Miscellaneous

[NakaTrip] Mengarungi Sungai Cicatih (Citatih)

Terakhir kali berarung jeram adalah saat saya duduk di bangku kuliah. Saat itu saya aktif sebagai trainer outbond bersama beberapa kawan senior untuk bersenang-senang dan tentu saja dapat duit. Setelah beberapa tahun lamanya, akhirnya saya kembali mengarungi sungai bersama sebuah organizer bernama Riam Jeram.

NakaTrip 2017 - arung jeram di Sungai Cicatih

Namun, kali ini saya tidak akan menceritakan detail bagaimana perjalanan arung jeram yang kami lakukan pada 8 April kemarin, melainkan apa yang bisa disimpulkan supaya menjadi pelajaran bagi banyak orang, my takeaways. Maka, tanpa basa-basi…

Continue reading “[NakaTrip] Mengarungi Sungai Cicatih (Citatih)”

Miscellaneous, viewpoint

Mau ke Big Bad Wolf Books 2017?

Sebagai pencinta buku, hari Kamis 20 April 2017 lalu saya berkesempatan datang ke hari pertama (pembukaan) Big Bad Wolf Books 2017. Ini adalah kali pertama datang ke pameran buku yang besar ini dan saya harus akui bahwa datang ke sini ini membutuhkan perjuangan yang besar sekali. Dan ya, hasilnya juga lumayan.

Apa itu Big Bad Wolf Books? BBW adalah bazaar buku yang diselenggarakan oleh Big Bad Wolf Sendirian Berhad (Sdn Bhd) dan dimulai di Malaysia kemudian menjalar ke negara di Asia Tenggara lain termasuk Indonesia. Nah, buku-buku dalam BBW adalah buku-buku clearance sale dari BookXCess, si induk semang BBW Sdn Bhd dan juga beberapa distributor lainnya. Info lebih lanjut silakan merujuk ke sini.

Nah, dari pengalaman sehari tersebut beberapa hal berikut inilah pelajaran yang dapat saya simpulkan:

Continue reading “Mau ke Big Bad Wolf Books 2017?”

Miscellaneous

Ambtelijk en Duiten Hierarchie: Indonesia Yang Gini-gini Aja

Tak perlu tercengang dengan judul post yang menggunakan bahasa Belanda. Sesungguhnya saya tak bisa berbahasa Belanda. Tapi, sesungguhnya saya ingin bisa karena sejarah tentang negeri ini banyak, jika tidak boleh dikata semua, yang dituliskan dalam bahasa penjajah, Belanda.

Ambtelijk en duiten hierarchie di atas adalah ungkapan yang melukiskan kondisi masyarakat Indonesia, atau jaman itu Hindia-Belanda, pada abad ke-19. Ambtelijk berarti kepegawaian negeri, duiten bermakna duit, dan hierarchi berarti urutan tingkat atau jenjang jabatan. Iya, jaman tahun itu di negeri ini hal yang paling menonjol adalah hirarki kepegawaian dalam pemerintah dan uang.

Ternyata “budaya” yang ada di negeri saat ini adalah budaya dari jaman 130+ tahun lalu yang entah bagaimana masih terpelihara dengan baik. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah wujud nyata dari sisa kebudayaan abad ke-19 itu. Nampaknya memang tak ada yang berubah di bawah kolong langit sini.

Evolution of the Dutch East Indies

Penulis Belanda terkenal si Rob Nieuwenhuys dalam bukunya yang berjudul Tussen twee Vaderlanden menceritakan bahwa masyarakat Hindia-Belanda abad ke-19 adalah kaum parvenu. Kaum yang cepat mendapatkan kedudukan sosial penting tanpa usaha. Uang dan gengsi kedudukan adalah semangat yang berlaku di kalangan pejabat pemerintahan.

Atomistik atau mencari untung untuk dirinya sendiri menjadi sifat yang mengakar. Masing-masing berlomba untuk lebih kaya dan tinggi jabatan dari orang lain. Dan jika sudah demikian kebiasaan mereka-mereka ini ialah bergosip tentang orang lain sambil minum bir atau ngopi dengan yang sederajat. Bagi yang lebih rendah jabatan atau keuangannya tentu saja akan dikucilkan dari pergaulan.

