life, viewpoint

Jaman Berganti

Kampung saya termasuk salah satu yang tidak terlalu lancar mendapatkan air. Selain tentu saja tidak mendapat pasokan air dari PDAM, menggali sumur hingga menemukan mata air pun bukan perkara mudah. Sehingga akhirnya hanya ada beberapa rumah yang bisa memiliki sumur berair. Karena sulitnya air, tak jarang ketika musim kemarau tiba kami harus berhemat menggunakan air.

Seperti yang saya bilang, hanya ada beberapa rumah yang punya sumur dan satu sumur besar milik kampung yang memang digunakan oleh siapa saja dan kapan saja. Menimba pun ramai-ramai dan seringkali diiringi gosip tentang tetangga sebelah. Juga kadang tentang sinetron terbaru yang tayang di Indosiar semalam. Jika sore tiba, anak-anak pun beramai-ramai mandi sambil bermain air. Berbeda dengan sumur rumah yang biasanya belasan meter, sumur besar milik kampung ini hanya 5-6 meter saja sehingga menimba pun tak perlu payah.

sumur

Namun kebiasaan-kebiasaan tentang air ini mulai berkurang. Orang tak lagi perlu antri menimba karena sudah ada yang cukup sadar dengan bisnis sehingga membuat air mengalir ke rumah-rumah lain melalui pipa dan menggunakan meter air. Jika dulu setiap sebelum subuh para ibu akan beramai-ramai keluar rumah sambil membawa gentong air, kini mereka cukup memutar keran dan air akan memenuhi bak mandi. Anak-anak pun tak perlu repot membawa timba ke sumur untuk mandi sore.

Karena mengingat emak harus repot mengambil air setiap pagi berkali-kali, saya jadi sadar bahwa air harus berhemat. Tidak baik jika saya menggunakan air dengan seenaknya. Saya pun menggunakan air secukupnya saja. Malah tak jarang saya dan kakak beradu mulut dan menyalah satu sama lain jika air di bak mandi sampai habis.

Jaman berganti.

Kebiasaan antara adik dan saya pun berbeda. Adik cenderung lebih boros dalam penggunaan air. Dan begitu juga dengan anak-anak lain seusianya. Alasannya saya kira karena mereka tahu bahwa mendapatkan air tak susah. Cukup memutar keran dan air pun akan memenuhi bak mandi dan mencukupi kebutuhan mandi dan lain-lain.

Jika pada akhirnya emak akan ngomel karena adik boros menggunakan air, ia kadang menyebut kisah jaman sebelum air mengalir dengan mudah. Tapi apalah yang dihiraukan seorang bocah. Sekilas ia ingat dan kemudian lupa lagi. Apalagi jika si bocah memang menyukai bermain air sejak bayi.

Jaman berganti.

Kebiasaan dan budaya pun berganti. Perubahan memang membawa banyak hal dari yang baik maupun yang tidak terlalu baik. Rasanya emak akan tetap ngomel ke adik. Adik pun mungkin akan tetap suka bermain air dan menghabiskannya semaunya. Sementara saya hanya bisa mendengarkan melalui cerita via telepon.

4 thoughts on “Jaman Berganti

  1. eh, diriku juga dulu di Jakarta pernah ngalamin sulitnya dapetin air.
    tinggal di rumah petakan, airnya harus mompa di pompa yang dipake sederet rumah petakan. kalo pagi buat berangkat sekolah, kadang bangun Subuh-Subuh pas masih gelap, trus mandi di bawah pancuran pompa supaya ga usah susah-susah bawa air sekitar 5-7 meter dari pompa ke bak air di belakang rumah petakan.
    kalo ga salah pas masih umur 6-8 tahun deh itu.. masih cilik..

  2. aku tinggal di JKT sejak lahir pul, dan sekitar 3 tahunan ak msh inget kl keluargaku hrs memompa air untuk mendapatkan air, kelihatannya yg dikontrakan dulu itu beramai-ramai dengan tetangga juga :)

Leave a comment