Android, Featured, How to, Tips

Getting To Know About Android Design

There are a few major of density values for our Android devices. And They are: ldpi (about 120 dpi), mdpi (160 dpi), hdpi (240 dpi), and xhdpi (320 dpi). But, how did it ended up in these values? Here’s a simple explanation by Dianne Hackborn, the Android Framework Engineer.

Speaking of screen sizes, you may need to read this information about multiple screen support written by Android developers.

And more, tips designing for Android by Smashing Magazine.

blog, Featured, Miscellaneous, Social Media

Will this service read my personal data?

The moment I heard about it I went out to my browser and Google it. Found the link, I clicked and read what’s on the page to know what is it all about. Don’t understand much, I decided to sign-up and take a chance. It’s free. So, why not?

Sign-up process is easy, and very simple. Filling up my first and last name, email, picked up password, and a custom URL. Less than a minute I am registered. What’s next is connecting some third party services like Google, Google+, IMAP service, Twitter, Facebook, LinkedIn and more. Psstt.. I did not connected my Facebook account to it.

Done with the process, the web directs me to my personal dashboard. Looking around many tabs, I found out that I can read and even reply my email with the service. A minute later something came up in my mind. If I can read my email and reply with this service, it must have the ability to read my personal data. The question is, will they read my personal data? Or even sell my personal data?

Nimble

Let’s head on to the most-hated part of registration process, read Privacy Policy.

And look what I found.

“.. Any information shared through use of the Nimble Site or Nimble Services or Third Party Services accessed through Nimble Services will be shared with and stored by Nimble. This information includes any information shared through Third Party Services accessed through Nimble Services, including, but not limited to messages sent via Third Party Services, Third Party Applications Username or IDs, posts, location tags, photos, biographical information, etc. We may track and analyze non-identifying and aggregate usage and volume statistical information from you and provide such information to third parties. We may also use your Third Party Service or Application Username, IDs or handles and share it with our Partners and we may contact you based on this information. We may also track and analyze non-identifying and aggregate usage and volume statistical information from you and provide such information to third parties.”

and this

“Sale of information. In order to accommodate changes in our business, we may sell or buy portions of our company or other companies or assets, including the information collected through this Web site. … “

Okay. I need some help to understand those parts. Anyone?

PS: Yes, it’s Nimble.

Featured, Hikmah, viewpoint

Ketika Lampu Merah Itu Padam

Tidak banyak orang yang suka dengan lampu merah. Lampu di sudut jalan yang biasanya terdiri dari tiga lampu dengan warna merah, kuning, dan hijau ini memang seringkali membuat jengkel. Dan saya, adalah salah satu yang tidak terlalu suka dengan lampu merah.

Ketika lampu merah menyala, mau tak mau semua kendaraan harus berhenti. Tak peduli sedang terlambat menuju kantor. Atau sedang ditunggu kekasih di depan rumah sejak dua jam lalu. Ketika lampu merah menyala, antrian kendaraan akan semakin panjang. Dan ketika lampu merah menyala, kadang bertemu dengan pengamen bencong menjadi tak terelakkan. :D

Tapi pernahkah terbayang bagaimana jadinya jika semua lampu merah itu padam? Ketika semua lampu di sudut jalan itu hanya memancarkan cahaya berwarna hijau? Tak ada warna merah. Tak ada hitungan mundur yang menjengkelkan.

Iya. Semua orang tahu lalu lintas akan berantakan karena semua kendaraan mau berjalan lebih dulu. Tidak ada yang mau mengalah karena semua terburu-buru –atau setidaknya nampak terburu-buru. Macet di mana-mana dan bunyi klakson akan semakin memenuhi ruang-ruang di setiap sudut jalan.

Jika mau dipikir, ternyata lampu merah memberikan banyak keuntungan. Bagi kita. Pengendara. Lampu merah memberikan kita waktu untuk merenggangkan otot-otot tangan dan kaki yang lelah dan tegang setelah sekian lama memegang kemudi. Atau mungkin sekedar melepaskan pandangan ke sisi lain dari bagian kendaraan dan menyaksikan detail beberapa bagian jalan. Dan tentu saja, membantu mengatasi kemacetan karena lalu lintas lebih terkontrol.

