasnya gelombang kehidupan. Hingga tercerai-berai kekuatan kita. Meski menjadi umat paling banyak di dunia, tapi kekuatan kita lemah. Kenapa? Karena kita terkotak-kotak di berbagai negeri.

Sabda Rasulullah saw.: “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”. Seorang shahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah saw.: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”. (At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhori; Tartib Musnad Imam Ahmad XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279).

Sobat, menyedihkan banget ya? Di negeri kita aja, yang katanya udah merdeka, dan selalu memperingati tonggak kebangkitan setiap tanggal 20 Mei ini, nyatanya masih menderita dan terjajah. Lalu kebangkitan macam apa yang bisa dibanggakan? Apakah ini kebangkitan yang gagal total? Boleh jadi benar, sobat. Meski tampak maju, tapi kedodoran!

Negeri dengan jumlah kaum muslimin terbesar di dunia ini masih saja terhina total. Tekanan IMF yang bertubi-tubi udah menggerus kehidupan ekonomi kita. Tekanan politik dari luar negeri sangat kuat, hingga pemerintah negeri ini pontang-panting memadamkan kobaran api pemberontakan di berbagai wilayah. Kasus terakhir, wilayah yang juga ingin lepas dari negeri ini adalah Papua, Maluku, Poso. Menurut sumber yang dapat dipercaya ketiga wilayah itu ingin lepas, karena didukung penuh oleh pihak Gereja atau kaum Kristiani.

Masalah sosial juga makin rusak. Kita sudah kehilangan kemuliaan sebagai seorang muslim. Berbagai kekerasan dan seksualitas lahir dari rahim televisi. Bukan mustahil kalo itu langsung dicontek abis oleh adik-adik, teman-teman remaja, dan juga ortu kita. Pikiran mereka terbelenggu oleh tayangan yang merusak, lalu memudarkan kemuliaan yang pernah diraih di masa lalu. Menyedihkan memang.

Bangkit dong, Sobat !

Hai sobat, kamu, kami dan mereka yang ada di sekeliling kita adalah seorang muslim. Sudah sewajarnya apabila kita harus berperilaku yang Islami. Namun apabila ada diantara kita yang kemudian tidak berperilaku secara Islami, maka hendaklah kita nggak seperti anak kecil, boro-boro menyalahkan Islam. Padahal bukan Islam yang salah, tapi perilakunya-lah yang memang nggak pantas ditiru, bahkan bertentangan dengan Islam.

Apapun status kita, di sisi Allah Swt kita adalah sama. Perbedaannya hanyalah pada keimanan dan ketaqwaan kita. Sudah menjadi kewajiban bagi diri kita untuk kembali membawa Islam menuju ke puncak kejayaan demi mengembalikan harga diri Islam yang sudah lama kita lupakan sendiri. Umat, masyarakat, dan negara perlu kita sadarkan bahwa aturan Islam adalah aturan yang mulia, agung dan sesuai dengan fitrah manusia baik untuk kaum muslimin ataupun non muslim, karena Islam adalah rahmatan lil alamin. Rasulullah Saw bersabda: “Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, iringilah kesalahan kamu dengan kebaikan, niscaya ia dapat menghapuskannya (kesalahan-kesalahan)…”(al-hadits)

Sesungguhnya kehidupan model gimana yang mau kamu lakonin? Kamu mau jadi orang yang masih bingung, linglung dan cuman ngekoor aja ama orang-orang di sekitar kamu, atau kamu mau jadi bebeknya peradaban kafir Barat, ataukah mau menjadi generasi muda yang kuat dan mengulang kesuksesan generasi terbaik sebelum kamu? Di tangan kamu sendirilah masa depanmu itu mau kamu bikin bagaimana. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (sendiri)”. (TQS. ar-Ra’du 11)

Wahai para pemuda yang dinamis dan penuh semangat, ingatlah janji Allah kepada kalian : “Apabila kamu menolong (agama) Allah, maka Dia akan menolongmu dan mengukuhkan kedudukanmu.” (TQS. Muhammad: 7)

Dan ingatlah juga janji Allah pada Surah An-Nuur ayat 55.