Pengarang Rouffer yang melakukan perjalanan ke tanah Jawa pada abad ke-19 mencatat bahwa Hindia-Belanda memiliki sistem pungutan yang menguntungkan bagi para pejabat seperti bupati. Pungutan ini bersifat wajib bagi setiap penduduk dan berupa bahan pangan baik hasil panen, ayam maupun kerbau. Selain itu juga terdapat budaya pesta yang konon bersifat sakral dan sebagai bentuk hormat kepada pejabat dan raja. Anehnya, pemerintah memandang ini bukan suatu penjarahan walaupun kondisi wong cilik tidaklah baik.

Sebagian besar pejabat memang orang Belanda yang kelakuan mereka nampak masuk akal karena berposisi menjajah. Namun, perlu diingat bahwa pejabat saat itu bukan hanya terdiri dari orang Belanda saja namun juga kaum pribumi. Lagipula jika memang itu budaya penjajah yang sudah angkat kaki, mengapa budayanya masih ada dan terpelihara?

Kemerdekaan yang berpuluh tahun tak mampu menanggalkan budaya yang demikian usang dan kita masih gini-gini aja. Jabatan atau kedudukan masih menjadi cara favorit untuk mengejar kehormatan serta cara gampang untuk mengeruk kekayaan. Tak ada yang benar-benar berubah. Sampai kapan? :|

Disadur dari Sejarah Kecil tulisan Rosihan Anwar dalam bab 11: Jawa Tengah, Perwira Jerman di Pulau Karimun.

PS: Mohon koreksi bila ada salah penulisan bahasa asing. :D

Miscellaneous

Red-Green Icons Next to Sender’s Name in GMail

Once, I was asking myself about those small-red-and-green icons next to sender, or recipient’s name in GMail. What are those? Why there are red icons and why there are the green ones?

Annoyed by that question, this morning, I tried to copy the icon and paste it on Google. Nothing came up.

So, how to figure this out? I zoom in to the biggest size Chrome can handle. And here is what I found.
red -green icons next to sender/recipient's name in GMail

I don’t know how but I forgot to Google that question. :p

[UPDATE]
What this means? It is Sender Time Zone.

Green icons next to people who are probably awake and reachable, between 9.00 am and 6.00 pm. The red ones, next to those who could be sleeping or out of the office.

It’s a feature and you can activate it from the Labs.

blog, Miscellaneous

[Cerita] Jalan-jalan ke Museum di Tengah Kebun, Jakarta

Kemarin, Sabtu, 14 April 2012, saya diajak oleh si peri-gigi untuk jalan-jalan ke sebuah museum yang saya nggak punya bayangan sama sekali. Informasi yang saya dapat dari si peri hanyalah sebuah museum di tengah kebun, bertempat di Kemang, untuk masuk harus janjian sama yang punya, minimal tujuh orang, dan isinya barang kuno. Selain itu? Tak ada.

Setelah bermalas-malasan, karena panas, akhirnya saya berangkat juga bermodalkan handphone dengan Maps aktif. Sebelumnya saya sudah mencari lokasi via Maps dan berhasil menemukannya, paling tidak saya anggap begitu. Informasi dari Maps adalah saya bisa menggunakan Kopaja S605A untuk sampai di tempat dari terminal Blok M. Faktanya, S605A tidak lewat di depan museum itu. Pfiuh! Jadi, saya harus naik ojek dengan membayar 5000 rupiah.

Setelah beberapa saat, ternyata pasukan hanya terdiri dari enam orang. Kurang satu. Cilaka dua puluh sembilan akar tiga! Apa boleh buat, sudah sampai, jadi ya masuk saja. Siapa tahu beruntung dan dibolehkan.

“Pak, maaf. Ternyata kami hanya bisa berenam. Satu orang tidak bisa datang,” begitu kata peri kepada bapak penjaga. Beberapa detik kemudian akhirnya si penjaga menjawab, “Ya. Tidak apa-apa.” Alhamdulillah!