Dan tak lupa. Lampu merah adalah berkah bagi mereka yang biasanya ada di sudut jalan. Pengamen –bencong atau tidak bencong, penjaja makanan dan minuman, pengemis, dan tak lupa penjual koran.

Catatan: terinspirasi dari lagu yang dinyanyikan dua orang pengamen dalam Kopaja 19

blog, Featured, Miscellaneous

Cerita: Jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas, Bogor Cianjur

[RALAT] Kebun Raya Cibodas terletak di Kabupaten Cianjur, bukan Bogor. Terima kasih kepada Dika yang memberikan pembetulan dan mohon maaf.

Setelah mengalami berbagai permasalahan akhirnya jadi juga rencana jalan-jalan ke Bogor. Hari itu saya bangun kesiangan sebenarnya, sekitar pukul 9 lewat sekian, lantaran begadang dan baru tidur saat pagi menjelang. Merasa telah merencanakan ke Bogor, saya pun menghubungi Icit karena kami akan pergi bareng. Awalnya kami berencana bertiga bersama Putri, tapi karena Putri harus menjadi budak kapitalis akhirnya hanya berdua saja. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat walau hari telah beranjak siang. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. :D


Kami memulai perjalanan ke Bogor dari Stasiun Sudirman menggunakan kereta tanpa tahu akan naik apa dari Bogor ke Cibodas. Dari informasi yang saya dapat ada beberapa versi untuk sampai di Cibodas. Oleh karena itu saya putuskan bakal tanya-tanya saja.

Pukul 10.31 kereta AC dengan tujuan Bogor pun tiba di Stasiun Sudirman. Kami naik ke kereta yang masih sepi saat itu dan belakangan mulai ramai di Stasiun Lenteng Agung. Kereta kami tiba di stasiun Bogor pada pukul 11.40. Suasana siang itu sungguh amat menyengat.


Bertanya pada tukang ojek di sekitar stasiun, kami disarankan menggunakan angkutan bernomor 02. Dari angkutan kami ditunjukkan ke angkutan berikutnya untuk turun di mana dan begitu seterusnya. Setelah berjam-jam di jalan tanpa berhenti dari satu angkutan ke angkutan lain akhirnya kami sampai juga di Cibodas pukul 14.30. karena menurut saja, kami bahkan naik bus Jakarta – Bandung dari Cisarua hingga Cibodas bawah.

Sebelum akhirnya tiba di Cibodas kami melewati daerah Kebun Teh Gunung Mas yang benar-benar indah luar biasa. Bukit-bukit hijau dengan kebun teh yang tersusun dengan rapi dan cantik di kanan dan kiri jalan sungguh mempesona. Tatanan yang sungguh sempurna. Di sini saya sudah ingin turun dan berlari ke bukit-bukit itu alih-alih meneruskan perjalanan ke Cibodas yang tak kunjung sampai.

Oke, kembali ke Cibodas. Setelah membeli tiket masuk seharga Rp. 6.000,- untuk satu orang, kami pun menuju ke dalam. Sesampainya di dalam kami hanya melihat jalan raya dengan pepohonan dan tanah lapang berumput hijau yang luas. Melihat tanah lapang nan hijau saya ingin guling-guling di situ yang kemudian saya urungkan karena ternyata ramai. Malu. :D

Tanpa peta wilayah dan hanya berbekal informasi dari internet kami berjalan terus untuk ke Taman Bunga Sakura, yang katanya bisa didapati dengan berjalan lurus dari pintu masuk. Setelah berjalan beberapa ratus meter masih ditemani tanah lapang dan pepohonan akhirnya kami tiba di taman tersebut.

Di Taman Bunga Sakura ini seharusnya ada bunga-bunga Sakura, namun mungkin karena belum musimnya jadi saya tidak melihat bunga Sakura. Ternyata taman ini cukup ramai. Mungkin karena posisinya yang dekat dengan pintu masuk. Ada berdua-duaan, ada yang beramai-ramai dengan kelompok da nada pula yang membawa anaknya. Mereka duduk-duduk di taman ini dan menikmati aliran sungai kecil yang mengalir dari air terjun di pojok taman ini.

