Uncategorized

Mataku berair…

Gak tahu kenapa, awalnya sih abis baca blognya sahabat baikku. Walaupun kita gak terlalu dekat, tapi dia adalah sahabat baikku. Sebenernya juga gak tahu kenapa sih bisa nangis. Lha wong, tau-tau mataku udah berair. Gak sampai ngalir sih… Cuma merembes aja kayak sumur…

Sebenernya isi blognya adalah tentang cerita-cerita dirinya dan macam-macam yang lainnya. Maklum juga sih, orangnya juga rada-rada narsis. Ya walaupun narsisnya gak begitu kebablasan. Ya, diantara postingannya adalah sebuah komentar dari temennya yang menurutku – begitu juga menurutnya – terlalu panjang. Lagipula intinya juga membuat orang sepertiku akan hanya bisa berkata ‘ya Tuhan, ni tulisan panjang bener, kapan selesainya sih. Ampun DJ (dukun jam)’ hehe… gak nyambung banget ya… ya… tulisannya emang panjang banget. Aku aja gak sampe baca semuanya. Aku baca beberapa baris dan … done…

Sesungguhnya aku salut dengan dirinya yang menurutku cukup wise. Ya, aku bersyukur ternyata Tuhan itu memang terlalu baik dengan hambaNya, khususnya diriku. Aku dikaruniai teman-sahabat yang – semoga – semuanya baik. Walaupun kadang mereka membuat sesuatu hal yang tidak nyaman di hati, namun lebih banyak – kalo dipersenkan sih kayaknya 99% – mereka adalah teman-sahabat yang baik.

Si sahabatku ini yang ternyata juga adalah sahabatku yang kebetulan cewek (aku bingung mau nambahi pangkat apaan, habisnya takut mau sebut namanya, takut aja ntar orangnya malah marah…) saat menghadapi masalah yang ternyata endingnya cukup membuatku terharu dengan tindakan wise-nya.

Ah, entahlah. Sesungguhnya aku gak tahu mau nulis apaan… air mataku berair… dan pengen nulis… That’s it!… – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Kita Semua adalah Dokter…

Siang itu Dinda baru saja pulang dari sekolah. Sesampainya di rumah ia menuju kamar dan berganti pakaian. Namun, ada yang aneh dengan rumahnya. Tak dilihatnya adik semata wayangnya yang biasanya menyambutnya di ruang tamu. Kemana dia? Akhirnya dia memutuskan untuk menuju kamar adiknya yang tepat berada di sebelah kamarnya. Barangkali dia tidur, pikirnya. Dibukanya pintu dengan perlahan. Dilihatnya Budi, adik semata wayangnya, tidur berselimut dengan mata terbuka.
“Kamu kenapa Bud? Sakit?” tanyanya.
Budi tak menjawab, namun jelas terlihat di matanya kalau dia sakit.
Dinda mencoba menyentuh dahi kening adiknya. Panas.
“Kamu demam? Aku kompres ya” bergegas dia menuju dapur untuk mengambil air dingin di lemari es.

Manusia diciptakan untuk merasakan kepedihan akan sakit yang harus ditanggung, entah penyakit mental atau penyakit fisik. Anda bisa setuju dan bisa saja tidak. Pernahkah anda berpikir bahwa setiap orang dilahirkan pasti akan merasakan sakit? Sakit fisik dan mental? Pernahkah anda berpikir bahwa setiap manusia (normal) yang lahir mempunyai sifat buruk? Saya tidak berharap anda membicarakan seorang nabi yang memang sudah terjamin akan setiap diri dan tingkah lakunya.

Begitulah. Anda tentunya tahu, bagaimana saat anda merasakan sakit kepala yang begitu amat menyakitkan ketika anda dihadapkan pada beberapa masalah. Anda juga masih ingat bukan, bagaimana ayah, ibu, istri (suami), anak, bibi, cucu atau siapapun kerabat anda berada di rumah sakit. Bagaimana si kerabat anda mengeluh apa yang dirasakannya. Sayapun yakin kalau anda masih mengingat bagaimana keadaan seorang cacat yang hanya memiliki satu kaki, atau mungkin hanya satu tangan, atau bahkan tidak sama sekali yang anda lihat di pinggir jalan, atau di layar televisi pada berita-berita pagi. Anda juga pasti masih ingat, bagaimana anda diputuskan oleh kekasih anda? Betapa hati anda merasa teriris-iris seperti daging dicincang. Anda merasa seolah-olah tidak ingin meneruskan hidup anda. Anda juga masih ingat bukan, saat anda ditolak oleh si dia. Padahal si dia adalah orang yang menurut anda akan pas dengan anda dan menjadi penyempurna hidup anda.