“(Dan) Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal-amal shahih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini sebagaimana telah Dia jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang paling diridlaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka) sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku”

Pilihan tinggal pada kita sendiri, apakah kita mau menukar keadaan sekarang ini dengan yang sudah dijanjikan Allah kepada kamu tersebut. Kalau ya, maka tunggu apa lagi? Segera bina diri kita menjadi para pemuda berkepribadian Islam, yang punya pola pikir Islam dan punya pola sikap Islam. Berikan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk umat ini. kita harus jadi seorang pemuda yang faqih fid-diin (faham agama) sekaligus pemuka dalam bidang kita masing-masing. Silakan kita jadi dokter, insinyur, ahli komputer, konglomerat, guru, direktur atao mau jadi apa aja, tapi inget kita adalah seorang muslim yang kudu ngelakonin hidup ini sesuai Islam, sehingga kita mesti ngerti juga bagaimana hukum-hukum Islam itu. Kalo saat ini penerapan Islam tidak akan terwujud tanpa adanya perjuangan menegakkannya, maka bergabung dengan barisan pejuang dan pembela penerapan Islam kaffaah adalah sesuatu yang harus juga kita lakukan.
K

erjakan sekarang juga. Jangan ditunda!

www.myquran.com

life

The Life Will Find The Way…

Text Box: ‘The Life Will Find The Way’Begitulah kira-kira bunyi kata-kata yang diucapkan oleh salah seorang aktor utama dalam film tersebut. Ya, film ‘Jurrassic Park’. Film garapan sang sutradara yang cukup beken ‘Steven Spielberg’, film ini juga cukup banyak meraup keuntungan. Kata-kata tersebut sendiri kira-kira berarti ‘Hidup akan mencari jalannya sendiri’. Inilah yang perlu digarisbawahi, bukan karena ini adalah film garapan Steven Spielberg, sang sutradara kenamaan, juga bukan karena ini adalah merupakan film trilogi yang laris manis di pasaran. Juga bukan karena yang mengucapkannya dalam film tersebut adalah seorang doktor atau profesor.

Hidup memang sebuah perjalanan, kalau anda menganggapnya demikian. Hidup adalah hanya numpang mampir di warung pinggir jalan kalau anda berpikir bahwa hidup adalah seperti itu. Semuanya adalah tergantung apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan. Tidak ada paksaan, karena semuanya dilindungi oleh undang-undang. Tetapi, sebenarnya hidup itu berjalan seperti apa? Hidup itu berjalan ke arah mana?

Orang bijak mengatakan, manusia hidup harus punya tujuan. Kalau anda menganggap orang hidup adalah sebuah perjalanan, maka anda harus menentukan tujuan dari perjalanan anda. Apakah anda akan menuju kampung halaman yang telah anda tinggalkan sejak lama? Ataukah anda hendak bepergian untuk mencari penghidupan? Begitupun juga kalau anda berpikir bahwa hidup adalah hanya mampir ke warung di pinggir jalan, maka anda pun harus berpikir tujuan anda mampir di warung tersebut. Apakah anda akan mengenyangkan perut anda dengan sepiring nasi lengkap dengan telur dan sayur asem? Ataukah anda lebih senang dengan singkong goreng? Atau anda lebih memilih menikmati secangkir kopi hangat dan sebatang rokok lintingan? Semuanya harus punya tujuan. Tanpa tujuan, hidup akan terasa hampa dan tanpa apa-apa – begitu kata orang.

Ketika anda ditanya bagaimana hidup yang anda jalani, anda tentunya akan berpikir bahwa hidup anda adalah apa yang telah, sedang dan akan anda usahakan untuk menentukan seperti apa tujuan hidup anda. Tapi, sadarkah anda bahwa usaha apapun yang anda lakukan, bukanlah anda yang menentukan hidup anda, melainkan hiduplah yang akan menemukan jalannya sendiri. Seperti judul di atas, the life will find the way.

Anda mungkin akan bertanya, bagaimana mungkin? Bukankah yang mengusahakan hidup adalah saya sendiri? Bukankah yang menentukan tujuan saya hidup adalah seorang yang bernama ‘saya’ dalam diri ini? Ya. Benar sekali. Orang hidup selalu mengusahakan apapun untuk menentukan tujuannya. Namun, anda juga mengerti tentang apa yang terjadi saat anda menginginkan sebuah mobil dan rumah mewah. Namun, yang anda dapatkan justru sebuah sepeda motor butut dan sebuah kontrakan berukuran 3X3 m. Anda juga tahu, saat anda ingin menentukan hidup anda dengan happy ending. Namun, ujung-ujungnya anda malah harus menelan pil pahit, karena anda mendapatkan ending yang ternyata tidak terlalu happy.