Termasuk di bagian taman ini terdapat pula aliran air yang sengaja dibuat membelah jalan dengan batu-batu kecil yang menambah indahnya pemandangan. Di bagian sungai yang membelah jalan ini biasanya anak-anak kecil bermain bersama orang tuanya. Ketika ada mobil hendak lewat, mereka terpaksa minggir terlebih dahulu.

Karena lapar dan belum makan siang kami memutuskan menikmati santap siang di sebuah pondok makan di pojok taman. Di sini hanya ada menu mie ayam, mie rebus/goreng dan beberapa kue ringan. Tidak ada nasi dan tidak juga telur. Kata si penjual ayamnya sudah mati dimasak buat mie ayam jadinya nggak bertelur. Hehe..

Setelah menikmati santap siang kami meneruskan perjalanan dengan tujuan Air Terjun Ciismun. Informasi jalan saya dapatkan dari penjual di pondok makan tadi, yaitu ikuti jalan raya blablabla dan seterusnya. Saat diberikan petunjuk sebenarnya saya tidak paham tetapi ya jalan saja. Nekat.

Jalanan ternyata tidak cukup bersahabat dengan tanjakan dan turunan yang luar biasa melelahkan. Kami terengah-engah dan membungkuk serendah mungkin karena tanjakan yang sungguh berat. Jarak yang kami tempuh juga tidak dekat. Suasana begitu sepi hingga suara angin dan napas kami dapat kami dengar sendiri. Di sisi kanan dan kiri hanya ada pepohonan tinggi dan besar serta rumput-rumput liar. Ketika tiba di persimpangan kami akan melihat papan petunjuk yang terpasang dan memilih salah satu arah dengan harapan tidak tersesat.


Setelah berjalan lebih dari 30 menit kami tiba di persimpangan jalan yang ditutup portal. Kebetulan di pojok ini ada beberapa orang termasuk anak-anak kampung dan kami pun bertanya bagaimana cara mencapai Ciismun. Menurut mereka, kami bisa lurus ke bawah kemudian ke kanan melewati hutan di depan kami. Jika sebelumnya adalah hutan dengan jalan beraspal, kali ini adalah hutan dengan jalan setapak. Mereka sebenarnya mencoba menawarkan jasa untuk mengantar namun kami menolak.

Lagi, dengan modal nekat dan informasi dari anak-anak tadi kami melanjutkan melewati pohon-pohon besar dan jalan setapak yang nampaknya biasa dilewati oleh penduduk untuk mencari kayu bakar. Setelah beberapa menit akhirnya kami tiba di jalanan setapak dengan susunan batu yang rapi seperti jalanan di kampung jaman dulu. Dari strukturnya yang rapi, ini terlihat seperti jalan resmi menuju ke air terjun.

Jalanan berbatu ini diapit oleh dinding tebing yang rimbun dengan pepohonan dan semak belukar. Di samping kiri terdapat sungai kecil yang mengalir bersumber dari air terjun. Suasana yang sangat sepi membuat gemericik air yang mengalir dan menyentuh bebatuan serta kerik jangkrik menjadi pengiring perjalanan. Romantis sekali. LOL

Di dua titik dalam perjalanan ini kami bertemu dengan anak-anak berseragam sekolah, berjumlah 5-6, yang mengikuti kami dan terus menawarkan jasa mengantar hingga Ciismun. Ketika tawaran mengantar tidak kami gubris mereka melanjutkan dengan meminta dikasihani (uang). Mereka terus mengikuti dan berbicara hingga puluhan meter hingga akhirnya kami menyerah. Saya katakan dua kali karena setelah yang ‘tim’ pertama dating lagi ‘tim’ berbeda dengan tujuan sama.

Selain dua ‘tim’ tadi, di sepanjang jalan ini juga dapat kita temui ibu-ibu yang menggendong kayu bakar sepulang dari hutan. Saya tidak memotret karena merasa tidak enak hati. Selain itu saya juga bertemu beberapa orang yang kembali dari air terjun.