Saya yakin anda saat itu membutuhkan seorang dokter. Ya dokter. Kalau anda sedang sakit seperti demam dan sakit kepala mungkin dengan mudah anda akan menemukannnya di rumah sakit atau klinik. Anda tentunya bertanya ‘bagaimana mungkin saya membutuhkan dokter saat saya diputuskan oleh kekasih saya?’. Tahukah anda definisi seorang dokter?

Dokter secara umum adalah orang yang membantu orang lain untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Dari definisi tersebut, maka jelaslah bahwa dokter bukan saja seorang berjas putih hingga lutut dan membawa stetoskop. Memang, dokter bisa siapa saja. Bisa saya, anda, orang tua anda, kekasih anda, teman anda, adik anda, istri (suami) anda, bahkan mungkin orang yang baru anda kenal 1 menit yang lalu. Kita semua adalah dokter. Kita semua adalah pasien yang membutuhkan dokter saat kita merasakan sakit dan kita semua adalah dokter karena kita semua bisa membantu orang lain dengan membantunya untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Pernahkah anda mengompres adik anda saat dia demam seperti Dinda? Kalau jawaban anda adalah iya, maka anda telah membuktikan kalau anda adalah dokter. Pernahkah anda mendengarkan keluh kesah teman, atau sahabat anda yang baru saja ditimpa musibah, kemudian anda mencoba membuatnya tersenyum dengan sedikit humor? Saya yakin anda pernah melakukannya, walau mungkin hanya sekedar mendengarkan. Itu adalah salah satu bukti bahwa anda adalah seorang dokter. Dan masih banyak lagi cerita yang membuktikan kalau setiap kita adalah dokter.

Kita semua adalah dokter. Karena dokter bukan seorang berjas putih panjang dan dilehernya tergantung stetoskop. Dokter juga bukan seorang yang disambut ‘silakan duduk dr. Fadli’ atau ‘selamat datang dr. Hari’. Dokter adalah setiap orang yang membantu orang lain untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Di akhir tulisan saya, saya selalu mengingatkan pada anda untuk tidak mudah percaya pada apa yang saya tuliskan sebelum anda benar-benar membuktikannya. Kalau anda belum menemukan buktinya, simpanlah dan jadikanlah ini salah satu tambahan wawasan anda. The point is : jangan mudah percaya pada apa yang anda baca, apa yang anda dengar, dan pada apa yang anda lihat. Thanks to : ‘Hunter Patch Adams’ – the great doctor I have ever known. ‘asa anyaj’alallahu hadzhihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Terhina itu pedih, Jenderal..!!

Sobat, otak kamu pasti masih anget-anget buat nginget kejadian beberapa bulan lalu tentang penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, yang dilakuin ama Tabloid XXX di Barat sono. Tapi ngomonong-ngomong soal pelecehan terhadap Islam dan umat Islam, sebenarnya gak hanya berlangsung sekarang aja. Tepatnya, sejak hilangnya ”payung” yang melindungi umat muslim dunia, pada tahun 1924. Maka sejak saat itu kaum muslimin terhina-dina.

Sekedar conto, Nietzsche, seorang psikolog Jerman pernah menggegerkan dunia dengan pernyataannya, “Gott ist gestorben” alias “Tuhan sudah mati!”. Atau Sigmund Freud yang menawarkan theory of unbelief alias teori kekafiran. Freud menulis dalam The Future of an llusion : ”kepercayaan agama hanyalah ilusi …”. Atau juga kalo sobat masih inget Salman Rusdhie yang ngawur dengan bikin “Satanic Verses”, dan masih berderet kasus laennya yang jelas bikin kepala panas, kaki kesemutan, badan meriang!!..eee, itu khan sakit demam?…EM.. EM !