Akhirnya kami memulai dengan saling berkenalan dengan bapak penjaga yang bernama (Bapak) Mirza. Beliau adalah keponakan dari pemilik museum, Bapak Djalil. Petualangan pun dimulai dengan peserta: saya, @fairyteeth, @riuusa, @goenrock, @_plukz, dan @putripuuch.

Satu demi satu wilayah yang penuh dengan koleksi kami jelajahi dimulai dari sisi paling depan. Ada arca-arca, topeng-topeng, hingga fosil jaman dinosaurus. Ada pula aksesoris rumah mulai dari pintu berikut engsel hingga hiasan pintunya. Berlanjut ke dalam dan seterusnya dengan penjelasan sebagian koleksi oleh Pak Mirza sambil membawa buku besar tentang koleksi yang ada.

Museum ini sebenarnya adalah rumah tinggal. Meja makan yang menggunakan kursi dan meja antik hingga lampu digunakan sebagai tempat makan sehari-hari. Ruang kerja dari kayu-kayu kuno, tempat tidur dari ranjang abad ke-18, hingga kamar mandi dengan perabotan milik kaisar Jerman. Semuanya tertata dengan rapi meskipun tidak berurut. Random di museum ini justru menjadi unik karena tidak ada koleksi membosankan dari satu abad saja dalam satu ruang.

Semua koleksi yang dibeli sendiri oleh Pak Djalil ini nampak dirawat dengan sangat baik jika dilihat dengan seksama. Tak ada debu atau jaring laba-laba. Koleksi guci dari jaman kerajaan China, pot tertua bernama Amphora yang ditemukan dari dasar laut, atau patung-patung kubur nampak terawat dan berharga.

Selain disimpan dalam rumah, sebagian koleksi juga diletakkan dalam sebuah taman/kebun. Ada torso, arca-arca, patung-patung Buddha maupun kursi-kursi yang masih bisa digunakan. Dan yang lebih menarik di taman tersebut ada banyak tanaman serta pohon kelapa yang sempat membuat saya jadi ngidam. :|

Kami memulai tour dengan didampingi dan diarahkan oleh Pak Mirza dari pukul 12.30 dan berakhir pada pukul 15.00. Setelah menikmati sajian minum gratis, kami bertemu dengan Pak Djalil si pemilik yang sudah berumur 72 tahun. Sakit yang beliau derita belum kunjung sembuh walau sudah berobat ke dokter terhebat di New York dan Jerman sekalipun sehingga harus duduk di kursi roda saat menemui kami.


Koleksi yang dimiliki Pak Djalil ini sengaja dirawat sendiri supaya kita (masyarakat) dapat menikmati dan menggali sejarah. Beliau tidak bisa mempercayakan ke pemerintah karena apa yang sudah kita tahu tentang museum-museum itu. Museum di Tengah Kebun adalah museum milik masyarakat.

Yang beliau minta adalah agar kita menjaga museum ini dengan mengunjunginya. Gratis, dengan tetap menghargainya.

Anyway, sewaktu kami masuk, di pojok lorong masuk ada seseorang yang membawa kamera. Belakangan kami tahu bahwa dia adalah kameramen dari KompasTV yang sedang meliput kegiatan di Museum di Tengah Kebun. Jadi, bonus buat kami kemarin adalah syuting untuk KompasTV dan akan tayang di KompasTV pada hari Jumat, 20 April 2012 pukul 15.00 WIBB. Jangan lupa nonton ya. Hehe..

Summary jalan-jalan ke Museum di Tengah Kebun
Alamat: Jalan Kemang Timur Raya No. 66, Jakarta Selatan
Kontak: +62-21-7196907

Biaya: Rp. 7000
* Transportasi Kopaja S605A dari Blok M ke Jl. Kemang Timur Raya – Rp. 2000
* Transportasi ojek dari Jl. Kemang Timur Raya ke Museum – Rp. 5000

Koleksi:
* Benda-benda jaman dinasti China
* Arca-arca
* Patung-patung Buddha
* Kerajinan dari berbagai daerah
* Berbagai benda keramik dan perak dari jaman kuno
* Koleksi guci dan pot
* dan 2000 koleksi lainnya

PS: Maaf karena saya tidak mengambil banyak gambar