blog, Featured, life

[NAKATRIP] Jalan-jalan ke Gunung Papandayan

Masih ingat kapan terakhir naik gunung? Saya tidak. Kalau tidak salah, kemungkinan besar perjalanan ke gunung terakhir saya adalah sewaktu duduk di bangku sekolah menengah. Semasa kuliah saya tidak lagi aktif di kegiatan pencinta alam walau setidaknya dua kali dalam setahun masih aktif menyusuri bukit, lembah, sungai serta berkegiatan outdoor lainnya. Itu pun terjadi antara tahun 2005-2008, karena tahun 2009 saya sibuk berkutat dengan skripsi. Dan kali ini, saya akan mendaki Gunung Papandayan yang katanya mudah bersama 23 teman lain satu kantor. Rame, kan?

Photo: Stefanus A
Photo: Stefanus A

Untuk memudahkan kami sebagai “wisatawan”, perjalanan ke Garut dilakukan dengan bus sewa yang mulai berangkat pada pukul 20:00. Kami sengaja berangkat sedini mungkin dengan maksud bisa tiba di Garut pagi-pagi dan bisa istirahat sejenek sebelum mulai mendaki.

Continue reading “[NAKATRIP] Jalan-jalan ke Gunung Papandayan”

blog

Cengkih: Rempah Asli Indonesia

Apalah artinya daerah yang kaya akan sumber dayanya jika tak dimanfaatkan dengan baik? Bukankah orang bijak berkata bahwa kita perlu belajar dari alam serta menggunakannya sepanjang kita memerlukan?

Kata orang, Indonesia ini kaya dan makmur, atau orang Jawa bilang gemah, dengan banyak hal yang salah satunya adalah rempah. Kata sejarah, karena rempah inilah negara-negara lain berlomba untuk menguasai Indonesia dan mengeruknya demi kepentingan mereka.

Berbicara mengenai rempah, hal yang pertama terlintas dalam benak adalah cengkih. Bagi Anda yang tak pernah melihat cengkih, tumbuhan ini memiliki pohon yang cukup tinggi sehingga para petani harus menggunakan tangga untuk memetiknya. Tanaman yang biasa hidup di dataran tinggi ini memiliki bunga yang pedas dan beraroma harum. Sebuah rasa dan aroma yang unik.

Saya harus akui bahwa di antara sekian banyak jenis rempah saya lebih menyukai cengkih. Saya bisa menjamin detik pertama ketika seseorang menanyakan rempah cengkih adalah jawabannya. Namun, meski kecintaan akan cengkih sedemikian rupa saya belum pernah memanjat pohon ini menggunakan tangga. Paling banter saya hanya main-main di bawahnya saja. :/

Secara otomatis, cengkih selalu sukses membawa saya ke dalam kenangan akan makanan yang dimasak dengan bumbu ini. Tidak ada jenis bumbu lain yang bisa membangkitkan kenangan dalam hidup seperti halnya cengkih. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi begitulah adanya.

nastar-cengkih

Saya tidak selalu mengkonsumsi kue nastar. Ketika masih kanak-kanan di kampung dahulu, kami biasa mengkonsumi nastar cengkih pada saat lebaran atau bertamu ke rumah saudara. Pada dasarnya nastar bukanlah kue favorit karena setelah menikmati kue ini saya harus rajin minum air untuk menghilangkan rasa yang menempel di mulut. Tetapi cengkih mampu membuat saya tak mempersoalkan urusan rasa kental dalam mulut tadi. Malah, saya menikmati nastar cengkih. Dan salah satu kebiasaan (buruk?) saya adalah menjilat cengkih yang ada pada nastar karena rasanya yang unik. :D

Sejujurnya, saya hanya beberapa kali menikmati nasi briyani karena biasanya berharga lebih mahal dari warteg. Tetapi jika membayangkan nasi briyani yang ada di Indonesia ini entah kenapa saya terbayang cengkih dan begitu juga sebaliknya.

Karena ukuran cengkih yang kecil, sebenarnya memisahkan antara cengkih dan nasi bukan perkara mudah bagi saya. Kenapa? Karena biasanya restoran yang menyediakan nasi briyani memiliki penerangan yang minim alias remang-remang. Entah kenapa restoran Timur Tengah itu sukanya begitu. Karena demikian itulah, cengkih pernah masuk bersama nasi ke dalam mulut. Mau tahu rasanya? Kalau belum sampai menggigit sih lumayan. Kalau sampai tergigit itu cengkih, maka apeslah.