Prend, tulisan imud ini sekedar ngingetin aja, kalo sebenarnya pelecehan terhadap Islam atau umat Islam sendiri udah lama terjadi. Tapi hasil akhirnya, masih tetap gak memihak kaum muslimin.

Kita Masih Terhina, Prend !

Dijajah, disingkirkan, dipecundangi, adalah sebuah kehinaan. Apalagi jika itu disertai dengan segala macam penderitaan akibat tekanan orang yang menguasai kita. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu saat ramai-ramainya pemberitaan perceraian artis, Dewi Huges artis kita menutut cerai pada suaminya, gara-gara sering diperlakukan tidak adil. Menurutnya, suaminya sering ‘merampas’ penghasilannya, dan suaminya sendiri tidak bekerja. Karuan aja, Hughes melaporkan aksi suaminya itu ke polisi dan dilanjutkan di meja pengadilan, yang intinya Hughes nggak mau dirinya terhina dengan diperlakukan seperti itu.

Ya, Kita, kaum muslimin, juga sedang terhina total sebagai sebuah masyarakat. Meski kita banyak jumlahnya, tapi kita bagai buih di lautan. Terombang-ambing ganasnya gelombang kehidupan. Hingga tercerai-berai kekuatan kita. Meski menjadi umat paling banyak di dunia, tapi kekuatan kita lemah. Kenapa? Karena kita terkotak-kotak di berbagai negeri.

Sabda Rasulullah saw.: “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”. Seorang shahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah saw.: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”. (At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhori; Tartib Musnad Imam Ahmad XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279).

Sobat, menyedihkan banget ya? Di negeri kita aja, yang katanya udah merdeka, dan selalu memperingati tonggak kebangkitan setiap tanggal 20 Mei ini, nyatanya masih menderita dan terjajah. Lalu kebangkitan macam apa yang bisa dibanggakan? Apakah ini kebangkitan yang gagal total? Boleh jadi benar, sobat. Meski tampak maju, tapi kedodoran!

Negeri dengan jumlah kaum muslimin terbesar di dunia ini masih saja terhina total. Tekanan IMF yang bertubi-tubi udah menggerus kehidupan ekonomi kita. Tekanan politik dari luar negeri sangat kuat, hingga pemerintah negeri ini pontang-panting memadamkan kobaran api pemberontakan di berbagai wilayah. Kasus terakhir, wilayah yang juga ingin lepas dari negeri ini adalah Papua, Maluku, Poso. Menurut sumber yang dapat dipercaya ketiga wilayah itu ingin lepas, karena didukung penuh oleh pihak Gereja atau kaum Kristiani.

Masalah sosial juga makin rusak. Kita sudah kehilangan kemuliaan sebagai seorang muslim. Berbagai kekerasan dan seksualitas lahir dari rahim televisi. Bukan mustahil kalo itu langsung dicontek abis oleh adik-adik, teman-teman remaja, dan juga ortu kita. Pikiran mereka terbelenggu oleh tayangan yang merusak, lalu memudarkan kemuliaan yang pernah diraih di masa lalu. Menyedihkan memang.

Bangkit dong, Sobat !

Hai sobat, kamu, kami dan mereka yang ada di sekeliling kita adalah seorang muslim. Sudah sewajarnya apabila kita harus berperilaku yang Islami. Namun apabila ada diantara kita yang kemudian tidak berperilaku secara Islami, maka hendaklah kita nggak seperti anak kecil, boro-boro menyalahkan Islam. Padahal bukan Islam yang salah, tapi perilakunya-lah yang memang nggak pantas ditiru, bahkan bertentangan dengan Islam.