Pukul 15.40 akhirnya kami tiba di Air Terjun Ciismun ini. Adalah kebahagiaan yang saya rasakan karena berhasil ke sini. Menikmati indah jatuhnya air Ciismun. Suasana sore itu cukup ramai pengunjung mulai dari yang sekeluarga, se-geng, ataupun hanya berdua. Alhamdulillahnya, di sini terdapat musholla sehingga kami bisa menunaikan sembahyang.

Memasukkan kaki untuk berwudlu di sungai ini membawa sensasi tersendiri. Selain segar, kaki saya yang direndam selama beberapa menit ini terasa ditusuk oleh dinginnya air. Literally. Di sini saya hanya mengambil gambar dari satu sisi ke sisi lain. Pengunjung lain ada yang berfoto layaknya pre-wedding, saling memotret, foto beramai-ramai dan ada satu orang yang mandi di bawah air terjun.

Puas menikmati air terjun dan mengabadikan dengan kamera si Eva, pukul 16.30 kami memutuskan kembali karena tidak mau mendapati gelap di tengah hutan. Terlebih kami berjalan kaki. Di perjalanan pulang, karena ada banyak cabang jalan menuju pulang, kami memilih jalan setapak yang entah seperti apa di depan. Modalnya ya nekat kali. Kali ini Icit yang mempelopori. Untungnya kami berbarengan dengan dua cowok yang salah satunya membawa gitar. Belakangan kami tahu bahwa mereka berdua adalah mahasiswa semester akhir yang sedang pacaran refreshing.

Jalanan yang kami lewati ini rimbun oleh semak belukar dan menanjak sekali. Hampir sama dengan jalanan ketika kami berangkat kecuali ini lebih panjang dan curam. Setelah beberapa menit akhirnya kami tiba di jalanan normal. Sampai di jalanan normal ini kami merasa bangga karena masih kuat untuk terus berjalan sementara beberapa orang yang sampai terlebih dulu berhenti, duduk dan minum karena terengah-engah. :D

Tapi? Di mana kita? Pertanyaan bagus. Jawaban yang muncul di otak saya hanya, hutan yang manusiawi. Setelah berjalan beberapa puluh meter, kami menemukan beberapa petunjuk jalan. Ke Rumah Kaca. Kolam Besar. Lalu di mana jalan keluar? Tidak ada petunjuk. Tapi kami nekat menyusuri jalanan dan berdoa.

Ratusan meter menembus tanah luas dan menyusuri jalanan akhirnya kami menemukan petunjuk keluar. Alhamdulillah. Saat itu matahari tidak lagi terlihat dengan jelas. Suasana cukup gelap dengan sekeliling yang masih dipenuhi pepohonan menjulang. Ketika berjalan mengikuti petunjuk keluar tiba-tiba kami mendengar suara-suara dari atas pohon. Karena penasaran saya berlari dan mencoba mendekat. Suara semakin ramai dan saya mendongak. Monyet. Satu. Dua. Empat.

Ada 4-5 monyet yang terlihat namun tidak begitu jelas karena gelapnya hutan. Saya juga tidak memotret karena yakin tidak akan mendapatkan hasil mengingat posisi monyet yang sangat tinggi. Di sisi lain saya juga mulai takut dengan gelapnya hutan ditambah hadirnya monyet-monyet tersebut. Mari melanjutkan pulang saja. Setelah berjalan terus menyusuri jalan raya akhirnya kami menemukan tanda ini.

Di sisi kanan jalan keluar ini terdapat kolam-kolam dan rumah yang entah berfungsi untuk apa. Sementara itu di sisi kiri terdapat kolam kecil dengan air mancur dan taman bunga yang juga kecil tempat kami beristirahat sesaat. Sebelum akhirnya keluar kami menemukan sebuah peta Kebun Raya Cibodas yang terpampang. Dari peta ini kami menyadari bahwa kami telah ‘mengelilingi’ separuh dari kebun dengan luas 84,99 hektar ini.