Masih ingatkah anda saat anda harus menempuh ujian akhir di sekolah esok hari, namun anda harus rela untuk tidak mengikuti ujian karena sakit? Padahal hari sebelumnya anda baru saja jalan-jalan ke mal bersama teman-teman anda? Masih ingatkah anda ketika anda menyukai seseorang, dan anda ingin menikmati dan menghabiskan hidup ini bersamanya, namun anda ditolaknya secara mentah-mentah? Atau saat anda sedang menikmati manisnya cinta yang anda rasakan bersamanya, dengan mudah dia memutuskan anda?

Ah sudahlah, tidak perlu diingat semua cerita buruk akan kehidupan ini. Semuanya adalah sesuatu yang sudah berlalu dan saya yakin anda bisa menjalani hidup ini lebih baik dengan semua apa yang telah anda dapatkan dari pengalaman anda terdahulu. Begitulah hidup, bukan anda dan saya atau siapapun yang menentukan dan akhirnya menemukan hidup ini, melainkan hidup itu sendirilah yang akan menemukan jalan yang memang sudah harus dilaluinya. Sementara kita bisa berusaha untuk meluruskan hidup ini agar menjadi lebih baik, dan hidup akan menemukan jalannya sendiri.

Diakhir artikel saya, saya selalu mengingatkan anda. Bahwa, wacana bukanlah sesuatu yang harus melulu kita terima dan ikuti. Wacana adalah sarana penunjang agar wawasan dan pengetahuan kita bertambah sehingga kita bisa mengambil kesimpulan terbaik menurut kita sendiri. Tidak ada yang pernah berhak memaksakan idenya untuk kita, karena kita hidup berhak untuk berpendapat dan mengeluarkan ide. Singkatnya, anda boleh saja membaca, tetapi hati-hatilah terhadap wacana. ‘asa anyaj’alallahu hadzihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Tidak diperjualbelikan yang diperjualbelikan…

Kamis malam lalu, tepatnya tanggal 02 Agustus 2007, saya berkunjung ke Gedung Wanita dalam acara Semarang Book & Library Fair 2007. Book fair kali ini sama seperti book fair-book fair sebelumnya, sepi dan hanya itu-itu saja, baik penerbitnya maupun pengunjungnya. Saya bahkan hampir hafal penerbit dan stand yang ada di sana dalam book fair sebelumnya karena setting tempat yang memang tidak berubah.

Lalu lalang pengunjung yang mencoba memilih dan memilah buku mana yang terbaik untuk dipilih membuat suasana menjadi terlihat sibuk dan ramai. Setelah berkeliling dan melihat-lihat stand-stand yang ada, saya melanjutkan ke sebuah stand yang – saya lupa apakah stand tersebut bernama atau tidak – menjual buku-buku bekas dan baru dengan harga yang relatif murah. Dengan kertas-kertas bertuliskan ‘Rp. 5000’ dan ‘Rp. 10000’ membuat stand ini ramai sekali dibanding stand-stand lainnya. Pengunjung berlomba mencari buku terbaik untuk harga yang terbaik. Saya mencoba melihat dan memperhatikan kalau-kalau ada buku yang menarik dengan harga yang murah, mengingat budget saya sendiri kurang lebih hanya sepuluh ribu saja. Artinya, saya harus membeli buku dengan harga kurang dari atau sama dengan sepuluh ribu rupiah.

Saya hadir bersama teman kos saya yang kebetulan ingin membeli buku baru dalam harga yang murah dari biasanya. Ketika sibuk memilih dan memperhatikan buku, saya dikejutkan oleh teman kos saya ini. Sembari jari telunjuknya menunjuk sebuah kotak kecil di pojok kanan atas sampul buku tersebut, dia menunjukkan kepada saya sebuah buku keagamaan. Saya perhatikan dan dalam kotak tersebut tertulis ‘Tidak diperjualbelikan – milik negara’. Teman saya berkomentar, ‘Wong milik negara dan ada tulisannya, kok dijual sih.’ Saya hanya tersenyum mendengar komentarnya. Buku tersebut dijual dengan harga Rp. 10000,-. Buku ini biasanya dipakai dalam pelajaran agama yang biasanya hanya dipinjamkan oleh sekolah dan tentu saja tidak diperjualbelikan. Setelah beberapa saat dia menambahkan ‘Kalau boleh lima ribu, saya beli ini’ dan saya kembali tersenyum.