Kalau tidak salah, bumbu yang termasuk dalam memasak rendang salah satunya adalah cengkih. Namun, saya harus akui bahwa rendang sama sekali tak mengasosiasikannya dengan cengkeh. Mungkin karena bumbu lain yang lebih kuat.

Selain makanan, cengkih tentu saja mengingatkan saya akan rokok kretek. Rokok khas Indonesia ini tidak hanya dikonsumsi oleh orang Indonesia, melainkan juga sampai di negara-negara Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Kakek saya (almarhum) yang perokok memang tak pernah ketinggalan menaburkan cengkih dalam setiap linting rokoknya. Entah karena sebab apa, yang pasti dia akan mencari cengkihnya sampai ketemu sebelum menyulutkan api ke lintingan rokok.

Cengkih sebenarnya digunakan dalam banyak sekali hal dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang mempercayainya sebagai anti nyamuk, mencegah ejakulasi dini, anestesi bagi ikan, hingga mengurangi sakit gigi. Beberapa hal yang menyangkut medis ini sebenarnya tanpa bukti ilmiah meski China dan India telah menggunakan cengkih sebagai obat sejak dahulu kala.

Meski cengkih memang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, ada baiknya Anda berhati-hati jika menyimpan minyak cengkih. Kandungan eugenol dalam minyak cengkih dalam kadar 5-10ml saja dapat membahayakan anak-anak.

Cengkih adalah rempah asli dari Indonesia. Sesuatu yang bisa saya sebut sebagai mahakarya di negara gemah rempah ini.

Sumber gambar (1) Wikipedia (2) OpenRice

blog, viewpoint

Mengejar Si Cabe Ijo yang Asli Hot

Terlahir dan dibesarkan sebagai seorang ndeso, salah satu bahan untuk makanan yang tidak bisa terpisahkan adalah cabe. Setiap kali makan memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga selalu ada cabe, entah bentuk sambal atau cuma cabe yang dikukus. Bahkan kalau tidak ada keduanya, bapak (dan aku) biasa ‘lalapan’ cabe. Hehe..

Ketika akhirnya merantau dan jauh dari rumah, saya masih berusaha menjaga kebiasaan ini. Karena tanpa cabe rasanya makanan tak terlalu pas di lidah. Setiap kali makan di warung saya pasti minta sambel. Kalau di restoran atau cafe ya.. sudah. Seadanya saja. Mau bagaimana? Mosok pergi ke dapur dan nyomot cabe? Nanti dikira maling. :|

Nah, kebiasaan makan sama cabe (atau bentuk lain dari padanya) ini tidak cuma berlaku pada nasi saja. Karena saya pun terbiasa lalapan cabe ketika mengkonsumsi makanan berat lainnya. Salah satunya adalah Indomie, mi instan sejuta umat ini. Kalau makan mi tanpa cabe itu saya merasa gagal menikmati mi instan. Beneran ini. Itulah kenapa ketika mendengar ada Indomie Cabe Ijo hati saya merasa senang bagai anak kecil kesampaian naik balon udara.

Setelah sekian lama dimana biasanya saya harus repot menyiapkan cabe ketika membuat mi instan, akhirnya datang masa tak perlu repot melakukannya. HORE momen lah.

WP_20130530_013

Maka ketika Kamis kemarin Dita mengajakku untuk mencoba Indomie Cabe Ijo di Roti Bakar Eddy, Senayan, ku iyakan dengan semangat 1946. Padahal cuaca hari itu pasca hujan lebat di sekitar Senayan dan mendung masih menggelayut. Tapi nggak manja. Hanya menggelayut saja.

Sebenarnya kami tak tahu persis di mana itu RBE Senayan. Kalau toh katanya terletak di lapangan ABC komplek Gelora Bung Karno, tak ada pula itu pengetahuan tentangnya dalam data yang tersimpan di otak ini. Lha saya malah baru tahu ada nama lapangan ABC itu. Ndeso tenan pokoknya.