Hari sudah gelap. Udara dingin juga mulai dating bersama kabut. Yuk, pulang.

How to get there: Kebun Raya Cibodas

  • Jakarta – Bogor: KRL AC, Rp. 7.000,-
  • Stasiun Bogor – Sukasari: Angkutan bernomor 02, Rp. 2.500,-
  • Sukasari – Cisarua: Angkutan hijau dengan tujuan Cisarua (tidak ada nomornya), Rp. 5.000,-
  • Cisarua – Pertigaan Cibodas: Bisa menggunakan colt putih atau ikuti petunjuk sopir, Rp. 10.000,- (harganya sama)
  • Pertigaan Cibodas – Cibodas: Angkutan berwarna kuning tujuan Cibodas, Rp. 2.000,-

Inside: Kebun Raya Cibodas

  • Taman Bunga Sakura
  • Taman Lumut
  • Air Terjun Ciismun
  • Taman/Tanah lapang
  • Kolam Besar
  • Rumah Kaca
  • Hutan dengan berbagai jenis tumbuhan
  • dll (Google)

Foto lainnya dapat dilihat di sini.

blog, Featured, viewpoint

Donor Darah Pertamaku

Tubuh saya terhuyung pelan ke belakang hingga nyaris jatuh sebelum akhirnya kaki kanan saya kembali menjejak. Sedetik kemudian, seorang perempuan muda yang kemudian saya ketahui bernama Ozka berujar, “Hati-hati! Tanahnya rapuh. Kayak hati.”

Sambil tertawa pelan saya menjawab, “Okay. Mari saya twitkan!” Dan satu menit kemudian, tweet ini lahir: https://twitter.com/#!/saifulmuhajir/status/112830889418956800 

Kurang lebih kejadian di kebun Springhill inilah titik awal saya melakukan donor darah untuk pertama kalinya.

Selepas bermain –dan makan kacang panjang serta tomat– di kebun yang dikelola Jakarta Berkebun kemudian menikmati ketan di daerah Kemayoran, kami berempat (saya, Ozka, Krisna dan Fanny) berniat pulang. Karena memang baru kenalan, kami pun ngobrol ke sana-kemari dan tiba-tiba obrolan beralih ke topik donor darah. Ketika ditanya apakah saya pernah donor darah, saya jawab belum. Pertanyaan berlanjut apakah mau donor darah. Layaknya anak kecil yang ditawarin layang-layang, dengan semangat saya menjawab mau. Dan kurang lebih begitu juga dengan Krisna.

Setelah Ozka mendapatkan jawaban dari kami, dengan ringan dia menyalakan lampu sign ke kiri dengan tujuan PMI Kramat. Tak berapa lama, kami pun menginjakkan kaki di lantai 5 gedung PMI Kramat yang kemudian sontak saya berteriak, “Wow!” Lantai 5 yang digunakan untuk tempat melakukan donor ini ramai sekali –kalau tidak bisa dikatakan penuh.

Saya dan Krisna sedang mengisi formulir pendaftaran
Saya dan Krisna sedang mengisi formulir pendaftaran

Saya dan Krisna pun meminta formulir pendaftaran kemudian mulai mengisi sementara Ozka menjadi pemandu yang baik. Mencoba menjelaskan apa-apa yang harus kami isi serta menyerahkan formulir kepada siapa. Setelah menyerahkan formulir kepada petugas, kami pun menunggu bersama puluhan pendonor lain. Sembari menunggu dipanggil, kami mengobrol di sela-sela menonton Formula 1 dari satu-satunya televisi yang ada di lantai itu. Dalam obrolan saat menunggu itulah Ozka menceritakan banyak hal terutama proyek Shoebox dan #BreakfastOnTheRoad yang digagasnya. Saya cuma bisa merinding dan merasa tidak update karena baru tahu mengenai kedua proyek sosial tersebut.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai proyek Shoebox, silakan ke http://shoeboxproject.wordpress.com/

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, akhirnya nama saya pun dipanggil. Kali ini adalah proses pengecekan Hemoglobin. Setelah ditanya golongan darah dan tanggal lahir, jari tengah tangan kiri saya pun ‘ditembak’ dengan alat entah apa itu. Jari saya pun dipencet-pencet untuk mengeluarkan beberapa tetes darah di atas kertas dan lempengan sejenis kaca.