Dalam hati saya terlintas, rupanya orang Indonesia terlalu terobsesi dengan perjual-belian. Bahkan sampai menghalalkan apa yang tidak seharusnya dilakukan – menjual milik negara. Bagaimana mungkin mereka menjual milik negara yang jelas terang-terangan tidak diperjualbelikan? Bagaimana mereka dengan terang-terangan harta negara dengan harga sepuluh ribu? Hmmm…

Saya jadi teringat, saat pameran komputer di Semarang juga. Dalam pameran komputer tersebut, seorang teman saya memergoki sebuah stand dengan terang-terangan menjual sebuah Operating System yang open source dengan harga Rp. 30.000,-. Padahal, dalam cover CD tersebut jelas-jelas ditulis bahwa ini adalah produk open source dan diminta untuk disebarluaskan secara bebas. Bahkan, saya memesan ke produsennya sendiri secara cuma-cuma dengan kebebasan untuk meminta berapa jumlah yang saya inginkan. Saya benar-benar tak habis pikir dan dilanda kebingungan, bagaimana mungkin kejadian seperti ini terjadi?

Saya jadi terpikir, apakah lama kelamaan masyarakat ini akan menjual pulau-pulau yang mereka diami hanya untuk mendapatkan sesuap nasi? Bagaimana mungkin, saat tentara nasional kita sedang ribut bahkan hampir perang dengan negara tetangga karena mempertahankan sebuah pulau kecil, dan di saat itu masyarakat kita dengan tenang menjual harta negara yang jelas-jelas tidak diperjualbelikan? Untuk sesuap nasikah? Atau memang tidak adanya pekerjaan yang bisa mereka lakukan? Entahlah. Saya tidak tahu. Semoga masyarakat kita sadar dan peduli bahwa milik negara adalah apa yang harus kita jaga sebagai seorang warga negara. ‘asa an yaj’alallahu hadzihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Hehe…

Hehe. Begitulah judul artikel ini. Saya sendiri tidak tahu harus mengisi artikel ini dengan apa, saya sedang mencoba meng-appreciate usulan seseorang. Banyaknya kami berbagi. Itulah kemungkinan mengapa saya mencoba menuruti usulan darinya. Kami begitu banyak berbagi, suka, duka, dan ceita-cerita yang mungkin akan terdengar terlalu basa-basi dan tidak berguna. Namun, kami menikmatinya sebagai penyedap bagi kehidupan yang tidak selamanya indah dan menyenangkan. Mengingat saya seorang pelupa, saya sering mengatakan isnpirasi yang muncuk sewaktu-waktu kepadanya, sehingga ketika saya lupa mungkin dia akan mengingatkan apa yang menjadi inspirasi saya. Judul ini sendiri, dia buat ketika saya mencoba mengatakan inspirasi yang saya dapatkan. Namun, saya tidak berhasil mendapatkan judulnya dan dengan tertawa dia bilang ‘Beri judul saja ‘hehe’”. Mendengar judul yang lumayan nyentrik, saya sendiri tertawa dan berpikir. Kemudian, pada akhirnya saya menulis ini.

Sebenarnya, kata-kata ‘hehe’ adalah kata-kata yang biasa saya gunakan dalam short message service (sms). Kata-kata ‘hehe’ saya gunakan ketika saya mencoba mengekspresikan tawa saya. Saya tidak tahu harus mengekspresikan tawa saya dengan tulisan seperti apa. Yang saya bisa tuliskan hanya ‘hehe’ atau mungkin ‘haha’. Sebuah tawa yang jika diwujudkan akan terlihat seperti sebuah tawa yang dipaksakan. Sejujurnya, saya bukan orang yang pelit untuk tertawa. Bahkan, bisa dikatakan saya adalah orang yang hobinya tertawa lebar – kalau anda tidak percaya, silakan buka profile saya di friendster http://www.friendster.com/ipullup. Oiya, sebenarnya saya sedang menyiapkan sebuah photo gallery yang saya buat khusus sebagai bentuk penghargaan diri saya. Maklum, saya pikir saya bisa menyimpannya di internet sehingga space harddisk saya bisa bertambah. Hehe… Salah satu hobi dan keahlian saya adalah saya expert di ‘wide smile’ hehehehehehe….

Mengapa saya hanya menuliskan ‘hehe’? jawabannya sederhana saja. Saya tidak tahu harus menuliskan tawa lebar saya menjadi seperti apa. Apakah ‘hehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehe…’ atau ‘hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha…’ atau entah seperti apa. Yang jelas, kalau saya harus menuliskannya seperti pilihan di atas, maka tawa saya akan menghabiskan jatah maksimal karakter satu buah sms. Dan artinya, saya akan membayar banyak untuk tulisan yang seharusnya bisa dituliskan cukup hanya dengan satu sms saja. Ya, begitulah alasan saya menuliskan tawa saya dengan ‘hehe’. Alasan pertama, saya tidak tahu harus menggambarkan tawa lebar saya dengan tulisan seperti apa. Alasan kedua, kalau saya harus menuliskannya panjang seperti tawa saya, maka pulsa saya akan cepat habis – maklum, saya anak kos – hehehehehe….