Ya akhirnya nekat saja masuk ke stadion setelah membayar Rp. 5000,- kepada mbak-mbak yang duduk manis di kotak. Dengan pede kami melaju ke arah JCC hingga menemukan pedagang berjejer di sebelahnya. Karena alasan banyaknya pedagang berjejer tadi parkir di depan JCC pun kami lakukan dengan memberi uang tip kepada mas-mas parkir. Supaya nggak marah. :D

Menyusuri beceknya sisa hujan, kami hampiri warung-warung itu satu per satu dan membaca nama yang ada. Dari ujung pintu masuk sampai ujung dalam tak ada yang namanya RBE. Roti bakar merek lain pun tak ada karena isinya warung nasi, soto, sate, dan sejenisnya. Intinya, nihil.

Karena itu kami putuskan bertanya pada seorang bapak yang duduk dalam gerobaknya letak lapangan ABC dan RBE itu. Ooo.. ternyata salah lokasi. Tempatnya bukan di situ, tetapi di dekat pintu masuk Jalan Asia Afrika seberang TVRI. Ya sudah, terima kasih ya pak. Saya bilang gitu ke bapaknya sambil pergi.

WP_20130530_018

Singkat kata, tibalah di RBE dan masuk ke dalam untuk ngecek bener tidaknya. Papannya benar itu RBE, tapi ada yang tidak beres. Spanduk Indomie Cabe Ijo GAK ADA! Kelimpungan lah kami sambil garuk-garuk hape.

Singkatnya lagi, Dita bertanya pada yang jualan. Oh, ada. Tapi gak dipasang mbak. Soale tadi hujan. Mau foto ya? Nanti saya pasang. Kata mas-e gitu. Pfiuh!

WP_20130530_011
Spanduknya kejauhan kayaknya. :(

Setelah memesan dan menunggu beberapa lama akhirnya tiba jua Indomie Goreng Cabe Ijo dambaan setiap insan budiman. Sebagai blogger abal-abal, tentu saja foto sebelum makan telah dilakukan dan selanjutnya mulai nggarpu dan disuapkan ke mulut masing-masing. Alamak! Enak. Pedes-pedes gitu dan berasa cabe aslinya. Kalau saya lagi jadi host Wisata Kuliner pasti saat itu bilang maknyus sambil menyentuhkan jempol ke telunjuk.

Nah, selain berasa pedenya cabe ijonya tadi yang tidak ketinggalan adalah rasa bumbu Indomie goreng yang khas. Saya nggak tahu bumbu rahasia apakah itu tapi saya sih merasa sudah lama akrab. Tahu kan rasa khas itu? Kalau enggak, anggap aja tahu. Jangan riwil. :3

WP_20130530_016
Spanduknya cuma kelihatan ‘cab’ doang. Haha..

Endingnya tentu saja seperti yang diduga. Tak lama berselang ludes juga itu semangkuk cabe ijo. Entah apa yang dipikirkan bapak dan ibu yang duduk semeja dengan kami. Biar saja mereka bingung lah.

Bagi saya, Indomie Cabe Ijo ini menyederhanakan proses tapi tidak menghilangkan pengalaman. Yang saya perlu lakukan ya cukup membeli Indomie Cabe Ijo, masak air, masukin mie, tuang bumbu, aduk dan makan. Tak perlu membeli cabe atau ngunyah cabe tapi tetap mendapatkan rasa pedas dan aroma cabe itu. Hidup saya jadi makin gampang. Gitu.

Btw, menu roti bakarnya juga enak lho. Bukan. Bukan roti bakar Indomie. RBE maksud saya.

Eh, maaf tulisannya panjang. Maap, agak sengaja. Kamu suka Indomie juga nggak? Rasa apa? Kalau Cabe Ijo suka?

blog, Social Media, Technology

The Dark Side of Twitter, A Short and Rapid Moving World

Dari menyimpan banyak ilmu dalam otak menjadi mengandalkan Google dan Wikipedia sebagai gudang ilmu dan rujukan. Dan dari berpikir mendalam pasca membaca buku menjadi berselancar di antara tautan-tautan dalam browser dengan pemahaman ala kadarnya.

