blog, Featured, life

[NAKATRIP] Jalan-jalan ke Gunung Papandayan

Masih ingat kapan terakhir naik gunung? Saya tidak. Kalau tidak salah, kemungkinan besar perjalanan ke gunung terakhir saya adalah sewaktu duduk di bangku sekolah menengah. Semasa kuliah saya tidak lagi aktif di kegiatan pencinta alam walau setidaknya dua kali dalam setahun masih aktif menyusuri bukit, lembah, sungai serta berkegiatan outdoor lainnya. Itu pun terjadi antara tahun 2005-2008, karena tahun 2009 saya sibuk berkutat dengan skripsi. Dan kali ini, saya akan mendaki Gunung Papandayan yang katanya mudah bersama 23 teman lain satu kantor. Rame, kan?

Photo: Stefanus A
Photo: Stefanus A

Untuk memudahkan kami sebagai “wisatawan”, perjalanan ke Garut dilakukan dengan bus sewa yang mulai berangkat pada pukul 20:00. Kami sengaja berangkat sedini mungkin dengan maksud bisa tiba di Garut pagi-pagi dan bisa istirahat sejenek sebelum mulai mendaki.

Continue reading “[NAKATRIP] Jalan-jalan ke Gunung Papandayan”

life

Mahasiswa Gelap

Ketika membaca kisah founder datective.ca yang kuliah di kampus-kampus Ivy League secara gratis sebagai mahasiwa gelap, saya akhirnya teringat kisah nyata yang nyaris sama. Kali ini, pelakunya adalah saya sendiri.

Waktu itu sedang libur semester di kampus dan saya adalah mahasiswa semester dua. Kebijakan di kampus adalah, jika liburan semester mereka akan mengadakan semester pendek untuk mahasiswa yang hendak mengulang mata kuliah tertentu atau mengambil mata kuliah baru guna mengejar “lulus cepat.”

Beberapa teman mengambil semester pendek ini sedangkan saya tidak. Bukan karena tidak ada mata kuliah yang hendak saya ulang, melainkan karena saya tidak punya uang untuk membayar mata kuliah yang mau diulang. ::grin:

Karena tidak pulang kampung dan tidak punya pekerjaan sampingan, maka liburan semester berarti saya akan menganggur di kos-kosan. Ujungnya paling-paling nonton televisi dan tidur. Useless. Nothing.

Continue reading “Mahasiswa Gelap”

life

My 2013

Saya tak pernah menuliskan hal beginian sebelumnya. Tapi rasanya tahun ini perlu saya tuliskan karena berhubungan dengan sesuatu yang besar. Sesuatu yang waktu dan proses terjadinya tidak sederhana. Ada kompleksitas, dan juga nilai-nilai lain.

Sebenarnya ini cuma tentang satu hal. Satu hal yang nantinya menjadikan saya tak lagi memikirkan diri sendiri. Satu hal yang salah seorang menyebutnya sebagai kematian individual. Yes, I decided to marry someone.

Adalah sekitar bulan September – Oktober lalu keputusan ini saya (dan pihak terkait) buat. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya beranikan diri untuk melamar ke rumahnya di Padang Panjang. Entah keberanian itu datang dari mana sebenarnya. Saya sendiri tak tahu pasti.

Semuanya berawal setelah sowan ke rumah nenek di Kalibata saat Idul Adha. Kami memutuskan untuk main ke Padang Panjang dan ketika momennya tepat saya mengutarakan niat tersebut ke Bapak dan Ibunya. Luckily, saya diterima. Sebenarnya saya main ke Padang Panjang atas undangan. Harus saya akui bahwa keberanian saya tak sepenuhnya datang dari diri sendiri. Mungkin memang cara kerjanya seperti itu. Entahlah.