Sebenarnya, si-yang-mengusulkan-judul ini sendiri ketika mengekspresikan tawanya lewat sms, biasanya menuliskannya dengan ‘he..’ atau ‘he…’. Kalau lebih diperhatikan, mungkin tawa seperti jika diekspresikan akan menjadi sangat-sangat dipaksakan. Hehehe… jadi, bagaimana menuliskan tawa dalam sms? Jawabannya ‘terserah anda’. Mengapa anda harus susah-susah mengekspresikan apa yang ingin anda lakukan. Bukankah semuanya hanya masalah nyaman dan tidak nyaman? Feel comfort! Bukankah anda bebas mengekspresikan apa yang anda ingin lakukan? Just do it! Jadilah diri sendiri! Biarkan dunia melakukan apa yang ingin dilakukannya, dan lakukanlah apa yang ingin anda lakukan. Anda tidak perlu malu untuk melakukan apa yang tidak melanggar hak asasi orang lain. Karena anda juga punya hak. Gitu aja kok repot.

Buat si-yang-mengusulkan-judul terima kasih atas idenya. Mungkin lain kali saya akan memerlukannya lagi. Buat pembaca sekalian, jagalah barang-barang anda. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Dan buat semuanya, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan. Hehehe… – ‘asa an yaj’alallahu hadzhihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Pacarku Di Sini, Pacarmu…?

Pacar, saya yakin anda mengerti dan tahu bagaimana dan apa itu. Bahkan anak Taman Kanak-kanak pun dengan mudah mengatakan bahwa dia tahu apa itu pacar. Definisi pacar itu sendiri bermacam-macam, didefinisikan oleh siapa dan dari sudut pandang mana. Ada yang mengartikan bahwa pacar adalah seseorang yang disayangi, dikasihi, dicintai dengan segenap jiwa dan hati. Ada pula yang mengartikan bahwa pacar adalah kekasih yang menenteramkan jiwa. Apapun definisi pacar, jika ditarik benang merah, maka pacar atau kekasih dapat diartikan sebagai seseorang, yang dicintai, dikasihi, disayangi, berharga, penting dan merasa tenang jika berada di sisinya, di dekatnya sehingga ketika jauh akan terasa kehilangan.

Apakah pacar itu perlu? Jawabannya bisa perlu, bisa tidak. Dalam konteks yang sejujurnya dan murni, pacar adalah seseorang yang dicintai, dan dikasihi kemudian merasa tenang dan merasa kehilangan bila jauh darinya, sehingga pacar adalah bisa diartikan sebagai penenteram jiwa di kala sedih dan nelangsa. Sebuah penenteram adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki untuk menutupi kesedihan dan rasa kesepian yang kadang-kadang menjalar. Namun, pada kenyataannya pacar justru bukan menjadi tempat yang seharusnya. Pacar malah dijadikan tempat menumpahkan rasa marah, pacar justru menjadi tempat untuk direpotkan. Pacar bahkan dijadikan tempat untuk menumpahkan rasa kebencian kepada orang lain. Dan lain sebagainya…

Jika pacar itu perlu, maka sebaiknya bagaimana?

Pernahkah anda mendengar teman anda yang punya pacar nun jauh di sana sejak lulus SMP dan hingga saat ini dia kuliah memasuki tahun ketiga? Pernahkah anda mendengar, kawan anda yang berpacaran dengan teman sekelas kuliahnya, namun baru dua bulan putus? Tidak penting sih, apakah anda pernah mendengar atau tidak. Lagipula, anda juga belum tentu peduli to? Hehehe… namun, tidakkah anda bertanya-tanya, mengapa si A yang pacarnya di luar pulau langgeng, dan si B yang pacarnya di depan mata setiap hari, malah cepet error-nya?

Dalam dunia pacar dan pacaran serta memacari, ada beberapa jenis pacaran yang diantaranya adalah pacaran aa si A, yaitu pacaran jarak jauh, dan pacaran ala si B, pacaran tanpa jarak. Hehehe… setelah melalui penilaian yang cukup memakan waktu, saya bisa menyimpulkan beberapa hal.