Era dan dunia Twitter semakin mengokohkan kebiasaan ini dengan sifatnya yang realtime dan pendek. Dua hal yang saling melengkapi dalam rangka menghilangkan dan menyingkirkan kebiasaan baik untuk otak dan ilmu pengetahuan.

Pendeknya tulisan membuat kita menjadi cepat menyimpulkan sesuatu sebagaimana menciptakannya. Sementara cepatnya informasi baru yang masuk dan tanpa jeda tidak memberikan kesempatan kepada otak untuk berpikir lebih dalam.

Full story: http://inet.detik.com/read/2013/05/15/081104/2246109/398/sisi-gelap-twitter-dunia-nan-pendek-serba-cepat?i991102105

blog, life

14 Hari Mencari Cinta, Eh, Gusi Sehat

Sudah lebih dari 14 hari berlalu sejak pertama kali menggunakan pasta gigi Parodontax ini. Semua ini saya lakukan atas nama mencoba menyembuhkan gusi yang biasa berdarah setelah menggosok gigi. Karena ternyata berdarah setelah menggosok gigi jika dibiarkan akan tidak baik hasilnya.

Rasa asin dan pahit masih menempel setiap kali selesai menggosok gigi. Namun, saya pantang mundur dengan satu tekad. Tidak boleh ada darah lagi.

teeth

Seperti kata dokter waktu penjelasan meet-up, biasanya pengguna pasta gigi ini akan terbiasa dengan rasanya setelah 14 hari. Dan, benar juga. Rasa pahit dan asin yang memang menjadi khas rasa Parodontax telah menjadi hal biasa bagi saya. Mungkin karena faktor witing tresno jalaran soko kulino. Mungkin juga ada jampi-jampi dalam pasta giginya. Saya sih ndak tau pasti. Hehe..

Sebenarnya rasa pahit itu sendiri membawa keberuntungan. Karena mulut menjadi pahit tadi, setelah menggosok gigi saya jadi agak enggan untuk makan lagi. Memang tidak sepahit mulut orang ketika sakit. Namun, karena pahit tersebut ada perasaan kalau mau makan mending nanti-nanti saja. Toh, mulut masih pahit.

Jika biasanya setelah menggosok gigi sebelum tidur dan melihat cemilan di meja ingin nyamber aja bawaannya, kadang disamber beneran sih, akhir-akhir ini enggak. Dengan mulut pahit, walau ada cemilan kerupuk mlinjo, kacang kulit rasa, dan seterusnya, biasanya hanya berakhir di kegiatan minum air putih. Sehat, kan?

Nah, lalu bagaimana dengan gusi berdarah yang dulu terjadi?

Sejujurnya, kadang saya melewatkan aktivitas gosok gigi sebelum tidur. Tahu kan, kadang pulang ke kos terlalu malam sehingga badan sudah capek dan begitu melihat kasur yang ada langsung rebahan dan pulas hingga pagi. Ada bolongnya kegiatan menggosok gigi dalam rangka menyembuhkan diri ini.

Iya, saya tahu itu salah. Tapi mau bagaimana? Wong memang kenyataannya seperti itu. Untungnya saya nggak punya dokter gigi sehingga nggak perlu mendengar omelannya karena saya bandel. Kalau pembaca adalah dokter gigi, maapkeun. Hehe..

Nah, karena menggosok gigi yang bolong tadi maka hasilnya setelah lebih dari 14 hari adalaaaaahhh… masih ada sedikit gusi berdarah. Tapi tidak sesering dulu.

Sebelum menjalani rutinitas dengan Parodontax ini, gusi saya berdarah tidak hanya ketika menggosok gigi. Namun juga ketika kumur-kumur saat berwudlu. Dan kalau berdarah setelah menggosok gigi, it happened every single time. Lalu, hasil setelah menggunakan selama beberapa hari adalah masih berdarah tetapi frekuensinya jauh berkurang. Berkumur saat berwudlu pun tidak pernah berdarah. Yayness!

Saya yakin, kalau saja lebih rajin menggosok gigi pasti hasilnya jauh lebih baik dan sesuai harapan yaitu tak ada lagi kasus berdarah setelah menggosok gigi. Yaa.. Sambil berjalan lah. Kan kadang saya juga sibuk. :P

Nah, ceritamu bagaimana? Sudah tak berdarah lagi?