Apapun status kita, di sisi Allah Swt kita adalah sama. Perbedaannya hanyalah pada keimanan dan ketaqwaan kita. Sudah menjadi kewajiban bagi diri kita untuk kembali membawa Islam menuju ke puncak kejayaan demi mengembalikan harga diri Islam yang sudah lama kita lupakan sendiri. Umat, masyarakat, dan negara perlu kita sadarkan bahwa aturan Islam adalah aturan yang mulia, agung dan sesuai dengan fitrah manusia baik untuk kaum muslimin ataupun non muslim, karena Islam adalah rahmatan lil alamin. Rasulullah Saw bersabda: “Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, iringilah kesalahan kamu dengan kebaikan, niscaya ia dapat menghapuskannya (kesalahan-kesalahan)…”(al-hadits)

Sesungguhnya kehidupan model gimana yang mau kamu lakonin? Kamu mau jadi orang yang masih bingung, linglung dan cuman ngekoor aja ama orang-orang di sekitar kamu, atau kamu mau jadi bebeknya peradaban kafir Barat, ataukah mau menjadi generasi muda yang kuat dan mengulang kesuksesan generasi terbaik sebelum kamu? Di tangan kamu sendirilah masa depanmu itu mau kamu bikin bagaimana. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (sendiri)”. (TQS. ar-Ra’du 11)

Wahai para pemuda yang dinamis dan penuh semangat, ingatlah janji Allah kepada kalian : “Apabila kamu menolong (agama) Allah, maka Dia akan menolongmu dan mengukuhkan kedudukanmu.” (TQS. Muhammad: 7)

Dan ingatlah juga janji Allah pada Surah An-Nuur ayat 55.

“(Dan) Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal-amal shahih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini sebagaimana telah Dia jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang paling diridlaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka) sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku”

Pilihan tinggal pada kita sendiri, apakah kita mau menukar keadaan sekarang ini dengan yang sudah dijanjikan Allah kepada kamu tersebut. Kalau ya, maka tunggu apa lagi? Segera bina diri kita menjadi para pemuda berkepribadian Islam, yang punya pola pikir Islam dan punya pola sikap Islam. Berikan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk umat ini. kita harus jadi seorang pemuda yang faqih fid-diin (faham agama) sekaligus pemuka dalam bidang kita masing-masing. Silakan kita jadi dokter, insinyur, ahli komputer, konglomerat, guru, direktur atao mau jadi apa aja, tapi inget kita adalah seorang muslim yang kudu ngelakonin hidup ini sesuai Islam, sehingga kita mesti ngerti juga bagaimana hukum-hukum Islam itu. Kalo saat ini penerapan Islam tidak akan terwujud tanpa adanya perjuangan menegakkannya, maka bergabung dengan barisan pejuang dan pembela penerapan Islam kaffaah adalah sesuatu yang harus juga kita lakukan.
K

erjakan sekarang juga. Jangan ditunda!

www.myquran.com

life

The Life Will Find The Way…

Text Box: ‘The Life Will Find The Way’Begitulah kira-kira bunyi kata-kata yang diucapkan oleh salah seorang aktor utama dalam film tersebut. Ya, film ‘Jurrassic Park’. Film garapan sang sutradara yang cukup beken ‘Steven Spielberg’, film ini juga cukup banyak meraup keuntungan. Kata-kata tersebut sendiri kira-kira berarti ‘Hidup akan mencari jalannya sendiri’. Inilah yang perlu digarisbawahi, bukan karena ini adalah film garapan Steven Spielberg, sang sutradara kenamaan, juga bukan karena ini adalah merupakan film trilogi yang laris manis di pasaran. Juga bukan karena yang mengucapkannya dalam film tersebut adalah seorang doktor atau profesor.

Hidup memang sebuah perjalanan, kalau anda menganggapnya demikian. Hidup adalah hanya numpang mampir di warung pinggir jalan kalau anda berpikir bahwa hidup adalah seperti itu. Semuanya adalah tergantung apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan. Tidak ada paksaan, karena semuanya dilindungi oleh undang-undang. Tetapi, sebenarnya hidup itu berjalan seperti apa? Hidup itu berjalan ke arah mana?