Pacaran jarak jauh atau pacaran ala si A. Pacaran ini bisa langgeng karena antara satu dan satunya lagi saling memiliki rasa kepercayaan yang kuat. Walaupun mereka hanya bertemu setahun sekali, namun dengan kepercayaan yang diberikan masing-masing pihak, maka antara satu dan satunya lagi tidak mudah untuk melakukan hal bodoh yang berakibat tidak bagus pada hubungan mereka. Selain itu, masing-masing pihak yang telah diberikan kepercayaan menjaga kepercayaan tersebut, dan tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, sehingga nantinya mereka akan terlihat – maaf – tolol. Hal lain yang mendukung langgengnya pacaran gaya ini adalah jarangnya komunikasi. Mengapa? Bukankah komunikasi adalah sesuatu yang penting dalam hal hubungan? Betul. Komunikasi adalah sesuatu yang amat sangat penting sekali dalam hubungan. Namun, komunikasi yang berlebihan akan menimbulkan reaksi yang berlebih pula. Ketika si Ce terlalu sering berkomunikasi dengan si Co, maka akibatnya bukan hubungan makin erat, namun si Co akan merasa terlalu dimata-matai oleh si Ce. Dengan demikian, maka akan timbul kejengkelan yang mengakibatkan error-nya sebuah hubungan. Dan selanjutnya kepercayaan yang diberikan akan disalahgunakan untuk hal – maaf – bodoh yang tidak seharusnya dilakukan. Si Co yang sebenarnya menaruh kepercayaan yang besar pada si Ce, dengan jiwa mudanya maka bisa saja akhirnya dia melakukan hal yang tidak patut dilakukannya. Komunikasi, jika dikatakan sebagai hal yang amat sangat penting sekali dalam hubungan, maka saya katakan benar sekali. Namun, komunikasi yang berlebihan akan menimbulkan hal yang justru bisa sangat buruk sekali.

Dengan gaya pacaran ala si B atau pacaran tanpa jarak sebanrnya memiliki rumus yang sama. Sebab-sebab yang mengakibatkan hubungan yang tidak langgeng adalah ketidakpercayaan yang ditimbulkan masing-masing pihak. Dengan overprotected yang diberikan pada masing-masing pihak, maka satu dan satunya lagi merasa dirinya tidak dipercaya untuk memegang apa yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Memang sih, pacaran tidak harus dipertahankan hingga ke jenjang pernikahan. Tapi, bukan sebuah kesalahan jika orang yang sudah dicintai dan disayangi dibawa ke pelaminan kan..? bertemu dan berkomunikasi setiap hari bukanlah komunikasi yang berlebihan jika disikapi secara dewasa. Dengan bertemu setiap hari, seharusnya masing-masing pihak justru semakin mengerti apa yang tidak seharusnya dilakukan agar tidak membuat si dambaan hati pergi dan tak kembali. Dengan komunikasi setiap hari, seharusnya masing-masing pihak menjadi semakin lengket dan nempel kayak perangko. Sayangnya, sifat dasar manusia yang salah satunya menonjol adalah kebosanan pada satu hal. Sehingga komunikasi yang terlalu sering – setiap saat – bisa mengakibatkan kebosanan. Tapi, saya akan merasa aneh jika dan merasa bosan pada apa yang anda cintai. Hehehe…

Pacaran jarak jauh, pacaran tanpa jarak, bukanlah sebuah masalah jika dihadapi dengan dewasa. Jujur saja, memang ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam pacaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk dilakukan, dan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk tidak dilakukan agar tidak menjadi bodoh. Kalau sifat dasar manusia diantaranya adalah kebosanan pada satu hal, maka saya akan merasa aneh jika anda merasa bosan pada apa yang anda cintai. Hehehe… Kalau saya boleh berpesan, bagi anda yang memiliki pacar, baik jauh maupun dekat, sayangi, kasihi, cintai pacar anda dengan sepenuh hati jika anda merasa akan kehilangan bila dia hilang dari kehidupan anda. Jika anda berpacaran hanya karena biar tidak dikatakan kuper dan bloon, sebaiknya anda berpikir bagaimana jika adik anda diperlakukan demikian. Bagi anda yang tidak berpacaran, jomblo bukanlah sebuah aib. Justru jomblo adalah saat agar anda belajar lebih banyak memahami lawan jenis sebelum anda menjalin hubungan. ‘asa an yaj’alallahu hadzhihi nafi’ah – ahmadMuhajir.