Kami memang sudah mengenal satu sama lain sejak lama. We were friends. Best friends, even. Belakangan seseorang berani beruar bahwa kami memang berjodoh sejak awal. :)

marriage

Kalau saya ingat-ingat kembali, menikah di tahun 2014 adalah sebuah impian. Karena alasan-alasan tertentu, saya bermimpi dan bertekad akan menikah pada akhir 2013 atau 2014, dengan batas hingga pertengahan tahun. Dengan siapa? I have no plan, that time.

Alhamdulillah, jalan itu memang dibukakan dan saya bisa menikah di awal tahun 2014. A dream comes true.

Sekarang, tinggal menghitung hari saja. Pernikahan kami akan berlangsung pada 3-4 Januari 2014 di sebuah kota kecil yang dingin, Padang Panjang. Sebuah tempat yang berbalik hampir 180 derajat dengan tempat tinggal saya yang cenderung panas.

I am happy. And I think this is the happiest year of my life.

Semoga tahun depan akan menjadi tahun yang lebih berkah buat saya, dan tentu saja keluarga, terutama keluarga kecil saya. Good luck, everyone. Semoga tahun depan hidupmu lebih berbahagia dan tenteram.

life, viewpoint

Hikmah

Setelah mengutarakan niat, yaitu meminta-minta, dan menyampaikan permohonan maaf yang basi, pria bertubuh sehat dan berpakaian bagus itu menutupnya dengan, “semoga ini semua ada hikmahnya untuk saya.”

Pria tadi mengaku mengamen meski ia tak membawa alat apapun untuk bisa disebut pengamen. Tak ada gitar. Tak ada kaleng, galon, atau apapun yang bisa dipakai untuk mengiringi ia menyanyi. Soal suara, tak perlulah ditanya bagaimana.

Mungkin kita telah lupa. Namun ketika masih bayi yang sedang belajar berjalan kita telah mengalami jatuh ratusan kali sebelum pada akhirnya dapat berjalan dan berlari. Ketika jatuh, otak secara otomatis memahami, mengerti, dan mengambil pelajaran: bahwa ia butuh menyeimbangkan antara otak kanan dan kirinya dalam proses pengaturan syaraf-syaraf yang ada di kaki.

Mengambil hikmah dari kejadian pada hakikatnya adalah naluriah dan juga kewajiban sebagai seorang makhluk. Karena hanya dengan belajar dari kejadian kita mampu berubah menjadi lebih baik. Dengan memahami dan mengambil hikmah kita pada akhirnya mampu mengerti mana yang baik dan mana yang lebih baik. Bahkan ilmuwan mengakui bahwa hanya dengan belajar dan memetik pelajaran dari kejadian manusia bisa menjadi sedemikian maju dengan teknologi dan sains.

Mariko dalam film The Wolverine pernah berujar pada Logan bahwa segala sesuatu memiliki makna yang dalam cerita itu Logan suka menancapkan sumpit secara tegak di atas semangkuk nasi. Apakah memang benar dalam setiap sesuatu ada hikmah?

Dari pengamatan dan pengalaman, saya meyakini bahwa jawabannya adalah iya. Setiap sesuatu, setiap kejadian memiliki pelajaran yang bisa diambil. Tak peduli sekecil apapun kejadian itu kelihatannya di depan mata kita. Tak peduli seberapa sepele kejadian tersebut ketika dilihat dengan mata telanjang.

Hikmah atau pelajaran dari kejadian dalam hidup setiap manusia pastilah ada. Setiap kejadian memiliki makna atau hikmah atau pelajaran atau apapun sebutannya untuk dapat dipetik dan menjadikan setiap diri ini menjadi lebih baik.

Persoalannya memang adalah apakah kita mampu melihat dan mengambilnya?

life

Tempat Duduk

[blockquote]Janganlah seseorang (di antara kamu) mendirikan seseorang lain dari tempat duduknya, lalu ia duduk di tempat itu. Akan tetapi, berlapang-lapanglah dan berluas-luaslah (kalian akan tempat).[/blockquote]

~Muhammad (Muttafaq ‘alaihi dengan riwayat dari Imam Muslim)