Orang bijak mengatakan, manusia hidup harus punya tujuan. Kalau anda menganggap orang hidup adalah sebuah perjalanan, maka anda harus menentukan tujuan dari perjalanan anda. Apakah anda akan menuju kampung halaman yang telah anda tinggalkan sejak lama? Ataukah anda hendak bepergian untuk mencari penghidupan? Begitupun juga kalau anda berpikir bahwa hidup adalah hanya mampir ke warung di pinggir jalan, maka anda pun harus berpikir tujuan anda mampir di warung tersebut. Apakah anda akan mengenyangkan perut anda dengan sepiring nasi lengkap dengan telur dan sayur asem? Ataukah anda lebih senang dengan singkong goreng? Atau anda lebih memilih menikmati secangkir kopi hangat dan sebatang rokok lintingan? Semuanya harus punya tujuan. Tanpa tujuan, hidup akan terasa hampa dan tanpa apa-apa – begitu kata orang.

Ketika anda ditanya bagaimana hidup yang anda jalani, anda tentunya akan berpikir bahwa hidup anda adalah apa yang telah, sedang dan akan anda usahakan untuk menentukan seperti apa tujuan hidup anda. Tapi, sadarkah anda bahwa usaha apapun yang anda lakukan, bukanlah anda yang menentukan hidup anda, melainkan hiduplah yang akan menemukan jalannya sendiri. Seperti judul di atas, the life will find the way.

Anda mungkin akan bertanya, bagaimana mungkin? Bukankah yang mengusahakan hidup adalah saya sendiri? Bukankah yang menentukan tujuan saya hidup adalah seorang yang bernama ‘saya’ dalam diri ini? Ya. Benar sekali. Orang hidup selalu mengusahakan apapun untuk menentukan tujuannya. Namun, anda juga mengerti tentang apa yang terjadi saat anda menginginkan sebuah mobil dan rumah mewah. Namun, yang anda dapatkan justru sebuah sepeda motor butut dan sebuah kontrakan berukuran 3X3 m. Anda juga tahu, saat anda ingin menentukan hidup anda dengan happy ending. Namun, ujung-ujungnya anda malah harus menelan pil pahit, karena anda mendapatkan ending yang ternyata tidak terlalu happy.

Masih ingatkah anda saat anda harus menempuh ujian akhir di sekolah esok hari, namun anda harus rela untuk tidak mengikuti ujian karena sakit? Padahal hari sebelumnya anda baru saja jalan-jalan ke mal bersama teman-teman anda? Masih ingatkah anda ketika anda menyukai seseorang, dan anda ingin menikmati dan menghabiskan hidup ini bersamanya, namun anda ditolaknya secara mentah-mentah? Atau saat anda sedang menikmati manisnya cinta yang anda rasakan bersamanya, dengan mudah dia memutuskan anda?

Ah sudahlah, tidak perlu diingat semua cerita buruk akan kehidupan ini. Semuanya adalah sesuatu yang sudah berlalu dan saya yakin anda bisa menjalani hidup ini lebih baik dengan semua apa yang telah anda dapatkan dari pengalaman anda terdahulu. Begitulah hidup, bukan anda dan saya atau siapapun yang menentukan dan akhirnya menemukan hidup ini, melainkan hidup itu sendirilah yang akan menemukan jalan yang memang sudah harus dilaluinya. Sementara kita bisa berusaha untuk meluruskan hidup ini agar menjadi lebih baik, dan hidup akan menemukan jalannya sendiri.

Diakhir artikel saya, saya selalu mengingatkan anda. Bahwa, wacana bukanlah sesuatu yang harus melulu kita terima dan ikuti. Wacana adalah sarana penunjang agar wawasan dan pengetahuan kita bertambah sehingga kita bisa mengambil kesimpulan terbaik menurut kita sendiri. Tidak ada yang pernah berhak memaksakan idenya untuk kita, karena kita hidup berhak untuk berpendapat dan mengeluarkan ide. Singkatnya, anda boleh saja membaca, tetapi hati-hatilah terhadap wacana. ‘asa anyaj’alallahu hadzihi nafi’ah – ahmadMuhajir.

Uncategorized

Tidak diperjualbelikan yang diperjualbelikan…

Kamis malam lalu, tepatnya tanggal 02 Agustus 2007, saya berkunjung ke Gedung Wanita dalam acara Semarang Book & Library Fair 2007. Book fair kali ini sama seperti book fair-book fair sebelumnya, sepi dan hanya itu-itu saja, baik penerbitnya maupun pengunjungnya. Saya bahkan hampir hafal penerbit dan stand yang ada di sana dalam book fair sebelumnya karena setting tempat yang memang tidak berubah.