Petugas pun memasukkan lempengan tadi ke mesin dan beberapa detik kemudian mesin memunculkan angka 16.1. Di saat itu si petugas sibuk menggosok-gosok darah yang dipisahkan menjadi dua bagian setelah dicampur dengan cairan yang saya tidak tahu namanya. Karena ini adalah tahap I, maka selesai dari pemeriksaan ini saya kembali duduk menunggu untuk pengambilan darah.

Sekitar pukul 21.00 WIBB, nama saya dipanggil untuk tahap 2 yaitu pengambilan darah. Proses dimulai dengan cek tekanan darah dan pertanyaan apakah saya minum obat dalam 24 jam terakhir dan lain sebagainya. Selesai cek tekanan darah, ternyata saya harus menunggu untuk mendapatkan tempat yang baru saya dapat 25 menit kemudian.

Setelah berbaring di tempat pengambilan darah, seorang perempuan muda menanyakan golongan darah dan memastikan tanggal lahir saya. Sembari menunggu dimulainya pengambilan darah, saya nyeletuk, “Mbak, kenapa sih ditanya tanggal lahir? Memangnya tanggal lahir sama darah ada hubungannya ya?” Saya tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan si mbak, tapi saya bisa memastikan bahwa dari jawaban si mbak petugas darah dan tanggal lahir tidak berhubungan. :D

Sambil tersenyum kecil karena pertanyaan tadi, petugas memasang alat di tangan kiri saya dan menusukkan jarum yang terhubung dengan kantong darah di bawah. Dari titik jarum tersebut menusuk, saya dapat merasakan denyutan dengan cukup jelas. Dugaan saya sih karena darah yang masuk ke kantong darah yang ada di bawah saya itu.

Tangan kiri dan jarum yang terhubung dengan selang
Tangan kiri dan jarum yang terhubung dengan selang

Menit-menit pun berlalu dan petugas mulai menghentikan aliran darah ke kantong dengan gunting. Selang pun dipotong dan beberapa tetes darah dimasukkan dalam tabung mini yang katanya digunakan untuk sample. Setelah itu proses berlanjut ke pencabutan jarum. “Tahan dan tekuk di sini ya mas,” ujar petugas sambil menyerahkan kapas beralkohol yang telah menempel pada bekas lubang jarum. Saya pun menurut. Satu menit berlalu hingga petugas memasang plaster pada bekas jarum sambil menyarankan untuk melipat tangan kiri saya selama dua menit. “Kuatir bocor,” imbuhnya.

Selesai dari tempat pengambilan darah saya menuju meja pengambilan kartu donor untuk mengambil kartu dan multivitamin. Dari meja yang dijaga oleh seorang pria yang sibuk mengetikkan nama-nama dengan mesin ketik –you read that right– saya keluar dan kembali ke ruang tunggu. Sebenarnya saya bisa mendapatkan kopi, mi gelas dan/atau susu, namun saya mengabaikannya.

Jadi, begitulah donor darah pertama saya yang sukses tanpa hambatan. Semuanya berkat Ozka yang dengan baik mau mengantarkan saya ke PMI. Hari ini saya merasa sehat tanpa keluhan apapun. Lubang jarum telah sirna menyisakan sebuah titik kecil berwarna kemerahan. Oya, meskipun kami sampai di PMI sekitar pukul 19.00 WIBB dan baru pulang pukul 21.45 WIBB namun waktu total yang saya butuhkan untuk donor tak lebih dari 15 menit saja.

Sebenarnya saya sudah kepengen berdonor lagi. Sayangnya, di kartu donor tertulis, “Silakan datang setelah tanggal 30/11/2011.” Baiklah.

Buat yang belum donor, silakan ke PMI terdekat dan donorkan darahmu karena ada banyak sekali orang yang membutuhkan darah. Sekantong darahmu mungkin bisa menyelamatkan satu nyawa. Yuk!