Lalu lalang pengunjung yang mencoba memilih dan memilah buku mana yang terbaik untuk dipilih membuat suasana menjadi terlihat sibuk dan ramai. Setelah berkeliling dan melihat-lihat stand-stand yang ada, saya melanjutkan ke sebuah stand yang – saya lupa apakah stand tersebut bernama atau tidak – menjual buku-buku bekas dan baru dengan harga yang relatif murah. Dengan kertas-kertas bertuliskan ‘Rp. 5000’ dan ‘Rp. 10000’ membuat stand ini ramai sekali dibanding stand-stand lainnya. Pengunjung berlomba mencari buku terbaik untuk harga yang terbaik. Saya mencoba melihat dan memperhatikan kalau-kalau ada buku yang menarik dengan harga yang murah, mengingat budget saya sendiri kurang lebih hanya sepuluh ribu saja. Artinya, saya harus membeli buku dengan harga kurang dari atau sama dengan sepuluh ribu rupiah.

Saya hadir bersama teman kos saya yang kebetulan ingin membeli buku baru dalam harga yang murah dari biasanya. Ketika sibuk memilih dan memperhatikan buku, saya dikejutkan oleh teman kos saya ini. Sembari jari telunjuknya menunjuk sebuah kotak kecil di pojok kanan atas sampul buku tersebut, dia menunjukkan kepada saya sebuah buku keagamaan. Saya perhatikan dan dalam kotak tersebut tertulis ‘Tidak diperjualbelikan – milik negara’. Teman saya berkomentar, ‘Wong milik negara dan ada tulisannya, kok dijual sih.’ Saya hanya tersenyum mendengar komentarnya. Buku tersebut dijual dengan harga Rp. 10000,-. Buku ini biasanya dipakai dalam pelajaran agama yang biasanya hanya dipinjamkan oleh sekolah dan tentu saja tidak diperjualbelikan. Setelah beberapa saat dia menambahkan ‘Kalau boleh lima ribu, saya beli ini’ dan saya kembali tersenyum.

Dalam hati saya terlintas, rupanya orang Indonesia terlalu terobsesi dengan perjual-belian. Bahkan sampai menghalalkan apa yang tidak seharusnya dilakukan – menjual milik negara. Bagaimana mungkin mereka menjual milik negara yang jelas terang-terangan tidak diperjualbelikan? Bagaimana mereka dengan terang-terangan harta negara dengan harga sepuluh ribu? Hmmm…

Saya jadi teringat, saat pameran komputer di Semarang juga. Dalam pameran komputer tersebut, seorang teman saya memergoki sebuah stand dengan terang-terangan menjual sebuah Operating System yang open source dengan harga Rp. 30.000,-. Padahal, dalam cover CD tersebut jelas-jelas ditulis bahwa ini adalah produk open source dan diminta untuk disebarluaskan secara bebas. Bahkan, saya memesan ke produsennya sendiri secara cuma-cuma dengan kebebasan untuk meminta berapa jumlah yang saya inginkan. Saya benar-benar tak habis pikir dan dilanda kebingungan, bagaimana mungkin kejadian seperti ini terjadi?

Saya jadi terpikir, apakah lama kelamaan masyarakat ini akan menjual pulau-pulau yang mereka diami hanya untuk mendapatkan sesuap nasi? Bagaimana mungkin, saat tentara nasional kita sedang ribut bahkan hampir perang dengan negara tetangga karena mempertahankan sebuah pulau kecil, dan di saat itu masyarakat kita dengan tenang menjual harta negara yang jelas-jelas tidak diperjualbelikan? Untuk sesuap nasikah? Atau memang tidak adanya pekerjaan yang bisa mereka lakukan? Entahlah. Saya tidak tahu. Semoga masyarakat kita sadar dan peduli bahwa milik negara adalah apa yang harus kita jaga sebagai seorang warga negara. ‘asa an yaj’alallahu hadzihi nafi’ah – ahmadMuhajir.